
Drone D 16
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Penggunaan pestisida yang berlebihan tidak hanya berdampak bagi lingkungan, namun juga mempengaruhi biaya operasional usaha tani khususnya di perkebunan sawit. Karena itu, diperlukan teknologi penyemprotan berupa drone pestisida yang bisa mengefisienkan penyemprotan pestisida.
Pemeliharaan tanaman yang benar dan teratur adalah kunci untuk menghasilkan panen berkualitas. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Namun, kondisi lapangan dan kurangnya sumber daya manusia menjadi kendala dalam pemeliharaan, seperti pengendalian hama dan gulma.
Pengaplikasian pestisida secara manual oleh manusia, memiliki efek samping bagi penggunanya. Mulai dari iritasi ringan di kulit, iritasi mata bahkan menyebabkan keracunan. Karena itu, dibutuhkan teknologi drone yang dimodifikasi untuk melakukan tugas penyemprotan pestisida. Penyemprotan dengan drone lebih aman bagi manusia dan lingkungan karena air dan pestisida yang digunakan lebih sedikit.
Disisi lain, kecepatan dan ketepatan manusia dalam mendeteksi hama tidak seakurat AI (Artificial Intelligence). Salah satu industri yang sering mengalami gagal panen akibat hama adalah kelapa sawit. Sekitar 25 persen tanaman mati dan periode panen akan tertunda sampai 1 tahun.
Melihat manfaat yang begitu besar bagi pengendalian hama sawit, sebuah perusahaan penyedia alat untuk kecerdasan tanaman, termasuk sistem kontrol perkebunan untuk memantau kondisi lokasi melalui informasi udara dan tanah bernama Avirtech Solution menciptakan spray gimbal pertama di dunia dengan tingkat ketelitian penyemprotan yang akurat hingga radius 10 cm. Dibandingkan dengan akurasi drone biasa yang tidak selalu tepat akibat hembusan angin.

"Dengan demikian, kami mengkombinasikan Drone Aviro D16 dengan geoposisi RTK presisi tinggi dan mulut pipa pada gimbal agar tepat sasaran," ungkap Avirtech Head of Spraying Division, Lianto.
Dirinya menambahkan, Drone Aviro D16 dilengkapi dengan mulut pipa penyemprot gimbal dan pipa tambahan untuk mempermudah mencapai titik hama di pohon yang tidak dapat dijangkau oleh manusia.
Drone Aviro D16 memiliki sensor yang dapat membaca kesehatan pada tanaman baru secara cepat. Cara ini ribuan kali lebih cepat dan efektif daripada inspeksi manual yang dilakukan manusia. Ketika mendeteksi titik hama, drone akan segera menyemprotkan pestisida dengan akurasi penyemprotan 98 persen.
Dalam drone ini ada tiga alat kecerdasan tanaman lainnya yang mencakup pertanian pintar, pencitraan,dan penyiraman berkelanjutan memberikan data yang akurat yang dapat membantu pebisnis mengurangi biaya operasional dan meningkatkan hasil produksi.

Avirtech bekerja sama dengan berbagai industri perkebunan, mulai dari perkebunan skala besar seperti kelapa sawit dan tebu, hingga petani beras, jagung, kopi dan kakao untuk mendukung pertanian berkelanjutan yang lebih baik di masa depan. “Ada banyak permintaan untuk otomatisasi berkelanjutan seperti itu. Saat ini kami sedang mengkajinya dengan beberapa klien.” tambah Lianto.
Pengaplikasian drone seperti Aviro D16 ini diakui Chief Operating Officer Avirtech, Wilson menjadi model pertanian berkelanjutan untuk membawa ke revolusi pertanian selanjutnya. "Kami berharap dapat membawa industri pertanian Asia Tenggara lebih maju dan baik," harapnya.