
Lima startup agribisnis asal Thailand unjuk inovasi segar di Demo Day Horti Agri Indonesia 2025
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Lima startup agribisnis asal Thailand unjuk inovasi segar di Demo Day Horti Agri Indonesia 2025, membawa gebrakan teknologi dan ide segar yang bikin investor dan pelaku agribisnis penasaran.
Lima startup agribisnis asal Thailand tampil percaya diri dalam ajang AgTech Connext 2025 to ASEAN Demo Day yang digelar dalam bagian Horti Agri Indonesia 2025.
Acara ini menjadi panggung internasional pertama bagi startup agritech Thailand untuk memamerkan inovasi mereka di hadapan pelaku industri, investor, dan praktisi pertanian Indonesia.
Tak hanya sekadar pitching ide, mereka membawa produk nyata yang diyakini bisa menjawab tantangan besar di sektor pangan, mulai dari peningkatan efisiensi produksi, kesehatan ternak dan akuakultur, hingga keberlanjutan ekologi pertanian.
Acara ini merupakan hasil kolaborasi Pacific NUAC bersama National Innovation Agency (NIA) Thailand, serta digelar bertepatan dengan ILDEX Indonesia ke-7.
Platform Horti Agri Indonesia dipilih sebagai wadah karena sejak awal memang diinisiasi untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional maupun regional ASEAN.
Mrs. Drh. Fitri Nursanti, MSc., MM, Chief Executive AGRINA Magazine sekaligus perwakilan PT Bermata Kreasi Media, menyampaikan rasa bangga karena Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah.
Acara ini bisa digelar di sini dengan luar biasa. Kami merasa terhormat mendapat kepercayaan untuk menjadi evaluator startup pertanian, agrikultur, dan perikanan dari Thailand. Bagi kami di Indonesia, ini momentum agar startup dalam negeri juga berani menunjukkan inovasi di panggung internasional,” ujar Fitri.
Menurutnya, hadirnya startup agribisnis lintas negara akan memperkaya ide, teknologi, dan membuka peluang kolaborasi nyata di masa depan.
Hal senada disampaikan Montha Kaihirun, Director of Startup Promotion Department, NIA Thailand.
Ia menekankan bahwa dunia pertanian saat ini membutuhkan sentuhan Deep Tech, teknologi berbasis riset mendalam seperti bioteknologi, AI, dan inovasi plasma energi rendah.
“Deep Tech startup adalah mesin perubahan. Mereka lahir dari riset, inovasi, dan mampu menjawab tantangan mendesak dunia, mulai dari ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga efisiensi sumber daya,” kata Montha.
Ia menambahkan, tujuan utama program ini adalah membantu startup agritech Thailand berkembang di pasar domestik sekaligus menembus pasar internasional, terutama ASEAN.
Indonesia dianggap sebagai mitra strategis karena kesamaan ekosistem pertanian dan potensinya sebagai pasar terbesar di kawasan.
Lima Startup
Dari puluhan pendaftar, hanya lima startup yang terpilih untuk tampil di Jakarta. Mereka membawa solusi yang beragam namun berfokus pada satu benang merah: meningkatkan efisiensi sekaligus keberlanjutan sektor pertanian dan akuakultur.
1. Algebra (Sea Trough Mobile)
Startup ini menghadirkan aplikasi Sea Trough Mobile untuk membantu hatchery dan peternak dalam menghitung hasil produksi lebih cepat, akurat, dan minim kesalahan. Dengan sistem digitalisasi pencatatan, peternak bisa mengurangi potensi kerugian sekaligus mendapat bukti transparan untuk penjualan.
2. Biom Company
Perusahaan ini mengembangkan inovasi mikrobial yang dapat meningkatkan kesehatan tanah sekaligus mengurangi penggunaan bahan kimia. Produk mereka juga diformulasikan untuk melindungi tanaman dari serangan penyakit, sehingga hasil panen lebih sehat dan aman dikonsumsi.
3. Pure Plus Bio Agro Tech
Mengusung teknologi low energy plasma, startup ini mempercepat pertumbuhan mikroba yang berguna untuk pertanian dan pengolahan limbah. Dengan metode ini, petani bisa memangkas biaya produksi karena prosesnya lebih cepat dan efisien.
4.Consultex
Fokus pada efisiensi hatchery ayam, produk mereka membantu mengurangi tingkat telur gagal tetas dengan cara mendeteksi sejak dini telur yang tidak produktif. Solusi ini diyakini mampu meningkatkan hatchery rate dan memberikan keuntungan tambahan bagi peternak unggas.
5. Aqua Conquest
Startup ini bergerak di bidang akuakultur dengan teknologi untuk meningkatkan kesehatan udang di tambak.
Produk mereka diklaim mampu menekan penyakit mematikan seperti white spot syndrome, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup udang, dan pada akhirnya mendongkrak keuntungan pembudidaya.
Best Performance
Dalam sesi pitching, kelima startup memaparkan keunggulan produk di hadapan juri yang terdiri dari akademisi, peneliti, investor, dan pelaku industri Indonesia.
Para juri antara lain Dr. Aris Pramudia (BRIN, peneliti perubahan iklim), Dr. Akhandi Yunus (Universitas Al-Azhar Indonesia), Ignatius Egan Jonathan (Agriservice and Head of Farmer International Foundation), hingga Rumi Setiapurnama (CEO Minapoli).
Hasil penjurian menempatkan Algebra sebagai peraih skor tertinggi dengan total 1.655 poin, disusul Pure Plus Bio Agro Tech dengan 1.597 poin, dan Consultex dengan 1.582 poin. Ketiga startup ini berhak menyandang predikat Best Performance.
“Semua peserta punya produk yang bagus dan teknologi yang menjanjikan. Tidak mudah membandingkan karena bidangnya berbeda-beda. Tapi kami berharap teknologi ini bisa jadi solusi nyata, tidak hanya di Thailand, tapi juga di Indonesia,” ujar salah satu juri.
Di balik kompetisi pitching ini, pesan besar yang ingin ditegaskan adalah pentingnya kolaborasi lintas negara.
ASEAN, dengan populasi lebih dari 600 juta jiwa, menghadapi tantangan sama dalam sektor pangan: kebutuhan yang terus meningkat, lahan terbatas, perubahan iklim, dan dorongan untuk produksi yang ramah lingkungan.
Kehadiran startup Thailand di Indonesia membuka peluang pertukaran teknologi, investasi, hingga kerja sama penelitian.
Bahkan, beberapa investor lokal yang hadir menyatakan ketertarikan untuk menjajaki peluang pilot project bersama startup asal Negeri Gajah Putih tersebut
Kehadiran lima startup Thailand ini diharapkan bisa menjadi cermin sekaligus motivasi bagi anak muda Indonesia yang tengah merintis bisnis agritech.
Bahwa inovasi tidak melulu tentang teknologi canggih, tapi tentang bagaimana menjawab masalah nyata di lapangan dari petani, peternak, hingga nelayan.
AgTech Connext 2025 to ASEAN Demo Day pun membuktikan bahwa pertanian masa depan tidak lagi bisa berjalan dengan cara lama.
Perlu sinergi antara teknologi, kreativitas, riset, dan jejaring lintas negara.