Friday, 18 June 2021


Demi Swasembada Bawang Putih, Balitbangtan Rancang Perbaikan Varietas

09 Jun 2021, 20:07 WIBEditor : Gesha

Tanam Perdana Bawang Putih di Baturiti | Sumber Foto:Puslitbang Hortikultura

TABLOIDSINARTANI.COM, Tabanan --- Kementan mencanangkan swasembada Bawang Putih pada tahun 2024 melalui Kebijakan Wajib Tanam. Untuk pemenuhan swasembada bawang putih tersebut, Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melakukan riset pengembangan bawang putih di beberapa sentra, salah satunya di Kecamatan Baturiti dan Jatiluweh Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.

"Permasalahan utama bawang putih lokal kita adalah produktivitas rendah, bersiung dan berumbi kecil, sulit dikupas sehingga kurang diminati konsumen, penampakan secara fisik kurang bagus, efisiensi produksi rendah sehingga harga relatif rendah dan kurang mampu bersaing di pasar, " ungkap Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbang Hortikultura), Balitbangtan Dr. Taufiq Ratule yang ditemui saat Tanam Perdana kegiatan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif Bawang Putih, Jum'at (4/6) di Banjar Batu Seta, Kabupaten Tabanan Bali. 

Sedangkan bawang putih impor memiliki keunggulan tersendiri dan disukai pasar, mulai dari produktivitas tinggi, bersiung dan berumbi besar, sehingga lebih diminati konsumen, Performa atau penampakan secara fisik lebih bagus dan lebih diminati konsumen, efisiensi produksi tinggi karena diusahakan secara intensif pada skala ekonomi, hingga harga relatif rendah. 

Meskipun begitu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian sudah bertekad agar bawang putih lokal bisa menjadi raja di dalam negeri melalui Kebijakan Wajib Tanam. Di sisi lain, perbaikan varietas terus dirancang agar bawang putih lokal bisa unggul. 

Karenanya, Puslitbang Hortikultura bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali pada Tahun Anggaran 2021 melaksanakan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) bawang putih di kawasan sentra pengembangan, salah satunya Kabupaten Tabanan. 

"Kegiatan RPIK bawang putih ini ditujukan untuk mendapatkan produk bawang putih dengah ukuran  besar (ukuran 5-7 cm) atau provitas lebih dari 20 ton/ha, " tambah Taufiq. 

Adapun beberapa upaya yang dilakukan, antara lain dengan merekayasa Varietas umbi besar dan teknologi perbanyakan benih untuk menghasilkan bawang putih berumbi besar, varietas umbi besar hasil eksplorasi dan perbaikan teknologi perbanyakan benih secara konvesional.

Kemudian dengan merekayasa teknologi perbanyakan benih melalui somatic embryogenesis (SE)Rekomendasi pengembangan bawang putih di Indonesia, hingga model pengembangan inovasi proliga (produksi lipat ganda).

Pada kawasan pengembangan bawang putih kali ini, pengembangan RPIK dilakukan dengan demfarm teknik proliga dengan best practice budidaya. Termasuk penggunaan varietas unggul Lumbu hijau dan Tawangmangu Baru di lahan seluas 6,0 ha di Kecamatan Baturiti dan Jatiluweh Kabupaten Tabanan Bali. 

Selain pengembangan proliga juga terdapat perbaikan varietas unggul bawang putih dataran tinggi dan menengah dengan beberapa perlakukan hormon pengatur zat tumbuh, pengaturan mulsa tanah dan teknik perbanyakan benih non-konvensional dengan cepat atau dengan istilah paket teknik "Proliga Super" agar diperoleh umbi besar dan provitas tinggi.

Cara ini tengah dilakukan pada demfarm lokasi Nglebak Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah dengan luas 1,3 hektar. 

Dalam kegiatan tanam perdana ini, selain dihadiri oleh Kapuslitbang Hortikultura Balitbangtan Dr. Taufiq Ratule, berbagai stakeholder lain seperti Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Bali Drs. I Made Urip, M.Si, Asisten 2 Setda Kabupaten Tabanan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Kepala Balai Penelitian Sayuran, Kepala BPSB-TPH Provinsi Bali, Penyuluh Pertanian dan POPT Kecamatan Baturiti serta petani dilibatkan dalam pelaksana kegiatan. 

"Selain tanam perdana, kegiatan RPIK ini juga melakukan analisis kebijakan pengembangan bawang putih melalui survei pemasaran dan perdagangan bawang putih impor, menelusuri Program APBN pengembangan Bawang Putih yang telah dimulai dari tahun 2015-2021, regulasi impor dan hingga penciptaan harga yang wajar sehingga menarik petani untuk melakukan budidaya,"jelas Taufiq. 

Sehingga bisa didapatkan rekomendasi kebijakan Kementerian Pertanian dalam mengatur swasembada bawang putih di Indonesia bersama dengan Kementerian atau Lembaga lain yang terkait.

 

 

 

 

 

Reporter : Rudi dan Ahmadi
Sumber : Puslitbang Hortikultura
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018