Jumat, 23 Februari 2024


Dosen IPB : Rodensia Kimia Tidak Efektif Kendalikan Hama Tikus

12 Jan 2024, 08:03 WIBEditor : Gesha

Tikus menjadi hama menyebabkan untuk petani | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI, Bogor -- Dosen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Swastiko Priyambodo dalam penelitian terbarunya, mengungkapkan bahwa penggunaan rodensia kimia tidak efektif dalam memerangi hama tikus sawah.

Tikus sawah, dengan namanya Ratus argentiventer, merupakan hama yang sulit diatasi. 

Kecepatan perkembangbiakannya dan dampak merusak yang tinggi pada tanaman membuatnya menjadi ancaman konstan bagi setiap pertanian. 

Serangan tikus ini tak hanya terjadi di pertanaman, tetapi juga berlanjut hingga masa panen, menyebabkan kerusakan tanaman yang signifikan.

Dr. Swastiko Priyambodo, Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman – Fakultas Pertanian, mengungkapkan, berdasarkan relief pada Candi Borobudur, terungkap bahwa tikus telah menjadi hama padi sejak zaman dahulu. 

Dengan kata lain, menurutnya, hama tikus tetap mampu bertahan dan melawan berbagai upaya pengendalian hingga saat ini.

Manajemen populasi tikus yang tidak melibatkan bahan kimia toksik umumnya menggunakan protozoa, meskipun implementasinya di lapangan cenderung sulit dan mahal.

Metode ini terkadang kalah bersaing dengan rodentisida kimia yang lebih terjangkau dan mudah ditemukan di pasaran.

Sebaliknya, manajemen kimia yang non toksik dengan menggunakan rodentisida seperti Rodol ternyata kurang efektif, menurut uji coba di IPB University, karena kurangnya ketertarikan tikus terhadap umpan tersebut.

Umumnya, petani menggunakan rodentisida sebagai umpan beracun, bahkan mengkreasikannya dari tumbuhan beracun. 

Dr. Swastiko Priyambodo memberikan dukungan pada inovasi petani, meskipun mencatat bahwa sifat melawan tikus dapat membuat umpan tersebut tidak selalu efektif. 

Dia menekankan perlunya mendukung upaya ini untuk mengurangi ketergantungan pada industri pestisida.

Dr. Swastiko juga memberikan himbauan agar petani tetap waspada terhadap rodentisida ilegal, yang sangat toksik dan berbahaya bagi konsumen dan petani. 

Meskipun harganya murah dan terbukti ampuh, penggunaan sembarangan sebaiknya dihindari.

Kultur Teknis

Dr. Swastiko Priyambodo menyarankan alternatif dengan mengadopsi pendekatan kultur teknis, seperti penggunaan trap crop dan sistem push-pull repellent, sebagai solusi untuk mengelola populasi tikus.

Sayangnya, menurutnya, kedua metode tersebut tidak dapat digabungkan dalam hamparan padi. 

Sebagai alternatif, metode budidaya lainnya mencakup tumpangsari padi gogo dan palawija atau pohon buah, sistem jajar legowo, serta tanam padi serempak pada area sawah.

Dr. Swastiko Priyambodo menekankan, tanam padi serempak dapat dijadikan potensi agroekowisata di hamparan sawah. 

IPB University bersama mahasiswanya telah berhasil mengembangkan inisiatif agroekowisata ini, bekerja sama dengan pemerintah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Selain itu, dia menyoroti pentingnya sanitasi atau kebersihan lingkungan sebagai upaya manajemen lainnya. 

Lingkungan yang bersih dapat mengurangi daya tarik bagi tikus, menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi hama tersebut.

Dalam manajemen tikus, Dr. Swastiko Priyambodo dari IPB University menjelaskan tiga kata kunci krusial. 

Pertama, keterpaduan berbagai metode pengendalian, mulai dari sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanis, biologi, hingga kimia, yang dipadukan secara kompatibel. 

Kedua, pentingnya kebersamaan dalam upaya pengendalian populasi hama tikus sawah. 

Ketiga, prinsip keberlanjutan, yang menandakan bahwa upaya pengendalian harus terus dilakukan setiap musim tanam.

Dalam manajemen tikus, metode fisik atau mekanis dapat ditingkatkan dengan mengintegrasikan teknologi terkini seperti Internet of Things (IoT).

Dr. Swastiko Priyambodo menjelaskan bahwa aplikasi handphone dapat mendeteksi perangkap yang berhasil menangkap tikus. 

Namun, ia mencatat bahwa biaya operasional cenderung tinggi, berbeda dengan pengendalian hayati menggunakan musuh alami seperti Tyto alba, musang, garangan, dan ular tikus yang lebih ekonomis.

Dr. Swastiko Priyambodo juga menambahkan manajemen tikus melibatkan tiga faktor penting: faktor ekologi, faktor ekonomi, dan faktor sosiokultural. 

Selain memperhatikan aspek lingkungan dan biaya, pengendalian hama tikus juga harus mampu memberikan dampak sosial positif bagi masyarakat.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018