
Kegiatan penanaman pohon di lereng Gunung Salak
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Kasus tanah longsor dan banjir bandang di Sumatera dan yang terbaru di Jawa Tengah (Gunung Slamet) menjadi pelajaran berharga bagi semua. Bencana tersebut nukan hanya menyebabkan kerugian materil, tapi juga korban nyawa manusia.
Belajar dari bencana tersebut, Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University 2026 di Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor melakukan penanaman 500 pohon di lereng Gunung Salak, Sabtu (24/1).
Langkah konkret ini merupakan bagian dari Program Antisipasi Bencana Cijeruk (ABC) mahasiswa KKNT sebagai upaya mitigasi risiko longsor di wilayah tersebut.
Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) mendukung kegiatan ini melalui fasilitasi bantuan bibit Pusat Persemaian Modern Rumpin serta donasi 1,5 ton pupuk dari PT Pupuk Indonesia. Adapun jenis pohon yang ditanam meliputi durian, mahoni, ketapang ken ana, dan pucuk merah.
Bersama warga dan perwakilan BPDAS Ciliwung, aksi tanam pohon ini dilakukan sebagai tindak lanjut hasil pemetaan risiko bencana yang sebelumnya diusulkan oleh masyarakat Desa Cijeruk bersama pihak Desa Tangguh Bencana (Destana).
Upaya tersebut diawali dengan edukasi intensif, termasuk sosialisasi mitigasi bencana oleh ARM HA-IPB pada 19 Januari lalu, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi teknis dan penyerahan peta rawan longsor kepada Pemerintah Desa.
Melalui kolaborasi ini, kapasitas masyarakat dalam mengenali potensi bencana diharapkan meningkat, sekaligus menciptakan langkah pelestarian lingkungan jangka panjang bagi Desa Cijeruk.
Mitigasi di Leuweung Bobojong
Sementara itu Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) menjadi narasumber dalam acara yang digagas TIm KKN IPB University tentang mitigasi bahaya bertajuk “Wisata Alam Aman dan Berdaya bagi Masyarakat” di kawasan wisata Leuweung Bobojong, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Senin (19/1).
Koordinator Desa KKN IPB, Agung Kusdanata menyatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya besar dalam mengembangkan potensi ekonomi baru di Desa Tamansari melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan. Sosialisasi bertujuan membekali pengelola wisata dan masyarakat setempat dengan pengetahuan mendalam mengenai prosedur keselamatan di alam terbuka.
Resti Meilani, S.Hut., M.Si., dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB, serta Ir. Kusnadi dari ARM HA-IPB tampil sebagai pembicara. Resti Meilani menekankan bahwa pengelolaan wisata alam yang sukses harus berbasis pada identifikasi bahaya dan risiko. Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara bahaya (hazard) sebagai sumber potensial, dan risiko sebagai dampak buruk yang mungkin terjadi.
"Bahaya bisa datang dari alam seperti cuaca ekstrem dan pohon tumbang, maupun dari faktor manusia seperti kurangnya pengetahuan atau perilaku yang meremehkan alam," jelas Resti.
Ia mengapresiasi langkah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Leuweung Bobojong yang telah menerapkan prosedur pendampingan pemandu untuk jalur trekking tertentu guna meminimalisir kecelakaan.
Sementara itu Kusnadi memaparkan pendekatan mitigasi bencana melalui prinsip permakultur, yaitu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi wisata dengan kelestarian ekosistem.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pengelolaan air hujan di lahan miring dengan prinsip "Lambatkan, Sebarkan, dan Resapkan" untuk mencegah longsor. Selain itu warga diperkenalkan dengan penggunaan vegetasi seperti Vetiver (akar wangi) sebagai penguat struktur tanah alami di lereng-lereng curam.
Beberapa usulan mitigasi strategis diungkapkan, antara lain melalui identifikasi sumber bahaya, penyediaan fasilitas pengaman seperti rambu peringatan dan tali pengaman di jalur ekstrem, serta edukasi pengunjung tentang aspek keselamatan sebelum beraktivitas di kawasan wisata.
Ketua Pokdarwis Tamansari, Suri mengungkapkan, saat ini Leuweung Bobojong tengah menempuh proses legalitas perizinan di zona tradisional Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Ia berharap pelatihan ini menjadi fondasi bagi pengelola untuk memberikan pelayanan yang lebih profesional.
Dengan penguatan mitigasi ini, Leuweung Bobojong diharapkan bukan hanya menjadi destinasi yang indah secara visual melainkan juga menjadi contoh wisata alam yang aman, edukatif, dan mampu memberdayakan ekonomi warga desa secara luas.