Kamis, 30 Mei 2024


Musim Tanam Tiba, Inilah Prediksi BMKG

15 Nov 2022, 04:30 WIBEditor : Yulianto

BMKG memprdiksi kondisi La nina akan terus berlangsung hingga Januari 2023 | Sumber Foto:Dok. BMKG

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Prakiraan cuaca ditengan perubahan iklim yang tidak menentu menjadi salah satu senjata para petani dalam melakukan kegiatan pertaniannya. Untuk mendukung hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara periodik akan mengupdate berbagai informasi iklim yang sangat penting bagi para petani.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA mengatakan saat ini La Nina masih akan berlangsung hingga periode November 2022 hingga Januari 2023, dan kemudian berangsur menuju kondisi netral.  “Tiga musim kebelakang kita dalam situasi pengaruh La Nina, sehingga memberikan dampak yang cukup baik pada pertanian dari sisi curah hujan,” tambahnya.

Berdasarakan data BMKG, umumnya curah hujan pada Oktober 2022 berada kriteria menengah - tinggi (100 hingga di atas 500 mm/bulan). Curah hujan rendah terjadi di sebagian kecil Sumatera Utara, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian kecil Maluku, sebagian Maluku Utara, dan sebagian kecil Papua.

Sifat hujan pada Oktober 2022 umumnya Normal-Atas Normal. Sifat hujan Bawah Normal terjadi di sebagian Sumatera Utara, sebagian Kalimantan Utara, Sebagian Maluku dan Maluku Utara, sebagian besar Papua Barat, dan sebagian Papua. “Peringantan curah hujan tinggi kebanyakan di Jawa, dari catatan hujan bulan Oktober sifatnya di atas normal,” tambahnya.

Terkait musim hujan, Dodo mengatakan, sudah sebagain besar wilayah Indonesia memasuki musim hujan. Beberapa wilayah di bagian timur seperti Sulawei Utara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur baru akan masuki musim hujan pada Dasarian berikutnya.

“Kalau dilihat secara zona musim, jumlahnya yang sudah masuk musim hujan sekitar 66%. Puncak musim hujan juga bervariasi, ada di Oktober untuk Sumatera dan Jawa pada Desember, Januari dan Februari,” ungkap Dodo.

Baca juga: Cegah OPT Meledak saat Iklim Sulit Ditebak

BMKG memprediksi curah hujan November 2022 didominasi kondisi menengah – tinggi. Curah hujan sangat tinggi, diatas 500mm/bulan) diprediksi terjadi di Jawa Barat bagian selatan, sebagian Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, dan sebagian Sulawesi Selatan.

Untuk Desember 2022 – Februari 2023 pada umumnya berada pada kategori menengah - tinggi. Curah hujan sangat tinggi diatas 500 mm/bulan diprediksi terjadi di sebagian kecil Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara T imur, sebagian Sulawesi Selatan, dan sebagian Papua.

Sedangkan pada Maret 2023 pada umumnya berada pada kategori menengah - tinggi. Curah hujan sangat tinggi, diatas 500 mm/bulan diprediksi terjadi di sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian kecil Papua.  Dan pada April 2023 pada umumnya berada pada kategori menengah - tinggi. Curah hujan sangat tinggi diprediksi terjadi di sebagian kecil Papua.

Selain itu, BMKG juga memprediksi curah hujan diatas 300 mm/bulan terjadi November 2022 – April 2023. Berdasarkan data November 2022 curah hujan di atas 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di pesisir barat Pulau Sumatera, sebagian Sumatera Selatan, sebagian Bangka Belitung, sebagian besar pulau Jawa, sebagian besar pulau Kalimantan, Bali, sebagian Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Barat, sebagian Papua Barat, dan sebagian Papua.

Pada Desember 2022 curah hujan diatas 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian Sumatera Barat, sebagian Bengkulu, sebagian Sumatera Selatan, sebagian Bangka Belitung, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Timur dan Utara, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Maluku dan sebagian Papua.

Berdasarkan data dari BMKG, Dodo memberikan beberapa pandangan. Antara lain Musim Tanam I dapat segera dimulai mengingat awal musim hujan sebagian besar wilayah di Indonesia tiba lebih cepat. Selain itu, persiapkan mitigasi bencana hirdometerologi banjir pada areal pertanian perlu dilakukan. Jika perlu gunakan varietas tahan roboh dan genangan.

“Antisipasi OPT di musim hujan  dan dari Outlook Iklim 2023, terlihat sepanjang tahun 2023 ENSO dalam keadaan normal, sehingga hal tersebut dapat mengoptimalkan Indeks Pertanaman,” katanya. Prediksi BMKG ini menjadi patokan bagi petani saat musim tanam tiba. 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018