Senin, 15 Juli 2024


Menyulap Jerami jadi Biochar

31 Jan 2023, 02:22 WIBEditor : Yulianto

Jerami yang dihasilkan dari panen padi bisa diolah menjadi biochar | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.com, Karawang---Jerami, limbah dari hasil panen padi bagi sebagian besar petani selama ini dianggap sampah yang merepotkan untuk dibuang. Untuk memudahkan mengatasi jerami, petani di beberapa sentra produksi padi kerap membakarnya. Dari hasil penelitian, mengembalikan jerami ke tanah justru meningkatkan kesuburan lahan pertanian.

Jerami bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan menambahkan dekomposer. Sebagai sumber pupuk organik, jerami mudah didapat dalam usaha tani padi. Misalnya, dalam 5 ton gabah hasil panen akan ada 5 ton jerami.

Data Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), kandungan hara bahan organik jerami kering untuk Nitrogen sekitar 0,5-0,8 persen. Begitu juga dengan kandungan Fosfat dalam jerami sebesar 0,07-0,12 persen. Sedangkan unsur Kalium jumlahnya 1,2-1,7 persen atau ada 85 kg K yang dapat dimanfaatkan tanaman.

Jika selama ini jerami padi hanya dibakar oleh petani, maka sebentar lagi pemanfaatan jerami akan lebih baik. Dengan mengubah jerami menjadi biochar, petani bisa memperbaiki kondisi tanah pertanian yang diharapkan akan berimbas pada meningkatnya produktifitas dan perekonomian petani.

Solusi untuk Lingkungan

Akademisi IPB University, Prof. Rahmat Pambudy mengatakan, pemanfaatan jerami padi menjadi biochar merupakan hal yang sangat baik. Selama ini menurutnya, jerami merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang bisa berdampak pada perubahan iklim dunia.

Karena itu Rachmat berharap, dengan pemanfaatan jerami padi menjadi biochar bisa menjadi salah satu solusi untuk penyehatan lingkungan. Dari beberapa literatur yang ada, biochar bisa memperbaiki kondisi tanah, sehingga mendorong peningkatan produktifitas padi.

Rahmat berharap dengan adanya pengolahan biochar dapat mengembalikan kesuburan tanah yang berdampak pada peningkatan ekonomi petani. Paling besar manfaatnya dari kegiatan ini adalah untuk kepedulian terhadap lingkungan. “Nantinya kita akan mengambil jerami dari petani. Lalu  akan kita olah menjadi biochar dan dikembalikan lagi ke petani, sehingga petani bisa merasakan dampaknya, terutama dalam peningkatan produktifitas,” ungkapnya.

Sementara itu, Zuziana Susanti, peneliti Balai Penelitian Tanaman Padi melihat petani biasanya tidak mengembalikan jerami ke tanah, sehingga menjadi salah satu penyebab kondisi tanah pertanian mengalami penurunan kesehatan. Karena itu ia menyarankan agar petani mengembalikan jerami ke tanah sebagai pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Artinya, bahan yang ada di lahan (insitu) bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik dengan penambahan dekomposer. “Kalau ingin kondisi yang lebih bagus, jerami bisa kita bawa keluar dari lahan dan difermentasikan. Jadi kita buat jerami menjadi kompos untuk penggunaan pupuk pada musim tanam selanjutnya,“ tuturnya.

Namun diakui, memang tak mudah mengajak petani untuk bertani organik. Pasalnya, pertanian organik membutuhkan kerja keras, karena kebutuhan hara tanaman ada 16 unsur dengan porsi yang berbeda-beda.

Disisi lain, Suziana melihat respon pupuk organik lamban dan jangka panjang, sehingga diperlukan jumlah cukup banyak. Tantangan ini yang kadang memberatkan petani untuk menerapkan pertanian organik, ujarnya.

Reporter : Wawan/Herman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018