Jumat, 23 Februari 2024


BSIP : Lahan Suboptimal Kurang Memuaskan di MT 1, Bukan Berarti Gagal Total

17 Jan 2024, 11:16 WIBEditor : Gesha

Pertanaman jagung di lahan suboptimal | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Di tengah tantangan global dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang semakin meningkat, inovasi dan teknologi menjadi kunci utama untuk meningkatkan produktivitas lahan kurang produktif.

Pertanian tetap menjadi tulang punggung Indonesia, mengingat 70 persen penduduknya masih bergantung pada beras sebagai konsumsi harian. Oleh karena itu, menjaga kesuburan lahan pertanian bukan sekadar kebutuhan, melainkan suatu aset berharga dalam konteks ekonomi. Kesuburan tanah tidak hanya bergantung pada karakteristik asal tanah, melainkan melibatkan proses panjang pengelolaan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu ilustrasi terbaik dapat ditemukan dalam pembukaan kawasan transmigrasi, di mana lahan awalnya memiliki produktivitas rendah, tetapi melalui serangkaian proses yang berkesinambungan, berubah menjadi lahan yang subur. Transformasi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi warga transmigrasi, tetapi juga menciptakan potensi pertumbuhan ekonomi baru.

Fenomena serupa terjadi ketika melihat pembentukan sawah-sawah irigasi teknis di seluruh Indonesia selama beberapa dekade terakhir, yang mengubah lahan kering menjadi area bernilai ekonomi tinggi. Namun, perlu dicatat bahwa pola kesuburan lahan pertanian tidak seragam di setiap daerah, melainkan bersifat spesifik sesuai dengan kondisi lokal.

Menurut ahli pertanian Ladiyani Retno Widowati, mayoritas lahan yang baru dibuka memang cenderung kurang subur sejak awal karena termasuk dalam kategori suboptimal. Namun, dengan praktik budi daya yang cermat, kesabaran, dan pemeliharaan tingkat kesuburan yang baik, lahan tersebut dapat mencapai tingkat produktivitas sedang hingga tinggi setelah melalui kurun waktu belasan tahun dengan campur tangan manusia.

Proses peningkatan kesuburan dapat dipercepat melalui penerapan inovasi dan teknologi, mengurangi waktu yang diperlukan dari belasan tahun menjadi hanya 2-3 tahun.

Menurut Ladiyani Retno Widowati, dalam konteks ini, hasil yang kurang memuaskan pada musim tanam pertama di lahan suboptimal tidak boleh dianggap sebagai kegagalan mutlak. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari suatu proses yang memberikan informasi tentang pembatas dan kendala pertumbuhan, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas.

"Meskipun ada intervensi inovasi dan teknologi pada lahan suboptimal, hasilnya pasti akan berbeda dengan lahan pertanian yang sudah subur dan stabil dalam satu musim tanam," ungkap  Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen (BPSI) Tanah dan Pupuk Kementerian Pertanian ini. 

Perlu beberapa musim tanam sebelum lahan menjadi stabil, seperti yang terjadi di kawasan Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang memiliki status suboptimal.

"Tanah di sana, yang termasuk dalam kategori spodosol, didominasi oleh pasir kuarsa dengan kadar yang sangat rendah, sehingga sering dianggap sebagai tanah kurang subur," jelasnya.

Ketika terjadi perubahan menjadi lahan pertanian, vegetasi di atas Spodosol mungkin terlihat subur saat hutan menghijau. Namun, menurut Ladiyani, tanah Spodosol yang berubah menjadi hutan sebenarnya hanya menunjukkan kesuburan semu.

"Secara umum, Spodosol alami memiliki lapisan humus tipis di atas lapisan albic berwarna putih, yang terdiri dari pasir kuarsa yang tebal," ungkapnya.

Setelah lahan dibuka untuk pertanian, lapisan humus cepat hilang, meninggalkan hanya lapisan pasir kuarsa yang miskin hara.

"Meskipun memiliki porositas tinggi, pasir di lahan suboptimal cenderung berada di atas lapisan batuan pasir yang keras dan menempati cekungan. Akibatnya, saat hujan, air cenderung tergenang di beberapa lokasi," jelasnya.

Tahapan Inovasi

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Destika Cahyana. Menurutnya, tanah dengan kandungan Spodosol pada lereng di kemiringan 15 derajat sangat peka terhadap erosi.

"Jika turun hujan, infiltrasi tanah sangat lambat, hanya 1 sentimeter per jam. Akibatnya, dua hari setelah hujan, saluran air masih tetap penuh dan belum menyerap seluruhya ke dalam tanah," jelasnya.

Beberapa langkah inovatif telah diambil untuk menjaga produktivitas lahan tetap pada tingkat sedang hingga tinggi. Ini melibatkan penataan lahan dan ameliorasi dengan penambahan tanah mineral dan bahan organik.

"Tanah yang ideal seharusnya memiliki proporsi pasir, debu, dan liat yang seimbang. Selanjutnya, pemupukan dengan sumber N, hara NPK majemuk, hara makro sekunder, dan hara mikro diperlukan untuk menyediakan nutrisi," jelas Destika, seorang doktor Ilmu Tanah dari IPB University.

Lahan dengan jenis tersebut cocok untuk menanam jagung karena memiliki masa tanam yang pendek, yaitu sekitar 110-115 hari, seiring dengan perbaikan lahan. Untuk memastikan pertumbuhan subur, menurut Destika, pola tata air di lahan pertanian harus diperhatikan.

Destika mengatakan bahwa pertumbuhan subur jagung di lahan suboptimal akan menjadi indikator kesuburan lahan dan keberhasilan pengelolaan tanah. Lahan akan terus membaik jika inovasi dan teknologi terus diterapkan dari musim ke musim.

"Tentu saja, kesuburan lahan yang meningkat harus dijaga melalui konservasi tanah dan air agar investasi yang telah dilakukan tidak hilang sia-sia akibat erosi. Lahan yang semakin subur juga tidak seharusnya beralih menjadi lahan nonpertanian," tandasnya.

Ladiyani dan Destika sepakat bahwa dengan intervensi inovasi dan teknologi, lahan-lahan yang kurang produktif dapat diubah menjadi lebih produktif di seluruh Indonesia. Tentu saja, hal ini harus diiringi dengan upaya, biaya, dan konsistensi dalam penerapan serta keberlanjutannya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018