Minggu, 18 Januari 2026


MIPI Dorong Kolaborasi dan Teknologi AI-IoT untuk Peternak Kecil di Indonesia

18 Sep 2025, 13:28 WIBEditor : Gesha

Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) gandeng berbagai pihak, menghadirkan teknologi AI-IoT agar peternak kecil mampu bersaing dan memaksimalkan usaha perunggasan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) gandeng berbagai pihak, menghadirkan teknologi AI-IoT agar peternak kecil mampu bersaing dan memaksimalkan usaha perunggasan. 

Sektor perunggasan Indonesia tengah berada di persimpangan inovasi dan kebijakan. Perkembangan pesat teknologi, tuntutan pasar yang semakin kompleks, dan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas membuat kolaborasi antara berbagai pihak menjadi suatu keharusan.

Dr. Maria Ulfah, S.Pt., MSc.Agr., Presiden MIPI mengatakan perkumpulan MIPI ini menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, praktisi, pemerintah, perusahaan, dan asosiasi peternak untuk membangun sektor yang lebih maju.

“Kolaborasi ini bukan hanya antara praktisi dan akademisi, tapi juga pemerintah dan berbagai pihak lain. Dengan cara ini, ilmu pengetahuan dan riset yang ada bisa diterapkan secara nyata di lapangan, sekaligus membuka ruang bagi perusahaan untuk mendukung perkembangan perunggasan di Indonesia, " sebutnya. 

MIPI memang tidak berhenti pada gagasan saja. Mereka ingin memastikan setiap solusi yang dikembangkan benar-benar bisa dijalankan di lapangan.

Hal ini penting, terutama bagi peternak skala kecil yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses teknologi hingga modal.

Teknologi terbaru, seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), dianggap sebagai kunci untuk membuka potensi tersebut.

Teknologi ini, menurut Dr. Maria Ulfah, sangat dibutuhkan tidak hanya di industri besar tetapi juga oleh peternak lokal dan usaha kecil.

“Selama ini teknologi canggih seringkali hanya bisa diakses oleh pemain besar. Padahal, peternak kecil juga membutuhkan alat yang sama untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi mereka. Dengan AI dan IoT, mereka bisa memantau kesehatan ternak, mengoptimalkan pakan, dan memprediksi produksi secara lebih akurat,” jelasnya.

AI dan IoT, dalam konteks ini, bukan sekadar jargon teknologi. Mereka mampu menghadirkan solusi konkret yang bisa mengubah cara peternak bekerja sehari-hari.

Misalnya, sensor IoT dapat memantau suhu, kelembapan, dan kondisi kandang secara real-time.

Data ini kemudian dianalisis menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi yang tepat, seperti jumlah pakan yang ideal atau waktu terbaik untuk vaksinasi.

Dengan begitu, peternak tidak lagi bekerja berdasarkan perkiraan atau pengalaman semata, tetapi berdasarkan data yang valid dan analisis cerdas.

Dr. Maria Ulfah menekankan bahwa teknologi semacam ini juga memungkinkan peternak kecil untuk bersaing dengan pemain besar.

“Kalau dulu kompetisi terasa berat karena keterbatasan akses, sekarang kita bisa menjembatani kesenjangan itu. Peternak kecil bisa mendapat manfaat dari inovasi sama seperti industri besar, dan ini akan membawa perubahan nyata dalam produktivitas dan kualitas ternak," sebutnya. 

Harapan besar dari MIPI adalah kolaborasi ini tidak berhenti di seminar saja.

Mereka ingin teknologi AI dan IoT bisa digunakan secara luas oleh peternak skala kecil, sehingga mereka dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus menghadapi risiko berlebihan.

Peternak kecil bisa memprediksi kebutuhan pakan, mengontrol kesehatan ternak, dan bahkan menyesuaikan produksi sesuai permintaan pasar. Semua ini bisa dilakukan dengan lebih efisien, hemat biaya, dan berbasis data.

Dengan langkah-langkah konkret ini, MIPI berharap peternak kecil di seluruh Indonesia tidak lagi tertinggal, tetapi justru bisa memanfaatkan inovasi terbaru untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan daya saing mereka.

Dari seminar ini, jelas terlihat bahwa masa depan perunggasan Indonesia bisa lebih cerah jika semua pihak mau bekerja sama, berbagi ilmu, dan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bersama.

Basis Data

Di sisi lain Harry Suhada, S.Pt., M.Sc., Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementerian Pertanian sepakat  pemerintah memiliki peran krusial melalui regulasi dan dukungan kebijakan.

“Kebutuhan utama pemerintah adalah regulasi yang jelas dan berbasis data. Data inilah yang menjadi fondasi untuk membuat kebijakan yang tepat dan terukur. MIPI berperan besar karena mereka tidak hanya menguasai riset dan pengembangan, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Mereka tahu apa yang dibutuhkan peternak dan bisa menyesuaikan solusi teknologi agar efektif, " jelasnya. 

MIPI dan pemerintah sama-sama menyadari pentingnya data. Tidak hanya data mentah, tetapi juga data yang terstruktur, terstandar, dan bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dengan adanya basis data yang solid, regulasi yang dibuat pemerintah dapat lebih tepat sasaran, meminimalkan risiko, dan meningkatkan efisiensi di lapangan.

Harry menekankan bahwa data yang baik harus berasal dari berbagai sumber: pusat penelitian, asosiasi peternak, dan juga data yang langsung dikumpulkan dari lapangan. “Dengan begitu, kebijakan ke depan jelas terukur, dan outputnya bisa dipantau dengan akurat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi kolaborasi, Kementan mengapresiasi MIPI yang meluncurkan website baru sebagai pusat akses data dan informasi. Platform ini bertujuan memudahkan pemerintah, asosiasi, dan peternak untuk berbagi informasi secara real-time.

“Website ini adalah langkah awal. Kami berharap pemerintah dan asosiasi bisa mengakses data dari sini untuk membuat kebijakan berbasis bukti. Data ini tidak hanya berasal dari pusat penelitian, tapi juga dari pengalaman peternak di lapangan,” jelas Harry Suhada.

Dengan adanya platform seperti ini, semua pihak bisa saling berbagi informasi, memvalidasi data, dan memastikan kebijakan yang diterapkan benar-benar efektif.

Harry Suhada menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya memberikan regulasi, tetapi juga mendukung implementasi teknologi ini. “Kita berharap dengan dukungan pemerintah, peternak kecil bisa mendapat akses ke teknologi yang sama seperti industri besar. Ini bukan tentang menuntut, tapi membangun fondasi yang kokoh agar semua pihak bisa berkembang bersama,” ujarnya.

Kolaborasi multi pihak menjadi kunci dalam upaya ini. Praktisi membawa pengalaman lapangan, akademisi menyediakan riset dan inovasi, pemerintah mengatur regulasi, perusahaan mendukung melalui teknologi dan investasi, sementara asosiasi dan peternak kecil memastikan implementasi berjalan nyata. Dengan sinergi ini, ekosistem perunggasan di Indonesia diyakini bisa lebih kuat, berkelanjutan, dan inklusif.

 

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018