
Genap setahun berdiri, BRMP Kementerian Pertanian menandai kiprahnya lewat Agrifest 2025 di Bogor, ajang yang memamerkan gebrakan riset, inovasi, dan teknologi modern untuk swasembada pangan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Genap setahun berdiri, BRMP Kementerian Pertanian menandai kiprahnya lewat Agrifest 2025 di Bogor, ajang yang memamerkan gebrakan riset, inovasi, dan teknologi modern untuk swasembada pangan.
Satu tahun berdiri, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) langsung tancap gas. Lembaga yang berada di bawah Kementerian Pertanian ini menandai perjalanan pertamanya lewat BRMP Agrifest 2025, Selasa (11/11/2025), di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Kampus Pertanian Cimanggu, Kota Bogor.
Acara ini bukan sekadar perayaan ulang tahun. BRMP memanfaatkannya sebagai panggung untuk menunjukkan berbagai inovasi riset dan teknologi pertanian modern yang telah dihasilkan selama setahun terakhir.
Dari varietas unggul baru, alat mesin pertanian modern, hingga konsep perlindungan sumber daya genetik, semuanya jadi bukti nyata bahwa pertanian Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih maju.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyebut Agrifest 2025 sebagai momentum untuk memperkuat semangat modernisasi pertanian nasional. Ia menegaskan, modernisasi adalah kunci menuju kemandirian pangan dan energi, dua hal yang jadi fokus utama pemerintah saat ini.
“Produksi pangan nasional tahun ini mencapai lebih dari 4 juta ton, naik dibanding tahun sebelumnya. Ini berkat kerja keras semua pihak, dari pemerintah daerah, penyuluh, sampai petani muda di lapangan,” ujar Fadjry di hadapan tamu undangan.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia mengonsumsi sekitar 2,5 juta ton beras setiap bulan, atau 30 juta ton per tahun.
Karena itu, menjaga dan memperluas lahan sawah menjadi langkah penting agar swasembada pangan tetap terjaga.
“Kita tidak punya pilihan lain selain menambah luas lahan sawah. Banyak lahan di Jawa beralih fungsi untuk tol atau perumahan. Maka perlu dicetak sawah baru di Papua Selatan, Kalimantan, dan Sulawesi,” tambahnya.
Selama satu tahun terakhir, BRMP berhasil merakit lebih dari 315 varietas unggul padi, termasuk jenis yang adaptif di lahan rawa, lahan tadah hujan, dan lahan gogo.
Ada pula varietas baru seperti Nutri Zinc dan Inpari Zinc yang diformulasikan tinggi zat gizi untuk membantu penanganan stunting. Tak berhenti di situ, varietas Golden Rice dengan kandungan protein tinggi juga siap dirilis dalam waktu dekat.
“BRMP ini istimewa, karena bekerja dari hulu sampai hilir. Kita riset, kita rakit, kita uji, dan kita buat standarnya. Semua demi hasil yang bisa langsung dimanfaatkan petani,” jelas Fadjry.
Selain pengembangan varietas, BRMP juga tengah merancang alat mesin pertanian modern (alsintan), termasuk combine harvester khusus lahan berlumpur dan rawa. Alat ini akan diluncurkan dalam waktu dekat di Sukamandi.
Fadjry menyoroti pentingnya perlindungan sumber daya genetik (SDG) Indonesia. Ia mengingatkan bahwa banyak plasma nutfah yang tanpa sadar keluar ke luar negeri.
“Negara lain sudah punya undang-undang perlindungan sumber daya genetik. Kita belum. Padahal Indonesia termasuk tiga besar dunia dalam keanekaragaman hayati, setelah Brasil,” ujarnya.
Untuk itu, BRMP bersama kementerian terkait tengah mendorong lahirnya Undang-Undang Perlindungan Sumber Daya Genetik Pertanian, agar kekayaan hayati bangsa tidak lagi diklaim negara lain.
Saat ini BRMP memiliki 68 unit kerja di seluruh Indonesia, dan tahun depan akan menambah empat UPT baru di provinsi hasil pemekaran Papua. Kehadiran unit-unit ini diharapkan bisa mempercepat diseminasi teknologi ke petani daerah.
“Satu-satunya lembaga pertanian yang punya kantor di seluruh Indonesia itu BRMP. Kami ingin hadir lebih dekat dengan petani dan masyarakat,” tegas Fadjry.
Ia juga mengungkapkan rencana pembangunan kantor baru BRMP di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai bagian dari transformasi menuju lembaga riset yang modern dan berdaya saing global.
Bogor Kota Riset
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang turut hadir dalam acara ini mengapresiasi kiprah BRMP dalam memperkuat ketahanan pangan dan inovasi pertanian nasional.
“Keberadaan BRMP dengan 17 unit kerja eselon II di Bogor memberi dampak besar bagi pembangunan kota. Ini sejalan dengan visi kami menjadikan Bogor sebagai kota riset, kreatif, maju, dan berkelanjutan menuju 2045,” ujarnya.
Dedie juga menyinggung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor yang saat ini didukung oleh lebih dari 36 dapur produksi.
Targetnya, akan ada 102 dapur SBBG yang setiap hari melayani lebih dari 320 ribu penerima manfaat, termasuk pelajar, ibu hamil, dan anak-anak sekolah.
“Kalau tidak ditopang oleh pertanian modern, mustahil program seperti ini bisa jalan. Karena itu, kami siap bersinergi dengan BRMP,” ujarnya.
Selain pameran inovasi, Agrifest 2025 juga diisi dengan bazar pangan murah, workshop kopi dan kewirausahaan, FGD pertanian organik, vaksinasi rabies gratis, hingga pembagian benih tanaman dan DOC ayam KUB kepada masyarakat.
Semua kegiatan ini dirancang agar masyarakat bisa langsung merasakan manfaat dari riset dan inovasi BRMP.
“BRMP hadir bukan hanya untuk peneliti, tapi untuk petani, UMKM, dan masyarakat luas. Kami ingin riset pertanian bisa turun ke sawah, bukan berhenti di laboratorium,” tutup Fadjry.
Melalui Agrifest 2025, BRMP menegaskan komitmennya untuk membangun pertanian modern yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Setelah satu tahun berdiri, lembaga ini membuktikan bahwa riset bukan hanya soal teori, tapi juga soal aksi nyata untuk kedaulatan pangan negeri.