Sunday, 24 October 2021


Fokus Perbaiki Kualitas Tanah, Pemprov Aceh Terapkan GEUPEUAMAN

19 Sep 2021, 15:26 WIBEditor : Gesha

Pemprov Aceh kenalkan Geupeuaman | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Pengembangan pertanian di Indonesia termasuk Aceh dihadapkan pada permasalahan kualitas tanah yang umumnya tergolong rendah. Menyadari hal ini, Pemerintah Provinsi Aceh mencanangkan  Gerakan Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah Pra Tanam (GEUPEUAMAN) yang fokus memperbaiki kualitas tanah.

"Produktivitas lahan sawah di Aceh saat ini menunjukkan penurunan, hanya mampu menghasilkan padi rata-rata 5,6 ton/ha dari potensi 8 - 9 ton/ha," ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh (Kadistanbun) Aceh Cut Huzaimah saat launching Gerakan Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah Pra Tanam (GEUPEUAMAN) Gampong Jumpoi, Adan Mutiara Timur, Pidie, belum lama ini. 

Di sisi lain, kebutuhan beras di Aceh semakin meningkat setara dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk saat ini yaitu 680.000 ton/tahun. Sedangkan luas lahan baku sawah semakin berkurang seiiring semakin gencarnya alih fungsi lahan pertanian yang terjadi. Mencermati hal tersebut, pihaknya mencoba memperkenalkan upaya perbaikan lahan sawah melalui Gerakan Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah Pra Tanam yang disingkat dengan nama GEPEUAMAN.

Kedepan, dengan kerjasama dan dukungan, dirinya berharap semua pihak ikut mendorong untuk merubah perilaku para petani agar mau membiasakan diri melakukan pemanfaatan sumber daya alam untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah sebelum tanam sebagai usaha meningkatkan produksi dan produktivitas padi dan secara perlahan mengurangi ketergantungan pupuk anorganik untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.

Ia mengharapkan seluruh stakeholder dan sumber daya yang ada untuk saling terhubung dan mampu bergerak bersama - sama untuk mencapai tujuan yang diharapkan. "Untuk para petani mari kita biasakan diri untuk melakukan kegiatan ini karena “dengan GEPEUAMAN, hasee padee meulimpah, peng meutamah, lingkungan tetap ramah” (Red. Hasil padi berlimpah, uang bertambah dan tetap ramah lingkungan)," harapnya.

Acara dilaksanakan di Gampong Jumpoi Adan Pidie, dihadiri Bupati dan unsur Forkopinda, Kadisnak Aceh selaku mentor Proyek Perubahan GEPEUAMAN, Coach Proyek Perubahan GEPEUAMAN, Kadistanpan Pidie, Kepala BPTP Aceh, Sekretaris, Kepala Bidang/UPTD lingkup Distanbun Aceh, Sekretaris, Kabid lingkup Distanpan Pidie. Selain itu turut didampingi tenaga ahli Distanbun Aceh, Muspika Kecamatan Mutiara Timur Kabupaten Pidie, Penyuluh, POPT, dan PBT, Imum Mukim, Keujruen Blang, Keuchik beserta perangkat desa lingkup kecamatan Mutiara Timur.

Perlakuan Pra Tanam

Cut menyoroti, penurunan produktivitas lahan tersebut disebabkan beberapa hal antara lain karena penglolaan lahan sawah yang kurang tepat guna. Seperti, penggunaan pupuk kimia secara terus menerus tanpa diimbangi pemberian pupuk organik sesuai kebutuhan. "Sehingga menyebabkan lahan sawah semakin masam," timpalnya. 

Kondisi tersebut juga mempengaruhi keseimbangan hara di dalam tanah. Perubahan kemasaman tanah akan mempengaruhi aktifitas mikroorganisme tanah dalam melakukan fungsinya sebagai dekomposer bahan organik. Penggunaan pestisida buatan pabrik akan menyebabkan pencemaran tanah dan air sehingga akan terganggu aktifitas mikroorganisme tanah.

Untuk itu, perlu dilakukan usaha meningkatkan kandungan hara tanah sawah dengan cara mudah dan murah yaitu dengan pengembalian sisa panen ke dalam tanah berupa jerami dan pengunaan pupuk hayati sebagai dekomposer untuk mengdekomposisi bahan organik, sehingga akan menambah sumber hara bagi pertumbuhan tanaman padi sebagai pupuk organik.

Hasil dekomposisi bahan organik juga akan meningkatkan jumlah persentase kenjenuhan basa (KB) dan hasil akhir dari dekomposisi bahan organik akan  meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang mampu menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman padi. "Potensi hasil produksi padi 8 - 9 ton/ha akan mampu kita raih bila kita mampu menyediakan hara bagi pertumbuhan padi secara maksimal,"  ungkapnya.

Cut menjelaskan, lahan sawah kita sudah deposit dengan pupuk P karena setiap musim tanaman kita melakukan pemupukan secara terus menerus , padahal untuk satu kali musim tanam, unsur P hanya mampu dimanfaatkan oleh tanaman sebanyak 30% sementara itu 70% sisanya tinggal di dalam tanah namun tidak tersedia bagi tanaman karena diikat oleh unsur Aluminium (Al) dan Besi (Fe), akibat  peningkatan kemasaman tanah. "Untuk melepaskan unsur P dari Al dan Fe dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik yang akan menghasilkan unsur P bisa lepas dan tersedia bagi tanaman," bebernya.

Sementara itu untuk produksi N dan K sebagian mengalami penguapan dan tercuci yaitu untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan usaha peningkatan produktivitas lahan sawah melalui pembenahan tanah dalam upaya memperbaiki tanah - tanah yang rusak dan kritis.

Penggunaan pembenah tanah sebelum dilakukan penanaman merupakan cara yang dapat ditempuh untuk mempercepat proses pemulihan kualitas lahan. "Namun demikian, perlu dilakukan pemilihan bahan yang tepat yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan produksi tanaman, dan tidak menyebabkan pencemaran," ujarnya.

Pemanfaatan sumberdaya yang ada seperti jerami atau bahan organik yang murah dan mudah diperoleh diyakini akan mampu meningkatkan produktivitas lahan sawah setelah melalui perbaikan sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah dengan adanya asupan bahan organik dan sekaligus akan meningkatkan produksi padi.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018