Saturday, 17 October 2026


Mentan Beli Hasil Inovasi Perguruan Tinggi

12 Mar 2026, 11:32 WIBEditor : Yulianto

Mentan Andi Amran Sulaiman bersama para rektor perguruan tinggi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian memberikan apresiasi inovasi dari perguruang tinggi dengan membeli hasil penelitian. Diantaranya alat panjat pemetik kelapa, traktor apung, alat pengering jagung portable hingga varietas benih padi dan jagung.

Pemanfaatan hasil riset tersebut disepakati dalam penandatangan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan Menteri Pertanian bersama Mentan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang sinergi riset dan inovasi untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan hilirisasi komoditas pertanian di Jakarta, Kamis (12/3).

Amran mengatakan, dari hasil rapat bersama Mendiktisaintek dan Kepala BRIN, serta seluruh rektor yang terkait sektor pertanian, pihaknya sudah melakukan MoU terkait banyaknya -penemuan baru dari kampus. ”Kami langsung membeli, jadi ini aksi nyata. Ini bukan hanya dalam hayalan, tapi kita langsung beli langsung sesuai kebutuhan petani Indonesia,” ujarnya. 

Pertama ungkap Amran dari ITS ada alat panjat kelapa. Selama ini untuk memetik kelapa di beberapa daerah menggunakan hewan monyet. ”Sekarang ada alat panjat, jadi tidak menggunakan lagi monyet. Kami langsung minta 10 unit untuk uji coba,” ujarnya.

Dengan tingginya permintaan di dunia, ekspor produk kelapa Indonesia naik. Karena itu, kini pemerintah mendorong program peremajaan dan hilirisasi kelapa. Untuk peremajaan, kata Amran, pemerintah menyiapkan anggaran hingga Rp 9,9 triliun dengan luas lahan hingga 870 ribu hektar. ”Ini hiba untuk rakyat,” ujarnya.

Kedua, pemerintah membeli traktor terapung yang nilainya jauh lebih murah. Untuk sementara traktor tersebut masih uji coba. ”Kami sudah lihat tadi operasional di lapangan,” ujarnya.

Ketiga, lanjut Amran, pihaknya membeli alat pengering (dryer) jagung dari ITB sebanyak 4 unit. Sebenarnya alat tersebut sudah dioperasionalkan salah satu perusahaan pakan ternak. “Aku pikir dryer tersebut barang impor, ternyata yang menemukan adalah dosen ITB. Kami langsung minta dibeli,” ujarnya.

Dengan kelebihan dryer portable ini bisa mendekati lokasi petani, di tengah kebun jagung, Amran menilai, akan sangat efektif membantu petani. Karena itu, dirinya benriat akan menambah lagi tahun depan. ”Yang tersedia sekarang aku beli 4 unit,” ujarnya. 

Untuk IPB, Amran mengakui sudah menjadi langganan, seperti varietas jagung dan padi dengan volume benih sebanyak 6 ribu ton. Sementara dari Universitas Hasanudin varietas  ayam unggul.  ”Ayam lokal yang produktivitasnya sangat tinggi. Mungkin tahun depan kita mulai,” katanya.

Sedangkan Universitas Andalas, Padang, industri Gambir.  Selama ini komoditas Gambir, Indonesia menguasai pasar dunia hampir 80 persen. ”Selama ini kita ekspor tapi masih bahan baku, harusnya hilirisasi. Itulah perintah Bapak Presiden. Seluruh komoditas kita hilirisasi,” katanya.

Dengan hilirisasi, Amran mengatakan, Indonesia bisa mendapatkan nilai tambah. Bahkan hitungan perguruan tinggi nilai tambah gambir mencapai Rp 5 ribu triliun. Contoh nilai tambah dari gambir yakni sebagai bahan tinta dan shampo, hingga sabun. ”Jadi yang kita ekspor adalah produknya, bukan bahan mentah,” ujarnya.

”Intinya adalah seluruh komoditas pertanian maupun sektor lain,  kita hilirisasi, sehingga bisa mengantar Indonesia menjadi negara super power. Bayangkan, dari hilirisasi kelapa bisa Rp 5 ribu triliun,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018