Monday, 08 August 2022


Peningkatan Produktivitas Melalui Penerapan Budidaya Padi Ramah Lingkungan

15 Jul 2022, 09:05 WIBEditor : Gesha

Penerapan Budidaya Padi Ramah Lingkungan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Teknologi Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL) kini menjadi andalan untuk meningkatkan produktivitas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Sebenarnya, bagaimana penerapan budidaya padi ramah lingkungan ini?

Membahas teknologi budidaya padi ramah lingkungan (BPRL) akan lebih mudah bila dimulai dengan membahas beberapa komponen teknologi jajar legowo super yang telah diketahui lebih dahulu oleh masyarakat seperti penggunaan varietas unggul baru (VUB) dan benih bermutu, penggunaan pupuk organik in situ (perlakuan biodekomposer untuk mengolah Jerami), penggunaan pupuk hayati pada perlakuan benih (perlakuan agrimeth), pengunaan pestisida nabati yang mempunyai senyawa aktif yang digunakan secara terjadwal (penggunaan bioprotektor) yang merupakan beberapa komponen jajar legowo super yang digunakan juga pada teknologi budidaya padi ramah lingkungan.

Sedangkan, pada buku Budidaya Padi Ramah Lingkungan terbitan IPB Press, teknologi BPRL, berbeda sedikit dengan teknologi jajar legowo super. Teknologi BRPL pada  tanah yang subur menggunakan jarak tanam yang lebih rapat dan pada tanah yang kurang subur menggunakan jarak tanam yang kurang rapat.

Pada teknologi BPRL, sistem tanam legowo yang disarankan adalah tipe 2:1 dengan jarak tanam optimal 25cmx 12,5cm x 50cm pada lahan subur dengan target terdapat kenaikan jumlah tanaman hingga 1/3 dari total tanaman sebelumnya. - Penggunaan caplak bergerigi sangat disarankan untuk memudahkan penanaman. 

Sedangkan, penggunaan pupuk kimia tidak difokuskan untuk mengejar target produksi.  Takaran  pupuk kimia terbatas dengan jumlah dosisnya digunakan hingga 50?ri rekomendasi pemupukan umumnya sehingga pupuk kimia menjadi suplementatif bagi kesuburan tanah. 

Dosis pupuk NPK yang digunakan sebanyak 100-150 kg/ha dengan waktu pemberian sebagai pupuk dasar (7 hari setelah tanam/hst) sebanyak 25 kg/ha dan pupuk kedua pada 30hst sebanyak 75 kg/ha setelah penyiangan.  Dosis Urea yang digunakan sebanyak 50-100 kg/ha dengan penambahan urea ke lahan setiap pengecekan menggunakan Bagan warna daun (BWD). Pemupukan urea diawali di pupuk dasar 7hst sebanyak 50kg/ha. 

Pemberian urea selanjutnya dimulai setelah 25 hst jika penilaian BWD secara rata-rata dibawah nilai 4 dengan dosis minimal 50kg/ha.  Pengujian BWD dilakukan setiap 7-10 hari hingga tanaman berumur 50hst atau bila tanaman 10% telah mengeluarkan bunga.

Penggunaan herbisida berlebih juga mulai dikurangi pada teknologi BPRL dengan lebih menggunakan peralatan manual seperti menggunakan penyiangan landak/gasrok untuk penyiangan gulma serta diakhiri dengan pencabutan gulma.  Waktu penyiangan minimal tiga kali, yaitu diumur tanaman 15-17 hst, 30 hst dan 50-57 hst. 

Perlakuan pemberian pestisida nabati dapat dengan membeli formula berbahan nabati (bioprotektor) atau mengolah minyak cengkeh dan sariwangi menjadi pestisida nabati.  Jadwal pemberian bioprotektor dilakukan 2-3 hari di pembibitan sebelum bibit dipindahkan ke lapang, sewaktu pemupukan dasar 7-8hst, kemudiaan disemprot kembali setiap 7 hari hingga 2 minggu sebelum panen.  Dosis bioprotektor 5 ml untuk setiap 1 liter dan larutan yang digunakan sebanyak 5liter/ha namun bila ada ledakan hama maka jumlah dosisnya dapat 2-4x dengan selang waktu perlakuan selama 3 hari perlakuan.

Perlakuan pestisida nabati di lahan demplot padi varietas Cakrabuana di Sukabumi telah mampu menurunkan serangan wereng sehingga masih dapat diperoleh hasil panen sebanyak 7-8 ton GKP (BPTP Jabar).  Kuntadi (2016) juga menyarankan bila penggunaan bioprotektor sebaiknya dinaikan dosisnya menjadi 10% (10 ml per 1 liter) untuk dapat mematikan tungau lebih dari 50?n dosisnya 20% bila digunakan sebagai akarisida (kutu). 

Pengunaan bioprotektor mempunyai kemampuan mematikan bila digunakan sebagai racun kontak dengan metode semprot dibandingkan di tempelkan atau diaplikasikan sebagai fumigant. 

Aplikasi pengolahan jerami menjadi pupuk organik in situ telah dilakukan di demplot padi di Kabupaten Garut dan Ciamis.  Bila penerapan teknologi BPRL diterapkan dengan baik seperti yang dilakukan di demplot Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut maka hasil panennya dapat meningkat sebanyak 2,4 ton/hektare.  Ketua Poktan Salem Sari, Yuyun Wahyuna mengatakan bahwa rata-rata panen di kawasan tersebut tanpa BPRL hanya berkisar 6 ton/hektare, saat ini panen yang dihasilkan mencapai 8,43 ton/hectare. 

Aplikasi BPRL di Kelompok Tani Sri Mukti, Desa Puloerang, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menerapkan sistem tanam jajar legowo, biodekomposer Agrodeko, pupuk Hayati Agrimeth, dan pesitisida nabati Bioprotektor sehingga dari hasil ubinan varietas Inpari 32 diperoleh 7,23 ton/ha meningkat hasilnya dari kondisi existing sebesar 5,67 ton/ha. 

Peneliti Dr. Yiyi Sulaeman mengungkapkan di dalam podcast pertanian dan teknologi yang dipandu oleh Dani Medionovianto (penyuluh BBP2TP) bahwa keberhasilan penerapan teknologi BPRL harus didukung dengan ketersediaan bahan pendukungnya seperti peralatan dan bahan (benih, biodekomposer, bioprotektor, dan pupuk hayati agrimeth) serta mudah dapat diakses oleh petani. 

"Teknologi yang diberikan ke petani juga harus sesuai dengan budaya, keyakinan dan menguntungkan sehingga  dapat lebih mudah diterapkan. Tujuan akhir dari teknologi BPRL selain peningkatan produksi adalah perbaikan kesuburan tanah melalui teknologi yang tidak merusak dan berdampak negatif ke lingkungan.  Dengan cara itu,  kemampuan petani dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang sedang terjadi semakin meningkat dan tangguh (resiliency)  melalui penerapan teknologi alternatif dalam lingkup pertanian cerdas iklim," jelasnya. 

 

 

Reporter : Yogi Purna Rahardjo dan Yiyi Sulaeman
Sumber : BBP2TP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018