Sunday, 12 July 2026


Kemarau 2026 Mengintai, Amran Gaspol Siapkan Jurus Hemat Air demi Selamatkan Panen

30 Mar 2026, 07:33 WIBEditor : Gesha

Kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal dan panjang. Menteri Amran tancap gas dengan strategi hemat air untuk menjaga panen tetap optimal meski cuaca ekstrem mengintai.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal dan panjang. Menteri Amran tancap gas dengan strategi hemat air untuk menjaga panen tetap optimal meski cuaca ekstrem mengintai.

Musim kemarau 2026 diprediksi tiba lebih awal, berlangsung lebih panjang, sekaligus membawa potensi kekeringan lebih parah di sebagian besar wilayah Indonesia.

Prediksi ini muncul akibat perubahan fase iklim global El Niño–Southern Oscillation (ENSO)  yang diperkirakan akan bergeser dari netral menuju fase El Niño pada pertengahan tahun, memengaruhi pola cuaca di seluruh Nusantara hingga akhir 2026.

Fenomena El Niño merupakan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang berdampak pada distribusi curah hujan, khususnya di negara-negara tropis seperti Indonesia.

Ketika El Niño kuat terjadi, tekanan udara di wilayah Pasifik bagian barat cenderung meningkat, mengakibatkan berkurangnya pembentukan awan hujan di kawasan Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan bahwa sebagian besar wilayah di Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih cepat dari waktu normal klimatologinya pada 2026.

Prediksi ini bersandar pada pengamatan kondisi ENSO yang pada awal tahun masih berada di fase netral, namun berpotensi berubah menjadi *El Niño* lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini.

Prediksi BMKG menunjukkan sekitar 46,5 persen zona musim akan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dari biasanya, sementara 23,7 persen zona musim lain diperkirakan memasuki musim kemarau sesuai waktu normalnya.

Wilayah terdampak antara lain Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan dan Papua.

Selain itu, beberapa model iklim internasional turut mendeteksi adanya sinyal awal El Niño yang mulai berkembang sejak April 2026. Dalam beberapa proyeksi, intensitas El Niño diperkirakan dapat meningkat signifikan jika bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), sebuah fenomena lain yang memengaruhi curah hujan di kawasan Samudra Hindia.

Ketika El Niño dan IOD positif terjadi bersamaan, risiko kekeringan ekstrem di Indonesia akan semakin tinggi.

Data sejarah menunjukkan bahwa peristiwa El Niño di masa lalu pernah menyebabkan dampak besar pada produksi pertanian nasional, misalnya pada kejadian El Niño yang terjadi tahun 1997/1998 dan 2015, kekeringan panjang mengakibatkan penurunan produksi padi, jagung, dan kedelai dalam jumlah besar, bahkan terjadi penurunan luas tanam padi hingga menyebabkan kebutuhan impor beras meningkat.

Menurut kajian iklim ekstrem di sektor pertanian, ketika El Niño dan IOD positif terjadi secara bersamaan pada fase yang sama,  terutama pada puncak musim kemarau,  potensi kekeringan bertahan lebih lama dan mengurangi curah hujan signifikan.

Dampaknya tidak hanya terhadap produksi padi, tetapi juga tanaman jagung, kedelai, dan komoditas palawija lain yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Misalnya, dari data BMKG Q3 2023, kekeringan akibat El Niño menyebabkan ribuan hektar sawah terdampak dan gagal panen di sebagian wilayah Indonesia. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan produksi padi hingga 2 persen pada tahun 2023 terkait kondisi kekeringan panjang.

Luas panen yang turun ribuan hektar berarti potensi kehilangan produksi yang besar, di mana padi sebagai sumber karbohidrat utama masyarakat Indonesia bisa berkurang signifikan tanpa mitigasi yang efektif.

Ini juga dapat menekan harga pangan lokal, meningkatkan tekanan pada rumah tangga berpendapatan rendah, serta menantang target produksi nasional yang sudah ditetapkan pemerintah.

Strategi Hemat Air

Mengantisipasi kondisi iklim yang tidak menentu akibat perubahan fase ENSO, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan efisiensi penggunaan air sebagai strategi utama untuk menjaga produktivitas pertanian.

Dalam siaran pers resmi yang dirilis akhir Maret 2026, Amran menekankan pentingnya pengelolaan air yang lebih cermat di lahan pertanian, terutama di sawah yang mengandalkan irigasi.

Salah satu teknologi yang diandalkan adalah metode alternate wetting and drying (AWD), sebuah teknik irigasi yang memungkinkan pengairan sawah dilakukan secara teratur dan terukur sehingga konsumsi air bisa ditekan tanpa mengurangi hasil panen.

Ali Pramono, analis Balai Perakitan dan Pengujian Lingkungan Pertanian, menjelaskan teknis AWD. Air di sawah diatur melalui pipa paralon berdiameter 10-15 cm, dilubangi dan dibungkus kain kasa, sehingga memudahkan pemantauan muka air tanah.

Air diberikan kembali ketika level turun 10-15 cm di bawah permukaan tanah, dengan tinggi muka air 3-5 cm. Siklus ini diulang sepanjang pertumbuhan padi, termasuk fase kritis pemupukan dan berbunga.

“AWD tidak hanya hemat air, tapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah, sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil,” kata Ali.

Teknisnya, sistem AWD bekerja dengan cara membiarkan air di sawah surut setelah periode penggenangan tertentu, kemudian diairi kembali ketika level air turun hingga batas tertentu.

Pengelolaan ini didukung oleh alat pemantau sederhana berupa pipa paralon berlubang yang dibenamkan di tanah sawah untuk mengukur ketinggian air secara akurat.

Dengan strategi ini, penggunaan air irigasi dapat dipangkas hingga 20 persen, tetapi produktivitas padi tetap optimal.

Menurutnya, pengelolaan air yang baik tidak hanya membantu menghadapi kekeringan, tetapi juga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres kekeringan di fase kritis seperti pemupukan dan pembungaan.

Selain itu, pemerintah telah menyiapkan paket antisipatif lain termasuk penguatan jaringan irigasi skala nasional, optimalisasi sistem irigasi perpompaan di area non-rawa, sistribusi bantuan pompa air ke daerah pertanian yang rawan kekeringan hingga penyediaan benih unggul tahan kekeringan untuk menjaga produktivitas.

 

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018