Wednesday, 01 December 2021


Teknologi BPRL Ungkit Produktivitas Padi Petani Purwakarta

08 Nov 2021, 15:56 WIBEditor : Yulianto

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, H. Dedi Mulyadi, S.H., Senin (8/11) saat panen padi program BPRL di Purwakarta. | Sumber Foto:BPTP Jabar

TABLOIDSINARTANI.COM, Purwakarta ---Teknologi Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL) menjadi langkah solutif terhadap berbagai ancaman kondisi lahan, seperti kerusakan tanah akibat tingginya penggunaan bahan kimia, serangan penyakit dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi produksi pangan. 

Teknologi BPRL memprioritaskan komponen bahan-bahan alami yang tentu lebih aman bagi lingkungan. Komponen teknologi tersebut diantaranya varietas unggul baru, pupuk hayati, oestisida nabati, dan penggunaan pupuk anorganik sesuai rekomendasi. Dengan BPRL, potensi hasil benih menjadi lebih optimal.

"Pertumbuhan padinya jauh lebih bagus. Akar-akarnya lebih panjang, serangan hama bisa dikendalikan, dan produktivitasnya kalau dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya ada peningkatan, alhamdulillah, gak nyangka," kata Ajid Hidayat, Ketua Kelompok Tani Makmur, Desa Gandosali, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta saat Temu Lapang dan Panen Perdana Padi Inpari 33 bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, H. Dedi Mulyadi,  Senin (8/11). 

Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Dr. Ir. Fery Fahruddin Munir, M.Sc. mengatakan, Teknologi Budidaya Padi Ramah Lingkungan baik untuk menekankan efisiensi pupuk anorganik. Selama ini kerap petani menerapkan metode pemupukan yang salah. Anggapan semakin banyak pupuk anorganik semakin baik adalah hal keliru. 

"Selain sayang karena banyak pupuk terbuang artinya banyak modal yang sia-sia, hal ini juga mengancam mikroba yang ada dilingkungan. Maka penggunaan BPRL ini dapat menjadi hal yang baik," katanya.

Sementara itu, Kepala BPTP Jabar, Dr. H. Yiyi Sulaeman, SP., M.Sc., menyampaikan, rata-rata produktivitas padi kini mencapai 8,60 ton/ha GKP. Padahal musim panen yang sama pada tahun sebelumnya petani hanya mendapat 7 ton/ha GKP. Dengan peningkatan hasil panen ini, ia pun berharap petani dapat lebih sejahtera serta kelak Poktan Tani Makmur dapat menjadi penangkar benih unggul padi Inpari 33.

Karena itu, dalam rangka menyediakan benih padi berkualitas dan unggul, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat bekerja sama dengan Komisi IV DPR RI telah melakukan serangkaian kegiatan pengembangan benih unggul dengan mengaplikasikan teknologi Balitbangtan.

Kang Dedi Mulyadi mengakui pentingnya peran petani. "Karena petanilah pangan bisa tersedia bagi kita semua. Dalam bertani ada ekosistem yang hidup (dan) saling menghidupkan, artinya dimana ada rantai makanan yang saling membutuhkan, kita harus menjaganya jangan sampai hilang,” kata pria yang khas dengan ikat kepala atau iket Sunda.

Tak hanya Dedi, penen perdana Teknologi Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL) ini juga turut dihadiri Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kab. Purwakarta, Camat setempat, serta petani dan stakeholder lainnya.

Reporter : NRP/CH (Humas BPTP Jabar)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018