Sabtu, 25 Mei 2024


ICARE Tanggamus : Mengekplorasi Pendekatan Partisipatif dalam Pemberdayaan Petani Kopi dan Peternak

17 Okt 2023, 14:01 WIBEditor : Gesha

Pelaksanaan ICARE Temanggung | Sumber Foto:BSIP Penerapan

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanggamus -- Di tengah perubahan dinamis dalam sektor pertanian, ICARE Tanggamus memimpin perubahan melalui pendekatan partisipatif yang memperkuat peran petani dalam pemberdayaan, menciptakan lanskap agraris yang berkelanjutan dan inklusif.

Program ICARE (Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment) adalah inisiatif Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Bank Dunia yang bertujuan mendukung pengelolaan wilayah dan rantai nilai komoditas pertanian yang berkelanjutan dan inklusif di beberapa lokasi terpilih.

Di Provinsi Lampung, program ini diterapkan di Kabupaten Tanggamus, fokus pada komoditas kopi dan kambing, karena wilayah ini merupakan pusat produksi kedua komoditas tersebut.

Disana, program ICARE dijalankan di 3 kecamatan yang merupakan produsen kopi utama, yaitu Ulubelu, Air Naningan, dan Pulau Panggung.

Lebih dari setengah dari luas pertanaman kopi di Kabupaten Tanggamus terletak di kecamatan-kecamatan ini. ICARE berusaha memahami potensi wilayah ini dengan melibatkan petani calon pelaksana program dan pihak-pihak terkait secara aktif. 

Pendekatan partisipatif dalam pembangunan masyarakat adalah cara untuk melibatkan masyarakat secara aktif dan langsung dalam proses pembangunan, bukan hanya sebagai penerima pasif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan memberdayakan masyarakat.

Dengan pendekatan ini, kita mengakui pentingnya kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya dalam mencapai keberhasilan pembangunan yang lebih baik.

Agar pemahaman terhadap potensi wilayah lebih mendalam, ICARE melakukan berbagai kegiatan, seperti survei potensi kebun, penilaian potensi ternak, dan sesi diskusi kelompok terfokus (FGD).

Potensi Kopi

Produktivitas kopi di Kabupaten Tanggamus pada tahun 2023, berdasarkan hasil survei lahan kebun petani, hanya mencapai 238,85 kg/ha. Dugaan terkait rendahnya produktivitas ini adalah kurangnya kesiapan petani dalam menghadapi perubahan iklim.

Beberapa aspek yang tampaknya belum diimplementasikan oleh petani untuk mengantisipasi perubahan iklim melibatkan kurangnya upaya dalam konservasi tanah kebun, seperti meningkatkan daya serap dan daya simpan air melalui penggunaan bahan organik secara berkelanjutan, serta penanaman tanaman penaung.

Hasil pengujian awal pada 27 sampel tanah kebun menunjukkan rata-rata pH tanah di bawah 5,3, menandakan kondisi tanah yang masam dan mutunya rendah.

Kekurangan populasi tanaman peneduh seperti lamtoro dan gamal yang merupakan legum pohon untuk tanaman kopi, serta dominasi klon yang memiliki adaptasi terbatas dan bergantung pada kondisi iklim tertentu seperti Klon Tugusari, menjadi faktor lain yang berpotensi menyebabkan penurunan produktivitas kopi.

Selain itu, belum ada komposisi klon unggul yang dapat beradaptasi dengan berbagai tipe iklim, dan keberadaan kopi tua yang tidak produktif juga dapat berkontribusi pada penurunan produktivitas.

Budidaya kopi di tiga kecamatan yang menjadi fokus program ICARE umumnya melibatkan polikultur atau pola tanam campuran dengan berbagai komoditas perkebunan, hortikultura, dan tanaman kayu lainnya. Dalam pertanaman kopi, sering kali ditemui komoditas perkebunan seperti lada, cengkeh, pala, dan aren.

Selain itu, berbagai tanaman hortikultura, terutama pisang dan cabai rawit, juga sering ditanam bersama tanaman kopi. Pisang dan cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan dalam polikultur ini.

Petani mengusahakan pertanaman pisang di kebun kopi terutama untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lantas bagaimana dengan potensi ternak disana? Klik selanjutnya

Reporter : Erdiansyah,Fauziah,Dr. Rachman Jaya
Sumber : BSIP Penerapan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018