Monday, 06 December 2021


Didukung Teknologi, Organik Bukan Kemunduran Pertanian

19 Nov 2021, 14:12 WIBEditor : Gesha

Ketua Umum Asosiasi Bioagroinput Indonesia (ABI), Gunawan Sutio, SP | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan -- Siapa bilang bertani secara organik itu jadul?Dengan teknologi yang makin maju, dan kesadaran manusia untuk mengkonsumsi bahan pangan yang sehat, Pertanian organik kini menjadi kebutuhan. 

"Pertanian yang memanfaatkan unsur organic yang terdapat di alam, dianggap sebagian orang “jadul” alias ketinggalan zaman. Persepsi ini yang harus diubah, sebab pertanian organic bahkan berteknologi tinggi, justru mendatangkan banyak manfaat terutama untuk kesehatan tanah, tanaman, dan manusia yang mengonsumsi hasil pertanian," ungkap Ketua Umum Asosiasi Bioagroinput Indonesia (ABI), Gunawan Sutio, SP dalam Webinar bertajuk “Kiat Menjadi Organik Enterpreneur” pada Selasa (16/11).

Namun sayangnya, Pertanian organic di Indonesia masih terkendala karena banyak pelaku usaha organic yang berpikir bahwa organic itu suatu hal yang sifatnya konvensional. "Mereka banyak yang berpikir cara organik berarti mundur ke 60 tahun yang lalu, tanpa teknologi, cuma mengambil bahan yang ada di alam, produksi rendah, dan sebagainya. Persepsi ini yang harus diubah," jelasnya. 

Gunawan menjelaskan, ada potensi penghematan biaya usaha tani yang bisa dilakukan petani jika menggunakan bahan organik. Seperti diketahui, komponen utama budidaya tanaman organik adalah sumber nutrisi tanaman dan pengendalian hama penyakit. "Pengendalian secara organic berpotensi menghemat biaya perlindungan tanaman antara 30 persen hingga 50 persen, " sebutnya. 

Hama pada tanaman seperti Ulat Daun (FAW), Ulat Penggerek Batang, dan Wereng Batang Coklat (WBC) kerapkali meresahkan petani, demikian juga penyakit tanaman seperti Kresek dan Blas serta Layu Fusarium ternyata mampu dikendalikan dengan insektisida organic berbahan aktif Bacillus thuringiensis, Serratia sp, Metarhizium aniopilae, dan Beauveria bassiana. Sedangkan penyakit tanaman dapat dikendalikan oleh fungisida organic berbahan aktif Streptomyces thermovulgaris, Geobacillus sp, dan Trichoderma harzianum.

"Alam telah menyediakan sumber hara makro primer sebagai sumber nutrisi budidaya organic. Sumber hara makro primer secara sintetis adalah Nitrogen, Fosfat, Kalium. Secara alami unsur-unsur tersebut terdapat dalam Asam Amino, beberapa jenis mikroba, Azolla dan ganggang hijau, guano, batuan fosfat, senyawa humat, garam kalium magnesium sulfat, garam kalium dan ekstrak rumput laut, " benernya. 

Tidak hanya itu, limbah pertanian yang mengandung Nitrogen, Fosfat, dan Kalium yang organik terdapat pada kompos hijauan, kompos limbah rumah tangga, kompos kotoran ternak unggas dan ruminansia, fermentasi urin ternak dengan bakteri nitritasi dan nitrasasi, limbah sisa tanaman, dan abu bakaran janjangan sawit.

Sumber nutrisi tanaman berupa sumber hara makro sekunder sintetis seperti Kalsium, Magnesium, dan Sulfur, terdapat secara alami pada kapur, dolomit, gypsum, guano, garam Epsom (MgSo4), garam kalium magnesium sulfat, dan belerang tambang.

Sumber hara mikro (Mn,Zn,Cu,B,Co,Fe,Si) yang secara sintetis adalah senyawa sulfat, oksida, karbonat, silikat,dan asam borat secara alami juga terdapat pada ekstrak rumput laut, asam amino, asam fulfat, dan azomite.

Agroinput Organik

Diakuinya, Petani organik mampu menyediakan unsur hara, namun belum tentu mampu menyediakan produk pengendalian hama penyakit tanaman yang organic, karena kesibukan dalam usaha tani mulai proses awal hingga panen yang memerlukan waktu cukup lama, mencapai beberapa bulan.

Karenanya, harus ada peran serta lainnya untuk menyediakan agroinput organik untuk petani dan mudah terjangkau. Salah satunya peran Universitas Pertanian. “Universitas mempunyai alumni yang banyak, tersedia sumber daya manusia dan sarana pendukung yang memadai, sehingga memudahkan pelaku usaha pertanian organic, cukup datang ke kampus terdekat,” kata Gunawan yang juga sebagai Direktur Riset dan Marketing PT Prima Agro Tech.

Tetapi di sisi lain, Gunawan yang juga alumni Fakultas Pertanian USU tahun 1991, menjelaskan bahwa SNI Organik kurang jelas tentang komponen apa saja yang boleh dipakai dan yang tidak boleh dipakai, sehingga diperlukan revisi agar lebih jelas, tidak ada ambigu di kalangan pengusaha produk pertanian organic. Padahal, SNI Organic juga sebagai pendukung peluang usaha bagi Universitas di seluruh Indonesia, sebagai Lembaga sertifikasi sendiri.

Diakui Gunawan, kini sudah ada beberapa perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Bioagroinput Indonesia (ABI), antara lain PT Agritek Tani Indonesia, PT Agrosid Manunggal Sentosa, PT Artha Prima Humatindo, PT Bio Industri Nusantara, PT Bio Sarana Indonesia, PT Green Life Bioscience, PT Indo Acidatama, PT Prima Agro Tech, PT Petrokimia Kayaku, dan PT Petrokimia Gresik.

“Kami dari industri membantu menyediakan input produksi pertanian organic ini berupa pupuk dan pestisida, dengan keunggulan jaminan viabilitas mikroba (daya simpan 3 tahun), jaminan virulensi (kemampuan infeksi mikroba yang digunakan), jaminan kemurnian (mikroba sampai identitas strain tanpa kontaminan), tersedia untuk volume besar, serta harga dan logistic terjangkau, “ tuturnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018