Thursday, 17 June 2021


Hot Water Treatment, Solusi “Usir” si Penghambat Ekspor

28 May 2021, 15:34 WIBEditor : Gesha

Proses Hot Water Treatment | Sumber Foto:Balai Besar Karantina Tanjung Priok

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ekspor tanaman hias yang kini banyak diminati eksportir Indonesia, sebagian ternyata mengalami penolakan dari Negara tujuan. Salah satu faktor yang menjadi alasan penolakan yaitu terdapatnya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Nematoda yang ternyata bisa diusir dengan teknologi Hot Water Treatment.

Nematoda  adalah sejenis cacing berbentuk bulat panjang atau seperti benang, yang bersifat parasit. Jenis nematoda yang berbahaya untuk tumbuhan salah satunya yaitu Radopholus similis ( R.similis ). 

“Nematoda inang utamanya adalah tanaman pisang. Negara tujuan ekspor seperti Taiwan dan China sangat berhati-hati karena nematoda ini bisa mengakibatkan kerusakan berat pada tanaman pisang sehingga produksi sangat berkurang. Dia bisa hidup di akar, sehingga tumbuhan yang terkena akarnya akan keropos, rusak," tutur Analis Perkarantinaan Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP), Abdul Mubaraq Irfan dalam International Dissemination Conference (IDC) dengan tajuk “GraTiEks dan Peluang Pasar Komoditas Tanaman Hias ke Amerika Serikat”, Selasa (25/5).

Selain pada tanaman pisang, temuan tim Karantina Tanjung Priok Wilayah Kerja Karantina Bogor, Nematoda ditemukan juga pada tanaman hias Anthurium chrystalinum dan Anthurium clarinervium yang banyak diandalkan untuk ekspor.

Nematoda ini masuk ke dalam jaringan tumbuhan, sehingga tidak mungkin tumbuhan dicacah atau dipotong-potong untuk mematikan nematoda. Solusi mengeliminasi nematoda adalah dengan Teknis Perlakuan Hot Water Treatment (HWT)

“Hot Water Treatment atau Hot Water Immersion atau Dipped Hot Water Treatment yang selanjutnya disebut perlakuan air panas adalah perlakuan karantina tumbuhan secara fisik dengan menggunakan air panas untuk meningkatkan suhu komoditas sampai tingkat tertentu untuk dipertahankan selama waktu tertentu. Yang efektif mengakibatkan kematian (mortalitas)pada semua stadia OPT sasaran,” kata Irfan.

BUTTMKP telah melaksanakan Hasil Uji Terap HWT pada beberapa jenis tumbuhan yaitu Polyscias sp : 50 derajat C selama 25 menit, Agave sp : 50 derajat celcius selama 25 menit dan 55 derajat celcius selama 15 menit, Alocasia sp : 45 derajat celcius selama 30 menit, dengan OPT target R.similis. 

“Tanaman Polyscias sp, Agave sp, dan Alocasia sp dibersihkan dari material tanah, setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam wadah, kemudian direndam dalam bak pemanas dengan suhu dan waktu yang telah ditentukan (T0). Pertahankan suhu hingga waktu perendaman tercapai (TA)," tuturnya.

Setelah suhu dan waktu tercapai, keluarkan dari bak pemanas, kemudian rendam di dalam air dingin dengan suhu 18-20 derajat celcius selama setengah waktu perlakuan (hydrocooling).

"Setelah hydrocooling selesai, tanaman kemudian dikering anginkan. Beberapa saat selanjutnya diberi perangsang akar di sekitar perakaran. Tanaman ditanam kembali pada media yang steril,” beber Irfan.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018