Wednesday, 17 August 2022


Waspadai Faktor Hadirnya Virus Padi !

26 Jul 2022, 13:17 WIBEditor : Yulianto

Petani padi di Jepang | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) wereng batang cokelat pada padi kini semakin kompleks. Bukan hanya sebagai hama, WBC juga menjadi pembawa virus penyebab penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa yang akan menjadi masalah pada periode tanam berikutnya.   

Organisme Penggangu Tanaman (OPT) pada padi memang menjadi momok menakutkan bagi petani. Sebut saja wereng hijau yang menularkan penyakit tungro, wereng punggung putih yang membawa virus Southern Rice Black Streak Dwarf Virus SRBSDV) dan wereng batang cokelat yang selain sebagai hama utama juga menularkan penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa.  

Akademisi dari Departemen Hama dan Penyakit Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Dr. Ir. Sri Sulandari menceritakan pengalamannya ketika pengamatan di wilayah Klaten pada 2011. Saat itu terjadi serangan wereng batang cokelat yang sangat luas dan luar biasa hingga menyebabkan padi yang sudah masuk fase generatif menjadi kering.   

“Ini berlangsung sampai beberapa musim tanam, petani mengalami  kerugian yang sangat besar karena mengalami puso,” ungkap Sri saat menjadi pembicara pada Webinar Propaktani dengan tema “Kenali dan Kelola Virus Pada Tanaman Padi” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Gejala yang ditemukan menurut Sri Sulandari, mirip penyakit tungro. Namun setelah dilakukan pengujian lebih lanjut serangan tersebut positif Rice Grassy Stunt (RGS) atau Kerdil Rumput. “Kalau tungro biasanya gejalanya kuning sampai oranye dan jumlah anakannya sedikit, tapi ini anakanya banyak,” tegasnya.  

Menurutnya, kerdil hampa dan rumput disebabkan spesies yang berbeda. Rice Grassy Stunt Virus (RGSV) untuk kerdil rumput dan Rice Ragged Stunt Virus (RRSV) untuk kerdil hampa. “Kedua virus bisa menginfeksi besama-sama pada rumpun yang sama. Jika terjadi infeksi ganda, maka gejala yang ditimbulkan juga menjadi parah,” katanya mengingatkan.  

Kedua penyakit tersebut kata Sri, ditularkan Wereng Batang Cokelat (WBC) secara resisten. Bahkan satu ekor WBC dapat menularkan virus selama hidupnya. Semua stadia nimfa sampai imago dapat menularkan virus. “Begitu juga jantan dan betina dapat menularkan virus juga,” ujarnya.

Jika populasinya tinggi, maka virus akan menyebar dan yang paling mudah ke pembibitan. Kemudian akan menjadi sumber inokulum utama dari bibit ditanam. Namun akan berbeda jika virus tersebut melakukan permindahan secara aktif dengan nalurinya untuk mendapatkan tanaman muda dan akan melakukan inokulasi tanaman. “Untuk penyebaran pasif bisa dilakukan melalui lampu, kendaraan. alat transportasi, bibit, pakan ternak dan angin,” jelasnya.

 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018