Jumat, 14 Juni 2024


Subak Desa Bengkel Tabanan Diakui UNESCO sebagai Situs Budaya Dunia

24 Mei 2024, 06:43 WIBEditor : Gesha

Acara penyerahan sertifikat dan menandatangani Prasasti Demonstration Site UNESCO untuk Subak Bengkel di Wantilan Desa Bengkel, dihadiri Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya | Sumber Foto:dok.prokopimtabanan

TABLOIDSINARTANI.COM, Tabanan - Subak di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri resmi diakui oleh UNESCO sebagai salah satu Ecohydrology Demonstration Sites. Pengakuan internasional ini diberikan berkat implementasi teknologi pertanian yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Acara seremonial diadakan di Wantilan Desa Bengkel pada Kamis, 23 Mei 2024, dan dihadiri langsung oleh Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya.

Dalam acara ini, Bupati Sanjaya menerima sertifikat dan menandatangani Prasasti Demonstration Site UNESCO. Hadir pula Pimpinan Tinggi UNESCO, Rahmah Elfithri, Vice Chairman of Ecohydrology Scientific Advisory Committee Prof. Luis Chicaro, delegasi negara peserta World Water Forum (WWF), Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Nazaruddin Malik, dan undangan lainnya.

Bupati Sanjaya menyatakan, apresiasi ini merupakan wujud komitmen dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Tabanan.

Suasana meriah menyertai peresmian tersebut, ditandai dengan bunyi Kapuakan (alat musik yang biasa digunakan untuk mengusir burung) sebagai tanda diresmikannya Subak Bengkel sebagai salah satu Ecohydrology Demonstration Site UNESCO.

Sanjaya menyampaikan selamat datang kepada Pimpinan Tinggi UNESCO dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang beserta jajarannya di Kabupaten Tabanan.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Tim Universitas Muhammadiyah Malang dan stakeholder terkait atas komitmen dan partisipasi aktif dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat pertanian di Kabupaten Tabanan, khususnya di Subak Bengkel. Sanjaya menegaskan pentingnya menjaga predikat Kabupaten Tabanan sebagai Lumbung Pangannya Bali.

Sanjaya juga menyampaikan rasa bangga kepada seluruh masyarakat petani, khususnya petani Subak Bengkel.

Dengan luas 335 hektar, dan 1,63 hektar sebagai “demonstration site,” Subak Bengkel telah berkontribusi dalam produksi padi organik dengan varietas mentik susu, menghasilkan produktivitas sebesar 8 ton per hektar.

Ia berharap Demonstration Site di Subak Bengkel menjadi momentum berharga, dengan adanya rekognisi internasional, tidak hanya sebagai lokasi pengembangan dan pemeliharaan air, tetapi juga sebagai pusat pengkajian pelestarian budaya subak.

“Ini juga termasuk pelestarian ekologi dan penerapan teknologi ramah lingkungan untuk menghasilkan pangan berkualitas,” ujar Sanjaya.

Pimpinan Tinggi UNESCO, Rahmah Ellfithri, Chief of Section for Capacity Development and Water Family Coordination, UNESCO, menyampaikan ucapan selamat kepada Subak Tabanan atas keberhasilannya menjadi salah satu UNESCO Ecohydrology Demonstration Sites.

Rahmah mengapresiasi kekompakan semua pihak, baik dari UMM yang memberikan dukungan saintifik, maupun dari Bupati Tabanan dan Pemerintah Kabupaten Tabanan yang mendukung implementasi metodologi ini.

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Profesor Doktor Nazaruddin Malik, juga menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Bupati Tabanan atas kesempatan yang diberikan kepada UMM untuk melaksanakan salah satu program unggulannya, yaitu Center of Excellence, bersama dengan penasihat dari UNESCO.

Program ini bertujuan memberikan terobosan bagaimana perguruan tinggi dapat memainkan peran kemasyarakatan yang lebih komprehensif.

Nazaruddin menjelaskan, Subak water system di Desa Bengkel dipilih karena Tabanan dikenal sebagai lumbung padi, baik di Bali maupun secara nasional.

Sistem tata kelola berbasis subak diperkenalkan dengan teknologi untuk menjaga lingkungan air yang baik.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran dan menarik minat masyarakat, khususnya anak muda, untuk menjadi pelopor dalam membangun tanah air dengan kembali ke gaya lokal yang kokoh dan luhur sebagai upaya meningkatkan kualitas sektor pertanian agar produktivitasnya meningkat,” ujar Nazaruddin Malik.

Pengakuan UNESCO ini menjadi bukti nyata bahwa upaya pelestarian budaya lokal dan penerapan teknologi modern dapat berjalan beriringan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di sektor pertanian.

Sanjaya berharap, ke depan lebih banyak masyarakat Tabanan, khususnya generasi muda, tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitar, sehingga budaya subak sebagai dasar pertanian di Bali tetap lestari sebagai warisan budaya yang adiluhung.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018