Tuesday, 09 June 2026


Jangan Tunggu Padi Habis! Lakukan Langkah Ini untuk Kendalikan Keong Mas

28 Jan 2026, 10:29 WIBEditor : Gesha

Keong mas kerap menyerang padi muda saat musim hujan. Jika dibiarkan, tanaman bisa habis dalam hitungan hari. Pengendalian sejak awal tanam jadi kunci agar sawah tetap aman dan produktif.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Keong mas kerap menyerang padi muda saat musim hujan. Jika dibiarkan, tanaman bisa habis dalam hitungan hari. Pengendalian sejak awal tanam jadi kunci agar sawah tetap aman dan produktif.

Serangan hama keong mas bukan ancaman sepele bagi tanaman padi. Dalam berbagai kajian budidaya padi, keong mas tercatat mampu menyebabkan kerusakan tanaman hingga 50–95 persen pada fase awal pertumbuhan, terutama pada padi berumur di bawah 21 hari. Bahkan pada kondisi serangan berat, bibit padi yang baru ditanam bisa habis dalam waktu kurang dari dua hari, memaksa petani melakukan tanam ulang dan menanggung kerugian tambahan.

Kondisi tersebut kerap terjadi saat musim hujan. Genangan air yang meluas di lahan sawah menjadi lingkungan ideal bagi keong mas untuk bergerak, berkembang biak, dan menyerang tanaman padi yang masih lunak. Jika tidak dikendalikan sejak awal, populasi keong mas dapat meningkat cepat dan menyapu bersih tanaman muda dalam satu petakan.

 

Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) menekankan bahwa pengelolaan keong mas harus dilakukan pada fase paling kritis, yakni awal masa tanam. Pada sistem tanam pindah, periode rawan berlangsung sejak tanam hingga 10 hari pertama. Sementara pada sistem tanam benih langsung atau tabela, risiko serangan dapat terjadi hingga 21 hari setelah tanam.

 

Serangan keong mas umumnya ditandai dengan bibit padi yang terpotong di bagian pangkal batang, tanaman hilang tidak beraturan, serta pertumbuhan yang tidak seragam. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan populasi tanaman per hektare, yang pada akhirnya menurunkan potensi hasil panen secara signifikan.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, BRMP merekomendasikan pemasangan pagar plastik di sekeliling sawah. Langkah ini bertujuan membatasi pergerakan keong mas dari luar lahan, terutama saat air hujan meluap dan membawa hama masuk ke area pertanaman.

Selain pagar, saluran irigasi juga perlu dilengkapi dengan saringan. Aliran air sering menjadi media penyebaran keong mas antarlahan. Dengan saringan, keong dapat tertahan sebelum masuk ke petakan sawah, sehingga risiko serangan dapat ditekan sejak awal.

Penggunaan bibit dengan umur tanam yang tepat turut berperan penting. Bibit yang terlalu muda lebih rentan terhadap serangan keong mas. Tanaman yang sedikit lebih kuat memiliki peluang bertahan lebih besar pada fase awal pertumbuhan.

BRMP juga menganjurkan pembuatan parit di sekeliling sawah. Parit berfungsi sebagai tempat berkumpulnya keong mas, sehingga hama tidak menyebar ke seluruh petakan dan lebih mudah dikumpulkan serta dikendalikan secara manual.

Upaya lain yang dinilai efektif adalah menancapkan bambu atau ajir di sawah sebagai tempat keong mas meletakkan telur. Telur-telur yang menempel dapat dikumpulkan dan dimusnahkan secara rutin, sehingga siklus hidup hama dapat diputus sebelum menetas.

Sebagai pengendali hayati, pelepasan bebek juga dapat dimanfaatkan. Bebek dilepas ke sawah saat tanaman padi berumur sekitar 35 hari, ketika tanaman sudah cukup kuat dan keong mas masih menjadi sumber pakan alami.

Pengendalian keong mas secara terpadu menjadi kunci untuk menekan kerugian. Dengan kombinasi langkah pencegahan dan pengendalian sejak awal musim tanam, risiko kehilangan tanaman dapat diminimalkan. Pesannya tegas: jangan tunggu padi habis, karena sekali terlambat, keong mas bisa mengubah hamparan hijau menjadi sawah kosong dalam sekejap.

 
 
Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018