Wednesday, 17 August 2022


YAHIjau dan Unicef Latih Fasilitator Program Peulara

01 Aug 2022, 15:46 WIBEditor : Gesha

Yayasan Aceh Hijau (YAHijau) dan Unicef menyelenggarakan pelatihan bagi 25 fasilitator muda untuk program Penguatan Lingkar Remaja Aceh (PEULARA) di 10 desa di Banda Aceh | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Para remaja perlu mendapat dukungan dan diberi kesempatan dengan baik dalam tumbuh kembangnya. Pasalnya, ini akan menjadi aset berharga bagi bangsa. Mereka akan menjadi penggerak kemajuan dan pemimpin di masa depan. Begitu juga sebaliknya, remaja yang tidak memperoleh lingkungan yang mendukung akan menjadi ancaman dan menciptakan generasi yang apatis.

Menanggapi hal tersebut Yayasan Aceh Hijau (YAHijau) dan Unicef menyelenggarakan pelatihan bagi 25 fasilitator muda untuk program Penguatan Lingkar Remaja Aceh (PEULARA) di 10 desa di Banda Aceh, berlangsung di Riverside Resort, Lhok Nga Aceh Besar 2-7 Juli 2022.

Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan Program PEULARA kerjasama YAHijau dengan UNICEF dan Pemerintah Aceh bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengorganisasian remaja agar dapat berkontribusi aktif dalam pembangunan. Pada tahun ini, program ini dilanjutkan di 3 kabupaten/kota intervensi sebelumnya (Banda Aceh, Sabang dan Aceh Singkil) serta di 2 kabupaten baru Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Direktur Yayasan Aceh Hijau, Syarifah Marlina AlMazhir, menyampaikan potensi dan tantangan yang di hadapi remaja serta perlunya peran berbagai pihak untuk mendukung agar dapat menjadi remaja yang aktif. 

Berdasarkan data statistik tahun 2021, jumlah remaja (usia 10 – 19 tahun) di Provinsi Aceh mencapai 960.486 jiwa, hampir 20 persen dari total jumlah populasi Aceh.  "Jumlah yang signifikan ini merupakan potensi besar apabila remaja bisa berkontribusi aktif dalam pembangunan. Namun juga dapat menjadi tantangan apabila tidak ada upaya strategis untuk mendukung dan membuka ruang partisipasi yang bermakna bagi mereka," ujarnya. 

Syarifah menambahkan, remaja juga mengalami tantangan tersendiri. Di usia ini mereka mengalami transisi dengan perubahan fisik, mulai berinteraksi dengan lawan jenis, dan memiliki kecendrungan merasa rendah diri.  Pada masa inilah remaja perlu mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari keluarga dan orang - orang sekitar untuk bisa mengekspresikan dirinya. Selain itu, orang dewasa juga berperan penting mendukung dan mendampingi para remaja agar terus berkembang menjadi pribadi aktif, peduli dan kreatif menjadi pelopor yang berkontribusi dalam pembangunan, terutama untuk desanya.

Keikutsertaan remaja dalam forum masyarakat dapat memberikan pandangan yang berbeda dari persepsi orang muda, baik tentang isu-isu yang dibahas, maupun kebutuhan mereka sebagai masyarakat desa. "Selain itu, pelibatan remaja dalam forum pengambilan keputusan secara tidak langsung melatih para remaja untuk menjadi pemuda tangguh yang kritis dan berani menyampaikan pandangannya dalam ruang publik dan berkontribusi dalam pengambilan keputusan," pungkasnya.

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Aceh, Amrina Habibi SH, MH menjelaskan bahwa setiap anak (termasuk remaja) memiliki potensi dan mereka merupakan penerus dan pemilik negeri ini yang harus didukung. “…yang harus kita ketahui, tidak ada remaja yang bodoh… ini hanya masalah cara pandang seseorang saja, karena masa remaja adalah masa yang asik dan anak – anak harus selalu didukung untuk bisa terus bertumbuh serta memberi ruang kemudahan kepada mereka untuk dapat menggapai mimpinya”. 

Dalam kesempatan tersebut pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Aceh Hijau dan UNICEF untuk dukungannya.  "Kepada semua fasilitator harus tetap solid sebagai sebuah lingkaran dan tidak berhenti hanya di pelatihan, perlu aksi dan peran secara nyata,” sebutnya.

Sementara Spesialis Perlindungan Anak UNICEF, Asep Zulhijar, menggarisbawahi pentingnya memastikan agar keterlibatan anak (remaja) tidak hanya sekedar partisipasi dalam bentuk keikutsertaan dalam kegiatan, namun keterlibatan aktif termasuk dalam merencanakan dan menginisiasi kegiatan bersama dengan orang dewasa.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan, para fasilitator muda  mengapresiasi materi dan proses pelatihan, sebagaimana diungkapkan oleh Syarifah Zahra Salsabila “ …susunan pelatihan ini sangat terstruktur dan menghadirkan pemateri yang professional di bidangnya. Saya berterimakasih mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam pelatihan ini”. Para fasilitator muda ini juga bersemangat dan merasa siap untuk mulai menginisiasi dan mendampingi lingkar remaja di 10 desa di kota Banda Aceh yang menjadi sasaran program. 

Dalam pelatihan yang menggunakan pendekatan gabungan outdoor dan indoor itu, para fasilitator muda mendapatkan beragam materi, diantaranya tentang isu dan potensi anak remaja, cara bekerja dengan remaja, prinsip dan kebijakan perlindungan anak, Kebijakan Kesetaraan Gender dan Perlindungan Eksploitasi dan Perilaku Salah Seksual (PEPSS), Pengurangan Resiko Bencana, Manajemen Konflik, serta pengenalan panduan dan media belajar untuk fasilitasi lingkar remaja (Adolescent kit). Peserta juga dibekali dengan keterampilan menyusun perencanaan, memfasilitasi pertemuan dan pelatihan, memetakan stakeholder, serta ‘public speaking’. Di hari terakhir para fasilitator muda ini juga mengikuti kegiatan outbond untuk penguatan kerjasama tim dan kesempatan menampilkan bakat minat di malam apresiasi. 

Project Manager Program PEULARA Yayasan Aceh Hijau, Maulina Sari, merasa optimis terhadap fasilitator muda yang penuh semangat belajar, kerjasama tim, dan perkembangan selama pelatihan. "Saya yakin para fasilitator muda ini akan mampu mendampingi para remaja yang terlibat di Lingkar Remaja nantinya," ujarnya optimis. 

Pihaknya berharap dukungan dari aparatur desa dan warga masyarakat agar program ini dapat berjalan efektif dan remaja dapat menjadi ‘agen perubahan’ di desa sebagaimana menjadi cita - cita kita bersama.

Dalam waktu dekat kegiatan yang sama juga akan dilaksanakan di kabupaten Aceh Singkil, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. "Visi Yayasan Aceh Hijau adalah masyarakat sejahtera dan tangguh dengan sumberdaya alam yang berkelanjutan," terangnya. 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018