Sabtu, 01 Oktober 2022


IPB dan Prima Agro Tech Kembangkan Budidaya Padi Biopresisi

08 Agu 2021, 16:42 WIBEditor : Yulianto

Panen padi biopresisi hasil kerjasama IPB dengan Prima Agro Tech di Karawang | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Kondisi lahan pertanian kini banyak yang “sakit” akibat kurangnya bahaan organik, sehingga menghambat peningkatan produksi padi secara nasional. Perlu dilakukan inovasi untuk menyehatkan tanah demi keberlanjutan budidaya padi.  

Fakultas Pertanian IPB University berkolaborasi dengan PT Prima Agro Tech mengadakan kegiatan penelitian “Sustainable Bio-Precision Rice Farming” atau Bio Presisi Budidaya Padi Berkelanjutan dan berhasil panen padi pada Kamis (5/8). Panen dilaksanakan di Desa Situdam, Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Panen padi dilaksanakan secara simbolis oleh Dekan Faperta IPB University, Dr. Sugiyanta, Wakil Dekan Faperta IPB University, Dr Suryo Wiyono, Direktur Riset dan Marketing PT Prima Agro Tech, Gunawan Sutio, Batara Siagian dari Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Camat Jatisari Hj. Yusi Rusliani, beserta perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Kawarang.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Dr. Sugiyanta mengatakan, tim dari Faperta IPB dan Prima Agro Tech hampir setahun ini mendiskusikan tentang bio prospecting. Berdasarkan penelitian sudah ditemukan mikroba yang bermanfaat untuk bio fertilizer (pupuk organik)  dan bio pesticide (pestisida organik). Perguruan tinggi mendampingi pebisnis untuk teknologi pertanian yang benar, berdasarkan Good Agricultural Practices (GAP),” katanya.

Sugiyanto bercerita saat era Bimbingan Massal (BIMAS) produksi padi mengalami kenaikan dari 3 ton/ha menjadi 4 ton/ha. Namun dalam 10 tahun terakhir ini produksi padi rata-rata nasional stagnan dikisaran 5,1 ton/ha. Hal ini karena kondisi lahan yang jenuh dan sakit akibat unsur organiknya kurang dari 1 persen,” katanya.

Kondisi lahan yang kekurangan unsur hara karena penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan. Dengan formulasi bio fertilizer dan bio pesticide dengan menggunakan mikroba bermanfaat untuk mengembalikan kesuburan tanah. “Semoga teknologi ramah lingkungan ini bisa diadopsi petani, bermanfaat untuk meningkatkan produksi padi nasional dan secara ekonomi mensejahterakan petani,” kata Sugiyanta.

Wakil Dekan Faperta, Suryo Wiyono menambahkan, sustainable Bio Precision Rice Farming ini sebenarnya adalah ramuan teknologi yang mengkombinasikan antara mengurangi (optimasi) penggunaan pupuk kimia dengan penggunaan pembenah tanah yang alami, lalu dikombinasikan dengan bio fertilizer dan bio pestisida.

Selain hasil tinggi, biayanya masuk akal. Tapi kualitas juga harus kita cek, misalnya hasil beras utuh dan beras pecah berapa persen, residu bagaimana, dan sebagainya,” ungkapnya. Karena itu lanjut Suryo, IPB akan mengembangkan dan mengkaji terus, sehingga dihasilkan bentuk yang paling bagus.

Hasil penelitian ditemukan mikroba bermanfaat yang digunakan sebagai bagian dari komponen penelitian yaitu  mikroba dekomposer (bersifat selulotik, lignolitik, proteolitik), mikroba endofitik (membangun imun tanaman), mikroba entomopatogen (pengendali hama dan penyakit), mikroba biostimulant (penambat nitrogen, pelarut fosfat dan penghasil hormon pertumbuhan).

“Mikroba tersebut telah teridentifikasi, tertelusuri, efektif, dan aman. Selain itu digunakan juga komponen senyawa organik humat dan fulvat, serta pemupukan sintesik yang spesifik dan optimum,” ungkap Suryo.

Penelitian ini akan dilaksanakan di 5 wilayah di Jawa Barat (Karawan dan Subang), Jawa Tengah (Klaten) dan di Jawa Timur  berlokasi di Bojonegoro dan Ngawi. Daerah tersebut kondisi zona agro ekologi yang berbeda-beda.

Dari hasil panen ini diperoleh 9,2 ton/ha GKP (Gabah Kering Panen). Jika dikonversi menjadi 7 ton/ha GKG (Gabah Kering Giling). Varietas yang digunakan adalah IPB 3 S, Inpari 31, dan Inpari 32.

Dengan adanya inovasi bio presisi diharapkan dapat mendongkrak produksi padi nasional menjadi 7 ton/ha GKG yang kini masih berkisar 5,5 ton/ha GKG. Teknologi ini dapat menjadi solusi pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida sintetik sekaligus menjawab masalah kelangkaan pupuk dan dampak perubahan iklim global,” tutur Suryo

 Sementara itu Direktur Riset & Marketing PT Prima Agro Tech, Gunawan Sutio mengatakan, luas lahan pertanian saat ini semakin menurun, namun petani juga masih merasa kekurangan pupuk subsidi. Untuk itu, perlu ada inovasi untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya padi.

Kita harus selalu berionvasi untuk pertanian yang berkelanjutan. Mengapa Sustainable Bio Precision? karena lahan sudah jenuh dengan bahan kimia, sehingga petani perlu diberikan ilmu dan wawasan tentang bertani yang lebih presisi dari segi pemupukan dan pengendalian hama secara ramah lingkungan,” tuturnya.

Menurut Batara Siagian, Kementerian Pertanian pasti akan mendukung apabila suatu inovasi berhasil baik dan bermanfaat untuk petani. Namun setiap produk baru tersebut, harus diuji di laboratorium supaya diketahui tentang bio precision-nya.

Hal ini sebagai garansi bahwa apabila penggunaan sesuai yang direkomendasikan, sehingga akan menghasilkan pangan yang aman, tidak hanya volume yang meningkat tetapi juga mutu yang meningkat, kata Batara.

 

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018