Sabtu, 24 Februari 2024


Ayo Buat Agensia Hayati Sendiri !

19 Des 2023, 11:32 WIBEditor : Gesha

Pembuatan agensia hayati agar petani hortikultura menghasilkan komoditas yang bermutu | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ayo petani, buatlah Agensia Hayati sendiri dan kuasai pengendalian hayati untuk hasil panen maksimal dan lingkungan yang sehat.

Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Tani Makmur di Kecamatan Bejir, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dipimpin oleh Ketua Khofifah, menekankan pentingnya interaksi seimbang antar-makhluk hidup dalam lingkungan. Kesalahan manusia dalam mengelola lingkungan dapat memicu masalah hama penyakit tanaman.

Khofifah menyoroti pentingnya pengendalian hayati dalam pertanian, di mana keseimbangan organisme yang bermanfaat lebih besar daripada yang merugikan. Penggunaan pestisida sintetik yang tidak rasional dapat berdampak negatif pada lingkungan, kesehatan manusia, dan keberlanjutan ekonomi di sektor agribisnis.

Dia menekankan bahwa agensia hayati dapat ditemukan melalui eksplorasi di lahan yang sehat, individu tanaman sehat, serta tanaman liar yang jarang terkena organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Agensia hayati ini kemudian diisolasi menggunakan media khusus seperti martin agar untuk cendawan dan tryptic soy agar untuk bakteria.

Khofifah pun membagikan cara mudah isolasi Agensia Hayati Trichoderma sp. dan Metarhizium sp. “Trichoderma, sebuah agensia hayati berupa jamur, dapat diisolasi dari tanah, khususnya di rizosfer tanaman bambu,” sebutnya. 

Proses isolasi melibatkan bambu, tali rafia, lilin, sendok, dan nasi yang sudah didiamkan semalaman. Bambu dibelah dan dibersihkan, kemudian diisi dengan nasi. 

Setelah ditanam di sekitar rizosfer tanaman bambu, setelah 10 hari, bambu diambil kembali, dibuka, dan jamur Trichoderma yang tumbuh diamati. Jamur tersebut diambil, ditempatkan dalam wadah steril, dan dibiarkan hingga miselium berubah menjadi hijau, menghasilkan Trichoderma F0 atau bibit Trichoderma sp. Bibit ini dapat dibiakkan hingga mencapai F1, F2, dan F3.

Sedangkan isolasi jamur Metarhizium dari serangga yang mati dengan gejala terdapat jamur di tubuhnya adalah salah satu metode umum. Proses isolasi ini melibatkan pengambilan sampel dari serangga yang terinfeksi, kemudian dilakukan kultur jamur Metarhizium untuk diperbanyak. 

Untuk memperbanyak Trichoderma dan Metarhizium, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Cuci bersih beras atau jagung giling, kukus selama 20-30 menit, dan masukkan ke dalam kantung plastik tahan panas (100 g/kantong). Sterilkan dengan mengukus lagi selama 15 menit. 

Setelah dingin, inokulasikan starter pada media beras yang telah dikukus. Beri udara semaksimal mungkin pada kantong plastik, lalu ikat. 

Goyangkan kantung plastik agar starter merata di media. Inkubasikan dalam ruangan bersih selama 5-7 hari hingga jamur tumbuh pada media.

Pengendalian Hama

Cendawan lain yang bisa digunakan untuk Agensia Hayati adalah Bacillus thuringiensis yang bersifat membunuh serangga (insektisida) khususnya Spodoptera atau lebih dikenal sebagai ulat grayak maupun ulat tentara. 

Caranya, Serangga yang terinfeksi menjalani proses sterilisasi dengan direndam dalam etanol 90 selama 2 detik, diikuti dengan perendaman dalam larutan sodium hipoklorit 5% selama 4 menit. 

Setelah itu, serangga dibersihkan dengan dimasukkan ke dalam botol kecil berisi aquades steril dan digoyang beberapa saat. Tahap pencucian ini diulang sebanyak tiga kali, dengan botol dan aquades steril yang diganti setiap kali.

Serangga yang telah disterilkan ditempatkan dalam cawan Petri steril, lalu dipotong menjadi tiga bagian. Menggunakan jarum ose, potongan serangga dipindahkan ke dalam cawan Petri yang berisi media NA. 

Biakan yang tumbuh diinkubasikan selama 2 hari pada suhu ruangan. Setelah itu, biakan yang terdiri dari dua atau lebih jenis bakteri dipisahkan dengan dibiakkan dalam media NA di cawan Petri terpisah.Bakteri yang tumbuh kemudian diinokulasikan pada serangga sehat untuk memonitor gejala yang muncul.

Selain menggunakan bakteria maupun cendawan, Agensia Hayati bisa menggunakan pathogen, salah satunya NPV (Nuclear Polyhedrosis Virus) untuk pengendalian hama Lepidoptera atau ulat daun. 

Caranya, Larva S. litura berukuran 2–3 cm (instar-3 dan 4) dikumpulkan dari lahan pertanaman dan ditempatkan dalam stoples plastik berdiameter 18,5 cm dan tinggi 12 cm, idealnya diisi dengan 100 ekor larva per stoples. 

Jumlah larva disesuaikan dengan ukuran stoples agar tidak terjadi pertumpahan yang dapat merugikan. Larva ini kemudian diberi pakan berupa helaian daun yang telah dicelupkan atau diteteskan suspensi NPV.

Proses pemeliharaan larva berlangsung di dalam stoples hingga larva mati. Setelah terkumpul, bangkai larva dihancurkan, disaring, dan suspensi NPV yang dihasilkan dapat langsung digunakan sebagai bahan semprot atau disimpan dalam bentuk kering angin atau tepung.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018