Sunday, 24 October 2021


Teknologi Pascapanen, Kunci Penting Nilai Tambah Pertanian

12 Oct 2021, 18:49 WIBEditor : Gesha

Kepala Balitbangtan melihat langsung teknologi pascapanen yang telah dihasilkan | Sumber Foto:Junaedi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Untuk memenuhi kebutuhan pangan, aspek pascapanen termasuk pengolahan menjadi kunci penting dalam memberikan nilai tambah pertanian. Sekaligus memberikan daya dukung ekonomi bagi pelaku usaha. 

"Memperkuat ketahanan pangan seharusnya tidak hanya untuk mencegah kelaparan,tetapi juga untuk memberikan kehidupan dan lingkungan yang lebih baik," sebut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ketika membuka Konferensi Internasional bertajuk The 3rd International Conference on Agricultural Postharvest Handling and Processing (ICAPHP), Selasa (12/10). 

Mentan juga menyebutkan, Badan Pangan Dunia (FAO) merilis bahwa sebanyak 40 persen penduduk dunia tidak mampu menjangkau/membeli pangan yang sehat. Tetapi di sisi lain, sekitar 14 persen pangan dunia hilang karena teknik panen dan pascapanen yang tidak tepat, dan 17 persen di antaranya terbuang percuma di tingkat konsumen.

Untuk itu, perlu ada peningkatan kapasitas produksi tetapi mengurangi kehilangan dan pemborosan makanan, dan meningkatkan nilai tambah secara merata, penting untuk mencapai ketahanan pangan dan gizi nasional bahkan dunia. 

"Kunci peningkatan nilai tambah dan daya saing, ada pada penguasaan dan penerapan teknologi inovatif, khususnya pascapanen Pertanian, " sebut Kepala Balitbangtan, Fadjry Jufri. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai bagian Kementerian Pertanian telah mengembangkan berbagai inovasi penanganan pascapanen pertanian dan teknologi pengolahan.

Sebagai contoh, Badan Litbang Pertanian telah berhasil mengembangkan nano-bees wax coating technology untuk memperpanjang umur simpan buah mangga yang diekspor dari enam hingga delapan hari dalam kondisi normal hingga dua puluh delapan hari setelah perawatan. 

Bahkan dengan penerapan terintegrasi, teknologi pascapanen dapat mengurangi kerugian cabai merah dari 20-30 persen menjadi 3- 5 persen. 

"Ini jelas menunjukkan bahwa penerapan teknologi tidak hanya dapat memperluas pasar, meningkatkan keuntungan,tetapi juga mengurangi potensi kehilangan dan pemborosan makanan, " jelasnya. 

Digitalisasi, otomatisasi, dan penerapan kecerdasan buatan Teknologi (AI) juga mampu memberikan lompatan dalam efisiensi dan daya saing menuju pertanian maju, mandiri dan modern. Oleh karena itu, Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan sejumlah inovasi cerdas, seperti alat deteksi cepat berbasis AI untuk menentukan kualitas beras dan kontaminasi aflatoksin pada produk pertanian.

Dalam pemanfaatan hasil pertanian produk sampingan dan limbah, Balitbangtan sendiri sudah memproduksi dan pengaplikasian biosilika dari sekam padi dapat mengoptimalkan produksi padi secara berkelanjutan serta mengurangi limbah pertanian.

Untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi, Balitbangtan juga telah mengembangkan model agroindustri pangan lokal yang inovatif di beberapa provinsi, seperti Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah.  

Selain itu, teknologi penanganan dan pengolahan beras biofortifikasi zinc (Inpari IR Nutri Zinc juga telah dikembangkan untuk mendukung program pengurangan dan pencegahan stunting.

"Dengan adanya prosesing dan aneka teknologinya ini, bisa memacu peningkatan ekspor komoditi pertanian indonesia ke luar negeri, " sebut Fadjry. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018