
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (kanan) bersama Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry (kiri) di fasilitas Indoor Vertical Farming
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Perubahan iklim tentunya tak bisa dihindari bagi dunia pertanian. Langkah adaptasi menjadi bagian utama agar pertanian mampu berkelanjutan. Adaptasi ini tentunya harus dilandasi inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Sumberdaya Manusia di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai penggeraknya.
Dunia diakui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, jumlah manusia kian bertambah. Diprediksi penduduk dunia bertambah 6-9 milyar orang dalam jangka waktu 10-20 tahun yang akan datang. Indonesia setiap tahunnya penduduknya bertambah 3 juta orang. Di sisi lain, sektor pertanian (pangan) kian terancam keadaan tanah yang semakin sempit karena alih fungsi setiap tahunnya mencapai 150 ribu hektar.
Ancaman kedua adalah climate change, pemanasan global, efek Gas Rumah Kaca (GRK) membuat dunia tidak baik-baik saja bahkan mengancam dunia pertanian. Contohnya, gletser yang mencair menyebabkan kenaikan tinggi muka air dan intrusi air laut masuk sampai 40-80 km dari pesisir yang merupakan daerah pertanian. "Kalau tidak ada makanan, bisa apa?," tukas Mentan SYL saat Peringatan Hari Tanah di Bogor beberapa waktu silam.
Diakui SYL, untuk menghadapi permasalahan ini Litbang memegang peranan yang sangat penting. Seperti perakitan varietas baru yang tahan intrusi air garam, varietas baru yang produktivitasnya tinggi serta ragam inovasi yang mampu menghadapi tanah yang semakin menyempit dan penduduk yang kian bertambah. "Tidak ada pertanaman tanpa riset, science dan teknologi. Harus kerja lebih kuat, banyak potensi karakter tanah yang bisa dilakukan melalui beragam penelitian untuk bisa berfungsi dan berproduksi," tegasnya.
Karenanya, inovasi teknologi harus terus dilahirkan Balitbangtan. Salah satunya dengan pendekatan baru artificial intelligence (AI), robot construction serta IT Programme. "Tidak bisa kita lagi andalkan dengan matahari dan lahan terbuka, harus presisi. Misalnya dengan urban farming, green house, sungkup dan mulsa harus ditingkatkan untuk menahan curah hujan berlebih dan kemarau panjang," tuturnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry mengatakan Badan Litbang Pertanian senantiasa menghasilkan inovasi tenologi pertanian sebagai jawaban atas tantangan pembangunan pertanian masa kini dan masa yang akan datang. "Inovasi teknologi bidang pertanian telah menjadi isu penting untuk terus dikembangkan, termasuk di dalamnya Sistem Pertanian Presisi (Precision Agriculture). Pertanian presisi merupakan sistem pertanian dengan input menggunakan teknologi yang akurat untuk mengurangi masalah pemborosan pemanfaatan sumberdaya," bebernya.
Dirinya menambahkan, Di era Pertanian Presisi, ketepatan dalam pengaturan waktu tanam, kebutuhan pupuk, air, cahaya, suhu, dan waktu panen memerlukan data dan informasi yang akurat dan cepat. Data dan informasi yang akurat dan cepat tersebut sangat dibutuhkan untuk mengambil keputusan. Untuk keperluan tersebut, penggunaan tele-monitoring berbasis Internet of Thing (IoT) kini menjadi sebuah kebutuhan.
"Di Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), kita tampilkan inovasi Indoor Vertical Farming dan Smart Screen House tadi, kita semua dapat merasakan bagaiman IoT telah diimplementasikan dalam aktivitas pertanian. Melalui IoT, penggunaan sumberdaya menjadi sangat akurat dan terukur. Namun, hal penting di atas semua itu adalah produk pertanian yang dihasilkan memiliki kualitas terjamin dengan nilai jual yang tinggi," bebernya.