Wednesday, 21 October 2026


Dampak Mengerikan dari Kenaikan Suhu Bumi 2 Derajat Celcius

26 Aug 2023, 09:39 WIBEditor : Gesha

Perubahan Iklim yang Kian terasa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Jangan bicara dulu tentang neraka, yang dikisahkan panasnya tak terkira sehingga membuat apa pun bisa meleleh. Karena jika suhu Bumi naik hanya 2 derajat Celcius saja, neraka kehidupan sudah akan terjadi. Inilah kisah mengerikan yang dirangkum dari berbagai sumber.

Perubahan iklim saat ini dipicu oleh pemanasan global yang terjadi karena lonjakan emisi gas rumah kaca. Bumi pun dilapis oleh gas-gas ini, menangkap sinar matahari dan meningkatkan suhu secara dramatis.

Akibatnya, pola cuaca dan iklim berubah secara drastis, menciptakan tantangan baru bagi ekosistem kita. Ironisnya, gas-gas ini, yang bisa tercipta alami atau manusia, terutama dari bahan bakar fosil, menjadi pemicu utama perubahan ini.

Jika tidak ada gas rumah kaca, suhu global akan jauh lebih dingin. Meskipun gas ini pada kadar normal membawa kenyamanan bagi semua bentuk kehidupan, kita telah melewati batas dengan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.

Dampaknya sangat meluas, dari gangguan pada ekosistem hingga bencana serius yang memengaruhi seluruh dunia. 

Dari hasil penelitian oleh para ahli, kita memahami bahwa suhu Bumi saat ini mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan ribuan tahun yang lalu. Lebih dari 70-80% waktu dalam kurun 11.300 tahun terakhir menunjukkan bahwa Bumi mengalami periode yang lebih hangat.

Data sejarah mengindikasikan bahwa sekitar 5.000 tahun yang lalu, suhu rata-rata Bumi lebih rendah sekitar 1,3 derajat. Namun, dalam 100 tahun terakhir, kita menyaksikan kenaikan suhu sebesar 1,3 derajat, terutama di bagian utara Bumi yang memiliki lebih banyak daratan dan populasi manusia.

Perubahan dalam distribusi radiasi panas Matahari yang berkaitan dengan posisi Bumi terhadap Matahari telah menjadi salah satu faktor alami yang memengaruhi perubahan suhu global selama ribuan tahun. Namun, aktivitas manusia juga berperan dalam peningkatan suhu selama setengah abad terakhir.

Tingginya suhu udara memiliki potensi untuk memicu kebakaran hutan yang merusak ekosistem. Selain itu, asap dari kebakaran tersebut dapat mencemari berbagai elemen lingkungan dan berdampak negatif pada kesehatan.

Pemanasan udara dan laut mengakibatkan pencairan es di kutub, yang pada gilirannya meningkatkan permukaan air laut dan mengakibatkan risiko banjir, bahkan mengancam kelangsungan pulau-pulau kecil. Ketidakseimbangan ekosistem juga terlihat dalam kerusakan terumbu karang dan ancaman terhadap kehidupan laut yang krusial.

Tingginya suhu dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh makhluk hidup, membuatnya lebih rentan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi menjadi wabah yang mengkhawatirkan.

Pemanasan global juga memiliki dampak serius pada permukaan Bumi, termasuk risiko terjadinya kekeringan. Akibatnya, sumber air yang terdapat di dalam tanah dapat menguap, mengarah pada pencemaran dan menghadirkan krisis pasokan air bersih yang mendalam. Hal ini menjadi tantangan serius dalam konteks perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Kenaikan Muka Laut

Mari jelajahi fakta menarik seputar kenaikan permukaan laut yang sudah kita alami.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), lembaga riset iklim dari Amerika Serikat, dalam kurun 140 tahun terakhir, permukaan laut telah naik hampir 25 sentimeter.

Yang lebih mengejutkan lagi, sepertiga dari kenaikan itu terjadi dalam waktu singkat, hanya dalam 25 tahun terakhir.

Skenario yang diuraikan oleh Lynas menggambarkan konsekuensi serius jika suhu Bumi naik 2 derajat Celcius. Ini berpotensi memicu kekeringan parah dan kekurangan air di pedalaman Tiongkok.

Tidak hanya itu, akumulasi karbon dioksida juga akan merubah laut menjadi lebih asam, mengancam kelangsungan hidup makhluk laut.

Perjanjian Paris telah menetapkan batasan penting: suhu rata-rata global tidak boleh naik lebih dari 1,5 derajat Celcius. Tetapi pertanyaannya, apa yang akan terjadi jika angka ini terlampaui?

Kita bisa mengantisipasi gelombang panas mematikan, badai super, dan cuaca ekstrem lainnya yang semakin menjadi-jadi. Gangguan iklim semacam itu diperkirakan akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, bahkan mungkin beberapa dekade atau abad.

Mencari solusi perlu tindakan mendesak dan skala besar untuk mengurangi emisi. Hanya dengan langkah tegas, kita bisa memastikan suhu rata-rata global tidak melampaui ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celsius dalam waktu 20 tahun.

Kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat Celsius dianggap masih bisa diatasi oleh manusia tanpa menimbulkan gangguan ekonomi dan sosial yang parah.

Namun, jika kita berhasil mengurangi emisi dalam dekade mendatang, ada harapan bahwa kenaikan suhu bisa terkendali.

Pada tahun 2040, suhu rata-rata masih dapat bertahan pada kenaikan 1,5 derajat Celsius, bahkan bisa mencapai 1,6 derajat Celsius pada tahun 2060 sebelum akhirnya stabil.

Namun, apakah kita mampu meredam laju kenaikan suhu Bumi? Semuanya bergantung pada komitmen kita. Ini adalah tanggung jawab bersama, yang harus diemban oleh seluruh masyarakat dunia.

Indonesia, dengan keanekaragaman geografis dan alamnya, termasuk negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Jakarta bahkan telah tercatat sebagai kota paling rentan terhadap perubahan iklim di dunia.

Indonesia juga berperan penting dalam emisi gas rumah kaca, terutama karena deforestasi yang tinggi dan ketergantungan pada batu bara.

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai yang panjang, Indonesia sangat rentan terhadap efek naiknya permukaan air laut dan cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan badai. Hutan tropisnya memainkan peran krusial dalam menyeimbangkan iklim dengan menyerap karbon dioksida dari udara.

Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian, ekonomi nasional, dan kesehatan di Indonesia menjadi isu yang semakin signifikan. Yang pasti, tahun 2060 semakin mendekat dan memerlukan tindakan konkret.

Reporter : Memed
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018