Saturday, 29 January 2022


Urban Farming Menghijau di Tengah Beton Jakarta

13 Jan 2022, 11:29 WIBEditor : Gesha

Urban Farming di DKI Jakarta | Sumber Foto:Housing Estate

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Suasana asri nan hijau kini semakin bermunculan di tengah gersangnya betonisasi DKI Jakarta. Seiring dengan semangatnya pecinta dan penggiat pertanian perkotaan (urban farming) dan tentu saja didukung oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Dinas KPKP) DKI Jakarta.

Hujan rintik dan gemericik air terdengar dari rooftop Dakphoniqu menjadi nada yang menenangkan di tengah bisingnya Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Rosalinde Margaretha, pemilik Rooftop Dakphoniqu Kecamatan Jatinegara mengelola budidaya selada dan kailan dalam rak berukuran 8 m x 3,5 m. 

Rosalinde menjadi satu dari 18.716 warga yang menggeluti urban farming yang tersebar di 320 lokasi di seluruh wilayah DKI Jakarta. Para penggiat urban farming inilah menjadi oase di tengah betonisasi yang menjadi rumah dan kegiatan bagi 11,25 juta jiwa atau sekitar 4,13 persen dari seluruh total penduduk Indonesia. 

Urban farming ini juga menjadi strategi dalam pemenuhan kebutuhan pangan DKI Jakarta dengan harga yang terjangkau untuk semua masyarakat sehingga dapat tercipta ketahanan pangan. Seperti diketahui, 99 persen bahan pangannya dipenuhi dari luar DKI Jakarta. 

"Jangan pernah alasan karena tidak ada lahan, masyarakat DKI Jakarta tidak bisa melakukan aktivitas pertanian. Jika masing-masing masyarakat DKI Jakarta melakukan usaha berkebunnya sendiri, maka bisa setidaknya mengurangi kebutuhan pangan masyarakat dari luar DKI Jakarta," tutur Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian  (Dinas KPKP) DKI Jakarta, Suharini Eliawati dalam Webinar "Urban Farming di tengah Perubahan Iklim" yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (12/01).  

Berbagai kegiatan budidaya pertanian dilakukan, mulai dari menanam sayuran daun (sawi, bayam, kangkung, pakcoy, kol dll), sayuran buah (cabai, terong, dll), tanaman obat keluarga (lidah buaya, jahe, kunyit, dll), buah-buahan (mangga, pisang, rambutan, belimbing, dll), hingga tanaman hias. "Namun pertanian perkotaan ini bukan hanya pertanian sendiri, ada perikanan bahkan peternakannya, sehingga bisa terjadi produksi pangan," tegasnya.  

Tak hanya jangka pendek sebagai pemenuhan pangan, urban farming juga diakui Elly menjadi upaya Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim bahkan kerusakan lingkungan.  Urban farming ini disebut Elly, mampu menyediakan sumber makanan sebagai bagian ketahanan pangan, menumbuhkan pekerjaan bagi masyarakat, mendaur ulang sampah bahkan dampak lebih besarnya adalah menambah tutupan hijau di kawasan DKI Jakarta untuk mencegah perubahan iklim. 

"Untuk mewujudkan DKI Jakarta sebagai Kota Berketahanan, telah disusun Desain Besar Perkotaan Tahun 2018-2050. Diharapkan 30 persen ruang terbuka hijau (RTH) telah ditanami tanaman hortikultura, sehingga 30 persen kebutuhan pangan masyarakat bisa terpenuhi sendiri," bebernya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018