Sunday, 24 October 2021


Bersama Petani Subang, IPB dan Prima Agro Tech Giatkan Pertanian Biopresisi

11 Oct 2021, 16:19 WIBEditor : Gesha

Bersama petani Subang, giatkan pertanian biopresisi | Sumber Foto:Indri

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Pertanaman padi ramah lingkungan (basis Biopresisi) disosialisasikan Fakultas Pertanian IPB University berkolaborasi dengan PT Prima Agro Tech kepada para petani di Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, Rabu (6/10).

“Kami hadir di sini mengantarkan suatu teknologi yang dapat membantu petani meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan. Teknologinya sederhana, dari hasil penelitian yang cukup lama, yaitu menggunakan mikroba yang bermanfaat, " ungkap Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Dr. Sugiyanta. 

Dengan tema Sustainable Bio-Precision Rice Farming, sosialisasi berbentuk diskusi di sore hari ini dihadiri sekitar 50 orang petani setempat untuk berbagi informasi dan pengalaman mengenai konsep pertanian presisi dan berkelanjutan yang ramah lingkungan guna meningkatkan produktivitas padi nasional.

Sugiyanta menjelaskan, IPB sejak zaman BIMAS tahun 1960-an telah bersama-sama petani memperbaiki produktivitas padi. "Kini IPB bekerjasama dengan PT Prima Agro Tech mensosialisasikan hasil penelitian ini,” tambahnya. 

Dekan ini juga menjelaskan, biopresisi adalah teknologi produksi padi dengan memanfaatkan mikroorganisme dan bahan-bahan alami. Kegunaannya antara lain sebagai dekomposer/ pengurai, biofertilizer atau pupuk hayati, membantu penyediaan unsur hara seperti fosfat, nitrogen, kalium, dan sebagainya. Termasuk, pengendali hama atau pestisida hayati, serta sebagai biofungisida mengendalikan penyakit padi seperti patah leher, blas.

"Di masa yang akan datang, teknologi “hijau” ini akan semakin berkembang, dengan tujuan optimalisasi pupuk, mengurangi penggunaan pestisida sintetik yang tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan, tetapi akan menjadi hambatan bila kita akan ekspor ke luar negeri,” tambah Wakil Dekan Faperta IPB, Dr. Suryo Wiyono.

Lebih lanjut Suryo Wiyono mengatakan bahwa kegiatan ini berlangsung di beberapa sentra budidaya padi yaitu Jawa Barat (Karawang dan Subang), Jawa Tengah (Klaten), dan Jawa Timur (Bojonegoro dan Ngawi), dan berlangsung selama 2 musim tanam dari tahun 2021 hingga 2022.

“Pertanian dengan teknologi biopresisi ini akan menciptakan ekosistem yang sehat, lahan yang sehat, dan dengan kembali ke alam, menghargai alam, tentunya membuat kehidupan kita lebih sehat,” kata Ketua Senat Fakultas Pertanian IPB University, Prof.Dr. Budi Mulyanto.

Tanpa Pestisida Kimia

Pertanaman dengan teknologi bopresisi di Subang menggunakan kali ini varietas IPB 3S dan Inpari 32 serta perlakuan “full bio”, yakni tanpa pestisida kimia untuk pengendalian hama penggerek batang, wereng batang coklat, dan penyakit blas di lahan seluas 1 Ha.

Hasilnya, perkembangan tanaman di Subang menunjukkan hasil yang sangat baik dibandingkan musim-musim sebelumnya dan perkiraan hasil panennya akan mencapai 7 – 8 Ton gabah kering panen (GKP). 

“Kami dari Dinas Pertanian sejak tahun 2010 sudah mensosialisasikan pestisida nabati atau pertanian ramah lingkungan, tetapi petani sangat sedikit yang percaya. Sekarang kita bisa membuktikan secara akademis dan secara fakta. Pertanian ramah lingkungan membuat kita “berteman” dengan musuh-musuh alami, " urai M. Anwar dari UPTD Pengelolaan Pertanian Kecamatan Blanakan.

Diakuinya, pada awal musim demplot sempat terkena serangan wereng pada umur pertanaman padi 2 – 3 minggu, namun dapat dikendalikan dengan penyemprotan pestisida nabati untuk wereng sebanyak 2 kali. "Penggerek batang juga dapat dikendalikan dengan biopestisida. Tanpa pestisida kimia, ternyata sawah bisa panen, sampai padi umur 67 hari tidak ada serangan hama penyakit,” katanya.

Beragam produk PT Prima Agro Tech juga telah dikenal oleh petani setempat, khususnya Metarizep dan BT Plus. Metarizep adalah Bio Insektisida berbentuk Tepung Larut (WP) dan efektif sebagai biokontrol Wereng Batang Coklat (WBC), Walang Sangit, Kutu Daun, dan Thrips. Sedangkan BT Plus merupakan bio insektisida berbentuk tepung larut (WP) yang efektif untuk biokontrol ulat penggerek batang padi, ulat grayak, ulat daun, thrips dan nematoda.

Selain paket teknologi Biopresisi, disosialisasikan juga varietas IPB 3S yang tergolong padi tipe baru. Untuk menanam syaratnya jarak tanam rapat karena anakan sedikit tetapi malainya panjang bisa menghasilkan mencapai 300 butir per malai, tanamnya 5 – 7 bibit per lubang. Varietas IPB 3S menghasilkan nasi dengan tekstur pulen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018