Jumat, 16 Januari 2026


Misteri Kayu Glondongan di Lokasi Bencana Sumatera, Ini Indikasinya

04 Des 2025, 16:26 WIBEditor : Yulianto

Kayu glondongann di lokasi bencana

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Luasnya cakupan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menimbulkan pertanyaan besar, apakah penyebab bencana tersebut?

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, menilai bahwa karakteristik material kayu yang ditemukan di lokasi bencana di Sumatera menunjukkan indikasi keterlibatan aktivitas manusia.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan sebagai kayu lapuk atau dampak runtuhan alami. Temuan tersebut dengan kasus serupa yang pernah ditangani beberapa tahun lalu di kawasan lindung Sumatra Utara.

Menurutnya, hutan yang masih sehat memiliki struktur tajuk yang rapat dan bertingkat, sehingga mampu memecah dan menahan laju air hujan. “Walaupun ada air, dia tidak langsung ke permukaan. Dia jatuh di tajuk, pecah, kemudian sebagian mengalir melalui batang atau stem flow,” katanya seperti dikutip dari laman IPB University.

Prof Bambang menambahkan, keberadaan tumbuhan bawah dan serasah berperan penting dalam menyerap air serta menjaga kestabilan ekosistem hutan.

Lapisan vegetasi yang berjenjang, mulai dari tajuk atas hingga vegetasi bawah,  merupakan sistem penyangga alami yang menjaga keseimbangan lingkungan. “Tuhan menciptakan ini tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” ujarnya

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tumbangnya satu atau dua pohon dalam kondisi alami bukan merupakan ancaman bagi ekosistem. “Pohon ini, kalaupun tumbang, itu tidak banyak. Paling hanya satu, dua. Dan itu alami,” kata dia.

Prof Bambang menerangkan, sistem perakaran pohon tua yang kuat membuat hutan tetap stabil. ketika satu pohon tumbang, ruang kosong tersebut segera diisi oleh regenerasi spesies baru.

Namun, ia melanjutkan, masalah muncul ketika aktivitas pembalakan liar memasuki kawasan hutan. Gangguan pada vegetasi menghilangkan kerapatan tajuk dan membuka celah yang memicu perubahan drastis dalam aliran air serta kestabilan tanah.

“Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” ungkapnya.

Menurut Prof Bambang, hilangnya fungsi tajuk menyebabkan air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah tanpa proses pemecahan alami, sehingga erosi berlangsung lebih cepat dan risiko longsor meningkat.

“Kayu-kayu besar yang ditemukan pascabencana merupakan konsekuensi dari rusaknya lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia tersebut,” tegasnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018