
Panas bumi selama ini dikenal sebagai sumber listrik. Namun dosen UGM ini membuktikan, limbahnya bisa disulap jadi nanosilika penyubur tanaman yang mampu mendongkrak hasil panen hingga 50 persen
TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta -- Panas bumi selama ini dikenal sebagai sumber listrik. Namun dosen UGM ini membuktikan, limbahnya bisa disulap jadi nanosilika penyubur tanaman yang mampu mendongkrak hasil panen hingga 50 persen.
Selama ini panas bumi identik dengan listrik. Uap panas naik dari perut bumi, turbin berputar, lampu menyala, lalu cerita selesai di situ. Namun anggapan itu perlahan runtuh. Di tangan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), panas bumi justru menjelma jadi penopang baru dunia pertanian, diam-diam menyuburkan tanaman dan mendongkrak hasil panen hingga 50 persen.
Adalah Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, dosen Fakultas Teknik UGM, yang mengubah cara pandang tersebut. Ia memanfaatkan endapan silika dari fluida panas bumi, material yang selama ini dianggap limbah menjadi nanosilika bernilai tinggi. Bukan sekadar produk laboratorium, material ini terbukti memberi efek nyata di sawah dan kebun.
“Selama ini silika panas bumi dipandang sebagai sisa produksi. Kami justru melihatnya sebagai sumber daya strategis untuk pertanian berkelanjutan,” ujar Himawan.
Lewat rekayasa material dan pengendalian proses yang dikembangkan bertahap, silika geothermal diolah menjadi nanosilika yang stabil dan konsisten. Prosesnya dirancang agar mudah direplikasi, membuka peluang untuk dikembangkan ke skala industri. Dari sinilah gagasan hilirisasi mulai menemukan jalannya, bergerak pelan tapi pasti keluar dari laboratorium.
Di sektor pertanian, nanosilika bekerja seperti penguat tak kasatmata. Ia memperkuat dinding sel tanaman, membuat batang lebih tegak, sekaligus melancarkan transportasi nutrisi. Ukurannya yang sangat kecil membuat material ini mudah diserap tanaman, tanpa perlu dosis besar. Cukup 1–2 kilogram per hektare, jauh lebih rendah dibanding pupuk makro seperti NPK.
Meski dosisnya minim, dampaknya terasa signifikan. Uji coba lapangan menunjukkan peningkatan produktivitas 30 hingga 50 persen pada berbagai komoditas. Padi dan jagung merespons positif, begitu pula tanaman hortikultura bernilai tinggi seperti alpukat, pepaya, dan anggur. Hasil itu diperoleh dari formulasi terpadu yang mengombinasikan nanosilika dengan bahan humat dan boron, sehingga bukan hanya hasil panen yang naik, tetapi juga kesehatan tanah ikut terjaga.
“Yang kami dorong bukan semata-mata hasil panen, tapi ekosistem tanah dan tanaman yang sehat,” kata Himawan.
Menariknya, pemanfaatan nanosilika geothermal tak berhenti di pertanian. Material yang sama juga merambah sektor teknologi dan energi. Dalam riset lanjutan, nanosilika dikombinasikan dengan hidrogel untuk sistem pendingin pusat data dan baterai. Kombinasi ini meningkatkan daya serap air hidrogel hingga lima kali lipat, membuat proses pendinginan lebih efisien dan ramah energi.
Arah pengembangan riset pun terus meluas, mulai dari material penyerap uap air, biosensor, hingga biomaterial pendukung teknologi hijau. Namun di balik potensi besar itu, tantangan utama tetap berada pada hilirisasi. Himawan menilai, inovasi harus masuk ke rantai nilai industri agar ekonomi sirkular benar-benar berjalan, bukan berhenti sebagai konsep di atas kertas.
“Kami ingin inovasi ini hadir nyata, memberi manfaat langsung, dan tak berhenti di jurnal atau paten,” ujarnya.
Penelitian nanosilika geothermal ini telah digarap sejak 2013 melalui kolaborasi multidisipliner dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri, seperti NTU Singapore, Swinburne University, Kyushu University, dan University of the Philippines. Jejaring internasional tersebut memperkuat kesiapan riset menuju implementasi yang lebih luas.
Atas konsistensinya, Himawan meraih penghargaan Best Innovation pada ajang The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Awards 2025. Penghargaan itu seolah menegaskan satu hal: panas bumi Indonesia menyimpan cerita lain di luar listrik.