Monday, 06 December 2021


Pertanian Biopresisi Solusi Benahi Lahan Sakit dan Produktivitas Stagnan

08 Aug 2021, 17:18 WIBEditor : Yulianto

IPB bersama Prima Agrotech ujicoba pertanian biopresisi di Karawang | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Produktivitas padi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir cenderung stagnan hanya berkisar 5 ton/hektar (ha) gabah kering giling (GKG). Salah satu penyebabnya kondisi tanah semakin jenuh dan kesuburan semakin berkurang karena kehilangan unsur hara.

Minimnya unsur hara lahan pertanian, karena penggunaan pupuk sintetis dan pestisida yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan perilaku petani yang cenderung tidak rasional mengonsumsi pupuk urea (sintetis) melebihi dosis rekomendasi Kementerian Pertanian.

Jika kondisi itu dibiarkan, maka dikhawatirkan ancaman kerusakan ekologi yang makin meluas. Melihat kompleksitas persoalaan ini, Fakultas Pertanian IPB University berkolaborasi dengan PT Prima Agro Tech, produsen penyedia soslusi berbasis mikroba pertanian mengembangkan penelitian Sustainable Bio Precision Rice Farming atau teknologi bio pertanian presisi.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University Dr Sugiyanta mengatakan, teknologi bio pertanian presisi sebagai terobosan peningkatan provitas, efisiensi biaya produksi dan ramah lingkungan berkelanjutan. Teknologi ini terdiri dari kombinasi penggunaan mikroba bermanfaatdan optimasi penggunaan pupuk sintetis, pembenah tanah, serta pemanfaatan pestisida biologi dalam pencegahan dan pengendalian hama penyakit.

Penelitan yang dilakukan mulai awal tahun 2021 ini menggunakan perbandingan penggunaan benih padi Inpari 31 dan 32 dengan PB3S yang ditanam seluas 1 hektare (ha). Dari hasil ujicoba teknologi tersebut berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 9 ton gabah kering panen (GKP) atau setara 7,2 ton gabah kering giling (GKG).

Tentunya, pencapaian produksi itu lebih besar dari produktivitas padi nasional sebesar 5,12 ton GKG. Penggunakan pupuk sintetis tetap harus diberikan, tapi tidak terlalu banyak," kata Sugiyanto usai panen padi dari demplot di Desa Situdam, Balonggandu, Jatisari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (5/8).

Sugiyanta menegaskan, teknologi pertanian presisi bukan semata menekankan peningkatan produktivitas hasil panen. Namun peningkatan pendapatan petani yang diikuti pula perbaikan kualitas dan turunnya biaya sarana produksi usahatani.  

Khusus daerah endemik mengalami Organisme Penyerang Tanaman (OPT) Sugiyanta mengatakan, harus dipetakan profil hamanya. Langkah penyehatan ekosistem dilakukan secara bertahap dengan memperbesar jumlah mikro organisme yang berfungsi menjadi predator terhadap hama tanaman. “Jadi kita tidak bisa menggunakan pestisida kimia. Ibarat menggunakan bensin. Nanti terbakar semua,” tegasnya.

Sementara itu, Suryo Wiyono, Ketua Tim Penelitian yang juga Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB University menambahkan, peningkatan produktivitas panen padi di lahan uji coba ini tidak terlepas dari peran mikroba bermanfaat yang masing masing memiliki fungsi berbeda.

Seperti mikroba dekomposer yang berfungsi mengurai organisme mati dan mengubah residu organik menjadi siklus nutrisi yang menunjang siklus kesuburan tanah. Selain itu, mikroba endofitik memiliki peran membangun imun pada tanaman.

Kemudian mikroba entomopatogen (pengendali hama dan penyakit) hingga mikroba biostimulant (penambah Nitrogen), pelarut fosfat dan penghasil hormon pertumbuhan). Adapun mikroba dari komponen senyawa organik humat dan fulvat serta pemupukan sintesik yang spesifik dan optimum. “Hasil penelitian masing-masing mikroba itu diyakini efektif dan aman,” ujarnya.

Dikatakan, penelitian teknologi bio presisi padi berlangsung selama dua musim tanam dari tahun 2021 hingga 2022 yang berlokasi di lima sentra budidaya padi. Di Jawa Barat berlokasi di Karawang dan Subang, Jawa Tengah (Klaten) dan Jawa Timur (Bojonegoro dan Ngawi), serta lingkungan terkondisikan di stasiun lapang penelitian IPB.

Sementara itu Direktur Riset dan Marketing PT Prima Agro Tech, Gunawan Sutio mengatakan, peneliitian bio pertanian presisi tanaman padi menekankan formula kebutuhan tanah dan pengendalian hama penyakit membutuhkan inovasi baru. Intinya petani tidak akan mengadopsi apabila biaya input sarana produksi yang lebih mahal.

Kita memberikan solusi komponen yang lengkap yang ramah lingkungan. Inovasi teknologi harus mampu menekan biaya input produksi atau paling tidak setara yang dikeluarkan petani,” ujarnya.

Menurutnya, pertanian biopresisi ini berpeluang menekan biaya produksi hingga 33 persen. Bahkan hasil penelitian penggunaan bio pestisida demplot di Bojonegoro, Jatim menekan biaya pengendalian hama hingga 100 persen.

Bio pestisida presisi, sambung Gunawan, bukan hanya menekankan presisi volume pemberian mikroba, namun juga ketetapan waktu pengaplikasiannya. Penekanannya lebih kepada upaya preventif pengendalian hama.

Penelitian kita lakukan sebanyak dua-tiga kali perlakuan. Jika tren hasilnya lebih baik, maka dilanjutkan dalam hamparan luas tanah dengan formula yang lebih fokus," ujarnya.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018