Minggu, 14 April 2024


Bayer Indonesia Kenalkan Dua Inovasi Dorong Bioteknologi

14 Mar 2024, 09:10 WIBEditor : Yulianto

Peluncuran produk jagung bioteknologi | Sumber Foto:Dok. Bayer

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mendukung pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan, PT. Bayer Indonesia menawarkan dua inovasi yaitu, jagung bioteknologi dan eksositem bisnis untuk petani. Harapannya, dengan benih bioteknologi petani dapat meningkatkan produktivitas. Di siai lain, dengan ekosistem bisnis, petani akan lebih mudah saat melakukan usaha tani.

Better Life Farming Lead PT Bayer Indonesia, Dani Adi Prasetya mengatakan, berbicara inovasi tidak tidak hanya berupa teknologi, tapi juga diantaranya berupa ekosistem atau softinovation. Karena itu, pihaknya mengembangkan ekosistem bisnis yang dikembangkan bersama mitra.

“Jadi kita fokus pada dua hal. Pertama yaitu teknologi jagung bioteknologi. Kedua ekosistem bisnis Bayer bersama mitra yang disebut dengan better life farming,” katanya saat webinar Mengenal Lebih Dekat Benih Bioteknologi yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (6/3).

Untuk benih jagung bioteknologi, Dani menilai berpotensi untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. Karena itu, pihaknya berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk percepatan adopsi teknologi benih jagung bioteknologi. PT. Bayer Indonesia telah memperkenalkan benih bioteknologi yaitu DK95R pada Juli 2023.

“Kami telah melakukan demplot penanaman secara masif di tiga provinsi yaitu NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Setelah tiga provinsi tersebut kami akan mengadakan demplot di Lampung,” katanya.

Kelebihan Jagung Bioteknologi

Dari hasil demplot di tiga provinsi (NTB, NTT dan Sulsel) yang dilakukan petani, rata-rata produktivitas sebanyak 8,3 ton/ha, bahkan beberapa ada yang mencapai 10-11 ton/ha. Selain itu, RoI (Return of Investment), di Sulawesi Selatan budidaya jagung bioteknologi RoI sampai 5, di NTT 3,9 dan NTB 3,35.

Dani mengatakan, setidaknya ada faktor yeng membuat budidaya jagung bioteknologi ini lebih menguntungkan. Pertama, efisiensi biaya, waktu dan tenaga kerja. Kedua, hasil lebih maksimal.  Karena varietas jagung DK95R ini toleran terhadap gulma, petani bisa menghemat biaya usaha tani.

Misalnya, selama ini petani di NTT rata-rata harus mengeluarkan biaya Rp 4-8 juta dalam mengatasi gulma, dari mulai aplikasi herbisida selektif maupun non selektif.  Sedangkan petani di NTB untuk menajemen gula lebih sedikit mengeluarkan biaya, hanya 2-3 juta. “Sedangkan di Sulawesi Selatan biayanya hampir sama dengan NTB,” ujarnya.

Namun sejak menggunakan varietas jagung DK95R karena toleran roundup, petani hanya mengaplikasikan 1-2 kali dan tidak ada dampak pada tanaman. Hasil uji coba, petani di NTT rata-rata hanya mengeluarkan biaya Rp 1-1,5 juta per hektar dibandingkan sebelum menggunakan jagung bioteknologi.

Sedangkan di NTB, biaya untuk manjemen gulma hanya 350-500 ribu pe hektar, sudah termasuk biaya tenaga kerja, tergantung satu atau dua kali aplikasi herbisida. Dengan biaya manajemen gula 2-3 juta, sehingga ada efisiensi 5-7 kali lipat dalam pengelolaan rumput (gulma). “Seperti kita ketahui dalam budidaya jagung, elemen atau biaya paling besar adalah manajemen gulma,” katanya.

Kelebihan lagi penggunaan jagung bioteknologi, menurut Dani, petani dapat menghemat waktu, terutama dalam mengatasi gulma. Jika petani harus mengaplikasikan herbisida 5-7 kali selama musim tanam, maka diperlukan waktu cukup banyak di lahan. Apalagi jika lahan petani sangat luas 2-3 ha.

Jadi menurut Dani, jika petani hanya mengaplikasikan herbisida 2 kali selama musim tanam, maka akan menghemat waktu yang bisa digunakan bersama keluarga atau pekerjaan lain. Apalagi bagi petani yang lahannya di perbukitan, budidaya jagung bioteknologi ini akan sangat membantu dalam mengatasi gulma.

“Biasanya di wilayah perbukitan, jika gulma sudah sangat tinggi, banyak petani yang malas  penyemprot atau melakukan manajemen gulma. Jika gulma sudah tinggi, aplikasi pupuk juga tidak optimal,” katanya.

Dengan adanya adanya benih jagung DK95R, kini petani menjadi lebih efisien, baik  biaya, waktu dan tenaga kerja, serta efisien pupuk. Begitu juga karena gula terkendali, lahan menjadi lebih bersih, perakaran tanaman lebih maksimal, sehingga menyerap nutrisi dari pupuk lebih maksimal. Hasilnya juga maksimal.

Untuk mencegah salah paham, Dani mengatakan, pihaknya memberikan pendampingan yang sangat ketat, termasuk pertemuan rutin dengan petani. Dengan demikian diharapkan petani memahami dengan baik jagung bioteknologi tersebut. Dengan luas lebih dari 200 ha, demplot jagung bioteknologi tersebut melibatkan hampir 400 petani.

“Kami juga melakukan reguler report ke Kementerian Pertanian. Karena teknologi baru jangan sampai ada miss comunikation, terkait implementasi atau diskriminasi dari jagung bioteknologi ini,” tuturnya.

Bayer juga memperkenalkan ekosistem bisnis. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018