Sunday, 26 June 2022


Begini Cara Pengairan Basah Kering

01 Mar 2022, 13:12 WIBEditor : Gesha

Proses AWD | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Petani diharapkan bisa menerapkan pengairan basah kering (Alternate wetting and drying/AWD) untuk menekan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Bagaimana caranya? 

Teknologi pengairan AWD ini dikembangkan oleh IRRI (International Rice Research institute) pada tahun 2009 di Philipina. Dari hasil penelitian Balai Penelitian Lingkungan (Balingtan) di Kebun Percobaan Balingtan, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan bahkan dapat dihindari, salah satunya dengan menerapkan teknologi AWD. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan air irigasi sebesar 17 - 20 persen dan menekan emisi gas rumah kaca antara 35 - 38 persen. 

Bahkan penerapan CSA dengan pengaturan air AWD di 3 kabupaten dapat meningkatkan produksi hingga 1 ton/ha dibandingkan dengan pengairan terus menerus. Penurunan emisi GRK di tiga kabupaten di atas, masing-masing mencapai 23, 14, dan 7 persen dibandingkan budidaya padi konvensional.

AWD sangat mudah dan sederhana. Cara menerapkannya di lahan sawah yaitu dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang disebut piezometer. Dengan ukuran pipa tersebut maka permukaan air dapat terlihat dari luar.

Selanjutnya pipa paralon dilubangi kecil-kecil di semua sisinya sehingga air mudah masuk dan keluar. Pipa dibungkus dengan kain kasa untuk mencegah tanah masuk ke dalam pipa. Piezometer dipasang dengan membuat lubang pada tanah dan membenamkannya hingga tersisa 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Air akan masuk melalui lubang celah pipa yang dipendam di dalam tanah.

Piezometer harus ditempatkan di bagian yang mudah diakses dari lapangan dekat dengan pematang, sehingga mudah untuk memantau kedalaman airnya. Kedalaman air hendaknya mewakili kedalaman air rata-rata dari lahan sawah. Piezometer tidak boleh dipasang di tempat yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Penerapan AWD dapat dimulai pada 1-2 minggu setelah penanaman benih padi. Apabila terdapat banyak gulma, AWD dapat ditunda selama 2–3 minggu untuk membantu menekan pertumbuhan gulma.

Manfaat lain dari pengeringan lahan sawah selain dapat membantu mengurangi pertumbuhan gulma juga dapat mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman seperti wereng dan keong sawah, menciptakan lingkungan yang kaya oksigen yang baik untuk pertumbuhan perakaran serta mengurangi pembentukkan gas metana.

Cara pengairan yang dilakukan pada sistem ini, mula-mula sawah diairi setinggi 5 cm di atas permukaan tanah, dibiarkan beberapa hari hingga air turun secara alami sampai 15 cm di bawah permukaan tanah. Setelah air turun, pengairan dilakukan kembali. Jumlah penurunan air akan bervariasi antara 1 hingga 10 hari, tergantung pada jenis tanah, cuaca, dan tahap pertumbuhan tanaman.

Penentuan waktu dan frekuensi pergantian pembasahan dan pengeringan bergantung pada tahap pertumbuhan padi, cuaca dan kondisi lahan sawah yang disesuaikan oleh sistem budidaya padi yang digunakan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018