Thursday, 17 June 2021


Herbisida Parakuat Aman untuk Pangan dan Petani

27 May 2021, 17:23 WIBEditor : Ahmad Soim

Abu Bakar, petani dari Jawa Timur, | Sumber Foto:Som

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Salah satu faktor pembatas dalam upaya peningkatan produksi pertanian adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang meliputi hama, penyakit dan gulma, di samping faktor pembatas lainnya seperti penurunan kesuburan lahan dan adanya perubahan iklim.

“Penggunaan herbisida parakuat untuk pengendalian gulma sesuai rekomendasi tidak menimbulkan masalah keamanan pangan,” kata Prof. Dr. Dadang Ketua Tim Peneliti dari IPB University dalam seminar nasional yang bertajuk “Tinjauan Aspek Ekonomi, Kesehatan, Keamanan, dan Stewardship Herbisida Parakuat di Indonesia” yang diadakan tanggal 25 Mei 2021.

Keberadaan gulma pada lahan pertanian dapat mengakibatkan kerugian pada tanaman budidaya karena adanya persaingan nutrisi, air, maupun ruang hidup sehingga dapat menyebabkan turunnya produksi tanaman yang dapat mencapai hingga 80 persen.  Untuk itu perlu berbagai upaya pengendalian gulma agar tanaman dapat berproduksi secara optimal sehingga petani mendapatkan keuntungan dan dapat hidup sejahtera.

Manajemen pengendalian gulma  terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu pemberantasan, pencegahan dan pengendalian. Berbagai teknik telah dipraktikan di masyarakat, baik secara manual maupun menggunakan herbisida. Selain mengendalikan gulma, aplikasi herbisida juga dapat mengurangi biaya input produksi terutama biaya tenaga kerja sehingga akan menghemat pengeluaran total. Kontribusi industri herbisida dalam perekonomian Indonesia relatif kecil dibandingkan dengan indutri kimia lainnya. Namun perannya dalam industri pertanian khususnya pangan dan perkebunan sangat strategis.

Salah satu bahan aktif herbisida yang diizinkan untuk diedarkan dan digunakan di Indonesia adalah parakuat diklorida yang secara umum dikenal sebagai parakuat.  Parakuat termasuk salah satu bahan aktif pestisida terbatas untuk mengendalikan gulma.  Sifat-sifat, profil dan pemanfaatan herbisida parakuat penting untuk diketahui.

BACA JUGA:

Parakuat merupakan herbisida non-selektif, berspektrum pengendalian luas (broad spectrum), bersifat kontak, dan dapat mematikan semua jaringan gulma berwarna hijau. Parakuat sebagai herbisida sudah diketahui tahun 1954. Namun, baru tahun 1962 herbisida parakuat diformulasikan menjadi produk komersial.

 Herbisida berbahan aktif parakuat dengan berbagai merk dagang telah digunakan di lebih dari 120 negara untuk mengendalikan gulma pada lebih dari 100 jenis tanaman budidaya dan telah memberikan kontribusi positif bagi peningkatan produktifitas pertanian.

Mengingat kontribusi positif herbisida parakuat ini, beberapa peneliti telah mengadakan kajian mengenai bahan aktif tersebut. Hasil dari kajian-kajian itu disampaikan dalam acara seminar nasional yang bertajuk “Tinjauan Aspek Ekonomi, Kesehatan, Keamanan, dan Stewardship Herbisida Parakuat di Indonesia” yang diadakan tanggal 25 Mei 2021.

Seminar ini diselenggarakan oleh The International Society for Southeast Asian Agricultural Sciences (ISSAAS) dengan metode hibrid (daring dan tatap muka) dan menghadirkan para peneliti serta praktisi pertanian. Tujuan seminar ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut aspek ekonomi dan kesehatan dari penggunaan parakuat, kontribusi parakuat terhadap keamanan pangan, dan manfaat pelatihan penggunaan parakuat terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani.

Acara dibuka Muhammad Hatta, STP, Direktur Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian mewakili Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian.  Menurutnya: pestisida merupakan sarana perlindungan tanaman yang sangat penting dalam sistem produksi pangan. Namun, pestisida dapat merugikan kesehatan dan lingkungan jika tidak digunakan dengan benar. Oleh sebab itu, para pemangku kepentingan diharapkan terus membantu para petani di Indonesia untuk dapat memanfaatkan pestisida dengan menekan risiko sekecil mungkin.

 “Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 43 tahun 2019 tentang Pendaftaran Pestisida, herbisida parakuat termasuk pestisida terbatas pakai yang mensyaratkan pelatihan bagi para penggunanya. Kementerian Pertanian mendorong semua pihak, terutama para pemegang pendaftaran, untuk terus melatih para petani agar dapat menggunakan produk ini dengan aman,” tambahnya.

Dr. Dedi Budiman Hakim, ekonom senior dari IPB University dalam paparannya mengungkapkan hasil penelitiannya tentang kontribusi herbisida parakuat terhadap produk domestik bruto (PDB) berdasarkan data dari empat tanaman utama, yaitu kelapa sawit, karet, kakao, jagung, dan padi. Kelima tanaman tersebut mewakili 80 persen penggunaan parakuat di Indonesia.

Berdasarkan analisis pendekatan secara langsung yaitu dengan menggunakan data-data penggunaan parakuat pada kelima tanaman itu di seluruh Indonesia, jelas Dedi dampak parakuat terhadap peningkatan nilai produksi (output) meningkat dari Rp 57,2 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 72,6 triliun pada tahun 2019. Ini berarti kontribusi parakuat terhadap PDB kelima tanaman tersebut meningkat dari 5,9 persen pada tahun 2015 menjadi 6 persen pada tahun 2019. Tetapi kontribusi parakuat terhadap total PDB Indonesia mengalami sedikit penurunan dari 0,5 persen pada tahun 2015 menjadi 0,47 persen pada tahun 2019.   

Kesehatan dan Kemanan Pangan

Dr. dr. Juliandi Harahap, peneliti senior dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mengadakan penelitian pendahuluan (pilot study) di salah satu perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara membandingkan status kesehatan para pekerja yang kesehariannya bekerja menggunakan pestisida (termasuk parakuat) dibandingkan dengan para pekerja yang tidak pernah menggunakan pestisida. Pemeriksaan kesehatan meliputi pemeriksaan darah lengkap, urine, fungsi paru-paru, fungsi ginjal, fungsi hati, dan foto rontgen toraks.

 Hasil pemeriksaan kesehatan berdasarkan parameter tersebut memperlihatkan bahwa angka-angka yang diperoleh masih berada dalam batas normal dan pada umumnya jelas Juliandi tidak ditemukan perbedaan signifikan antara status kesehatan kedua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sesuai rekomendasi tidak berpengaruh terhadap kesehatan.

Penelitian tim IPB University yang dipimpin oleh Prof. Dr. Dadang meninjau dampak penggunaan parakuat dari aspek keamanan pangan. Sampel hasil panen segar buah kelapa sawit dan kakao, serta biji jagung dan padi yang diambil dari berbagai lahan tanaman yang diaplikasikan parakuat dianalisis kandungan residunya. Hasil analisis memperlihatkan bahwa residu parakuat tidak terdeteksi atau berada di bawah batas deteksi pada limit of detection 0,0151 ppm.

“Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan parakuat sesuai rekomendasi tidak menimbulkan masalah keamanan pangan pada keempat komoditas yang dianalisis tersebut,” jelasnya.

Prof. Dr. Nanik Sriyani, ahli gulma dari Universitas Lampung memaparkan hasil penelitiannya tentang efikasi herbisida non selektif di pertanaman kelapa sawit, jagung, dan tanaman padi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa herbisida parakuat efektif mengendalikan berbagai jenis gulma di pertanaman yang diteliti tersebut. Dalam beberapa kondisi, herbisida parakuat lebih unggul efikasinya dibandingkan dengan herbisida non-selektif lainnya. Herbisida sistemik (glifosat) memberikan hasil gabah kering yg sedikit lebih rendah dibanding herbisida kontak (parakuat dan glufosinat), baik ketika penanaman dilakukan serentak ataupun ketika ditunggu sampai pengendalian gulma 80 persen.  Penggunaan herbisida haruslah sesuai dengan tujuan penggunaan untuk memberikan hasil pengendalian yang terbaik.

Manfaat Pelatihan bagi Petani

Dr. Lita Andayani, peneliti senior dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, memberikan tinjauan tentang dampak pelatihan stewardship terhadap pengetahuan dan keterampilan petani pengguna pestisida. Berdasarkan analisisnya terhadap beberapa parameter penggunaan pestisida pada saat menyiapkan larutan hingga aplikasi memperlihatkan bahwa pelatihan telah berhasil meningkatkan pengetahuan petani tentang pestisida dan dampaknya terhadap kesehatan serta perubahan perilaku yang signifikan dalam menggunakan alat pelindung diri (APD), dan tata cara menangani pestisida serta pemeliharaan kebersihan diri.

Faktor yang berperan dalam penggunaan pestisida yaitu umur, pengetahuan dan pengalaman, pendidikan, personal hygiene, alat pelindung diri dan pelatihan penangganan pestisida yang tepat dan benar. Jika faktor tersebut dapat dikelola dengan baik maka risiko paparan pestisida dapat dihindari.   

 Abu Bakar, seorang petani dari Jawa Timur, dalam kesaksiannya mengatakan bahwa beliau sangat terbantu dengan adanya pelatihan bagi petani. Pelatihan yang pernah dihadiri oleh beliau sangat bermanfaat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga dapat menggunakan pestisida termasuk herbisida parakuat dengan aman dan efektif.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

Reporter : Som
Sumber : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018