Thursday, 12 March 2026


Pakar IPB: Tinggalkan Pola Lama, AI Jadi Jalan Cepat Swasembada Pangan

18 Nov 2025, 08:49 WIBEditor : Gesha

Pakar IPB menegaskan, pertanian Indonesia harus berani meninggalkan pola lama. Dengan AI dan Big Data, jalan menuju swasembada pangan bisa ditempuh jauh lebih cepat.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Pakar IPB menegaskan, pertanian Indonesia harus berani meninggalkan pola lama. Dengan AI dan Big Data, jalan menuju swasembada pangan bisa ditempuh jauh lebih cepat.

Dunia berubah cepat, dan Indonesia ternyata tidak bisa lagi bertumpu pada cara-cara lama di sektor pertanian.

Guru Besar Teknik Industri Pertanian IPB University sekaligus Ketua BRAIN (Blockchain, Robotics and Artificial Intelligence Networks), Prof. Dr. Yandra Arkeman, M.Eng, menegaskan bahwa kunci menuju swasembada pangan bukan lagi cangkul dan intuisi, melainkan Artificial Intelligence (AI) dan Big Data.

“Pola konvensional tidak cukup. Kalau Indonesia mau swasembada, kita harus beralih ke pertanian presisi berbasis AI,” ujarnya.

Menurut Prof. Yandra, teknologi AI kini mampu mengubah pola kerja pertanian dari tebak-tebakan menjadi serba akurat.

Dulu petani menilai kondisi tanaman hanya dari feeling. Sekarang, AI bisa membaca kebutuhan tanaman secara real-time.

“Dengan AI, kita bisa ‘mendengarkan’ tanaman. Kita tahu kapan dia butuh air, kapan kekurangan nutrisi, kapan mulai terserang penyakit,” katanya.

Bahkan, IPB sudah mengembangkan teknologi drone pintar yang bisa memindai kondisi tanaman dari udara dan mendeteksi penyakit lebih cepat daripada mata manusia.

Hasil penerapan AI ini langsung terasa di lapangan. Produktivitas petani meningkat, penggunaan pupuk jadi jauh lebih efisien, air tidak lagi terbuang sia-sia, dan risiko gagal panen ikut menurun drastis.

Semua keputusan kini diambil berdasarkan data yang akurat, bukan lagi sekadar kira-kira atau mengikuti pola lama yang penuh ketidakpastian.

Prof. Yandra juga menyoroti peran Big Data sebagai “otak besar” pertanian modern.

Ia bilang, pemerintah dan petani butuh data real-time, bukan laporan tahunan, untuk menentukan kapan harus tanam, berapa banyak produksi aman, sampai kapan harus intervensi pasar.

“Pemimpin butuh data ketersediaan pangan yang real-time. Big Data memungkinkan itu,” jelasnya.

Data cuaca, iklim, hingga pergerakan harga pasar bisa diolah oleh AI untuk menghasilkan rekomendasi tanam yang jauh lebih adaptif. Petani pun bisa menghindari kerugian akibat cuaca ekstrem atau harga anjlok mendadak.

Yang bikin publik makin penasaran, Prof. Yandra menegaskan bahwa teknologi ini bukan lagi konsep di atas kertas.

“Kami sudah punya prototipe yang terbukti bekerja di lapangan. Bukan wacana, tapi alat yang bisa langsung dipakai petani," tegasnya.

Beberapa teknologi yang saat ini tengah dikembangkan BRAIN IPB juga sudah mulai menunjukkan hasil.

Ada drone yang bisa memantau kesehatan tanaman dari udara, sistem prediksi panen berbasis AI yang mampu membaca tren produksi, model otomatis untuk menghemat pupuk dan air, hingga dashboard Big Data yang dapat membantu pemerintah menyiapkan kebijakan pangan secara cepat dan tepat.

Seluruh inovasi itu dirancang untuk mempercepat transformasi pertanian Indonesia agar lebih modern dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Menurut Prof. Yandra, percepatan adopsi AI dan Big Data akan menjadi game-changer. Negara lain sudah melaju ke pertanian presisi, sehingga Indonesia tidak boleh tertinggal.

“Kalau kita konsisten pakai AI, swasembada pangan bukan hanya mungkin, tapi bisa dicapai lebih cepat,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa teknologi ini mampu menjaga produktivitas meski Indonesia menghadapi perubahan iklim, kenaikan kebutuhan pangan, dan ancaman gagal panen yang semakin sering.

Pesan terakhirnya cukup keras, tapi menjadi alarm penting bagi Indonesia:

“Kita harus berani meninggalkan pola lama. Tanpa teknologi, produktivitas kita akan stagnan. Dengan AI, pertanian kita bisa melompat.”

Transformasi pertanian bukan hanya soal mesin atau sensor, tapi soal keberanian mengubah cara berpikir.

Prof. Yandra menilai inilah momentum emas Indonesia untuk membangun sistem pangan yang kuat, modern, dan tahan banting.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018