Selasa, 13 Januari 2026


PGPR untuk Kesuburan Tanah, Ini Cara Buatnya

25 Peb 2023, 23:13 WIBEditor : Gesha

Pembuatan PGPR

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pupuk hayati atau biofertilizer penting untuk dikembangkan dan diperluas penerapannya pada lahan pertanian untuk memastikan tersedianya unsur hara di dalam tanah yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.

Genta Organik atau Gerakan Pertanian Pro Organik yang digalakkan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian menjawab kegelisahan akan kurangnya pupuk bersubsidi dengan mendorong petani untuk membuat pupuk organik dan pupuk hayati secara mandiri dan menerapkannya di lahan pertanian.

Cara membuat pupuk hayati yang mudah dilakukan biasanya menggunakan biang bakteri yang dapat diperoleh di pasaran. Salah satu pupuk hayati yang biangnya dapat dibuat sendiri adalah Plant Growth Promoting Rhizobakteri atau PGPR. Bakteri tertentu dapat membantu tanaman, bahkan dalam kondisi stres, seperti kekeringan. Bakteri pemacu pertumbuhan ini dapat diterapkan pada beberapa tanaman pangan sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan daripada penggunaan bahan kimia.

Rizobakteri didefinisikan sebagai kelompok bakteri yang sebagian besar berasal dari genus Pseudomonas dan beberapa dari genus Serratia. Selain itu, juga dari genus Azotobacter, Azospirillum, Acetobacter, Burkholderia, dan Bacillus. Kelompok bakteri ini memiliki kemampuan mengikat nitrogen bebas dari alam yang selanjutnya diubah menjadi amonia lalu disalurkan ke tanamab Bakteri ini hidup secara berkelompok menyelimuti akar tanaman, mengkolonisasi rizosfir atau lapisan tanah tipis antara 1-2 mm di sekitar zona perakaran.

Manfaat penerapan PGPR diantaranya adalah memacu pertumbuhan akar, meningkatkan penambatan nitrogen dari udara, meningkatkan ketersediaan unsur hara di tanah, seperti phosphat, belerang, besi, dan tembaga, memproduksi hormon tanaman, menambah bakteri dan cendawan yang menguntungkan, serta menekan pertumbuhan hama dan penyakit tanaman.

Pembuatan PGPR

Untuk membuat PGPR, alat yang harus disiapkan adalah baskom, parang, kompor, panci, dan jerigen. Bahan yang diperlukan adalah:

- 1 kg akar bambu

- 400 gr gula pasir

- 200 gr terasi

- 1 kg dedak halus

- 20 liter air

- 1 sendok makan air kapur sirih

- 2 liter air kelapa

Cara membuatnya:

- Rendam akar bambu dalam air yang sudah dimasak 2-4 hari

- Rebus bahan-bahan (kecuali akar bambu) sampai mendidih

- Setelah dingin masukkan semua bahan ke dalam jerigen dan tutup rapat

- Buka dan kocok-kocok sehari sekali

- Setelah 1-3 minggu PGPR siap digunakan

PGPR yang sudah jadi dicirikan dengan baunya yang masam, terdapat busa di atas adonan, dan bila dikocok kocok terlihat ada gelembung udara dari dalam adonan.

Pengaplikasian

PGPR dapat diaplikasikan pada benih sebelum ditanam, pada bibit, pada tanaman semusim dan tanaman tahunan:

1. PGPR untuk Perlakuan Benih

Benih yang dibeli dari toko harus dipastikan bersih dari pestisida. Untuk itu benih harus dicuci terlebih dahulu. Setelah bersih, benih direndam dalam larutan PGPR dengan konsentrasi 10 ml per liter air selama 2-8 jam tergantung jenis benihnya. Kemudian kering anginkan di tempat yang teduh sebelum dilakukan penanaman.

2. PGPR untuk perlakuan Bibit

Perlakukan pada bibit dan stek atau biakan vegetatif lain dengan cara direndam beberapa saat lalu langsung tanam. Konsentrasi yang diperlukan adalah 10 ml per liter air. Pada bibit padi, dari hasil penelitian yang dilakukan di Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, perlakuan yang diberikan pada umur bibit padi 15 hari sesudah semai (hss) dengan konsentrasi PGPR 15 ml/liter menghasilkan peningkatan yang signifikan pada tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif dan jumlah produksi pada tanaman padi.

3. Untuk perlakuan pada tanaman semusim, PGPR dibuat dengan konsentrasi 5 ml per liter air. Pada tanaman hortikultura seperti cabe, terong, timun dll perlakuan dapat dengan cara menyiramkan 1-2 gelas plastik larutan PGPR ke daerah perakaran untuk masing-masing tanaman.

4. Untuk tanaman tahunan, jumlah larutan yang digunakan disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman dengan cara disiram ke daerah perakaran sampai basah. Aplikasi dianjurkan pada pagi hari sebelum pukul 09.00 WIB atau pada sore hari setelah pukul 15.00 WIB.

Selamat Mencoba. (Pamela Fadhilah, Penyuluh Pertanian Ahli Utama)

 

 

 

 

Reporter : Pamela Fadhilah, Penyuluh Pertanian Ahli Utam
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018