Friday, 07 August 2026


BRIN Peringatkan El Nino Godzilla, Ini Wilayah di Indonesia yang Paling Berisiko Kekeringan

30 Mar 2026, 07:44 WIBEditor : Gesha

BRIN memperingatkan potensi El Nino “Godzilla” yang bisa membuat musim kemarau 2026 lebih panjang dan kering, mengancam pasokan air serta sektor pertanian di Indonesia.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- BRIN memperingatkan potensi El Nino “Godzilla” yang bisa membuat musim kemarau 2026 lebih panjang dan kering, mengancam pasokan air serta sektor pertanian di Indonesia.

Peringatan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang potensi kemunculan El Nino dengan intensitas super, atau yang kerap dijuluki “Godzilla”, mulai ramai diperbincangkan.

Fenomena ini diprediksi bisa membuat musim kemarau 2026 lebih panjang dan kering dari biasanya, terutama di sejumlah wilayah barat dan selatan Indonesia.

Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, sejumlah ahli mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik.

Pengamat pertanian Khudori menekankan bahwa informasi soal El Nino “Godzilla” masih bersifat awal dan belum sepenuhnya pasti.

“Soal El Nino ‘Godzilla’ ini masih sumir. Mungkin maksud periset BRIN agar publik sadar akan bahayanya dan pemerintah bisa ambil langkah sigap,” kata Khudori.

Ia menambahkan, terlalu cepat menyimpulkan kondisi terburuk bisa kontraproduktif.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya El Nino ekstrem saat ini relatif kecil.

“Menurut kolega saya di BMKG, kondisinya sebetulnya peluang untuk sampai level super kuat, atau disebut Godzilla, hanya 15–20%. Peluang terbesarnya hanya sampai level moderate,” jelas Khudori.

Ia juga mengingatkan bahwa prediksi ENSO memiliki keterbatasan jangka waktu. Akurasi prediksi yang dirilis Februari–April biasanya hanya bisa diandalkan sampai tiga bulan ke depan.

Meski peluang terjadinya El Nino “Godzilla” masih kecil, BRIN menegaskan perlunya kewaspadaan.

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berpengaruh pada pola hujan di Indonesia.

Dalam fase kuat, fenomena ini bisa memicu anomali iklim signifikan, membuat musim kemarau lebih panjang dan curah hujan menurun drastis.

“Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat ‘Godzilla’, menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering,” tulis periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, melalui unggahan resmi Instagram @brin_indonesia.

Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diperkirakan terjadi. IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang turut memperparah penurunan curah hujan di wilayah barat Indonesia.

Kombinasi dua fenomena ini diprediksi akan berlangsung sepanjang musim kemarau, dari April hingga Oktober 2026.

“Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan,” terang Erma. Model prediksi BRIN menunjukkan dampak dari El Nino dan IOD positif tidak akan merata di seluruh Indonesia.

Secara geografis, Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan paling awal merasakan dampak kemarau kering.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat wilayah tersebut termasuk lumbung padi nasional. Kekeringan yang lebih lama berpotensi mengganggu produksi pertanian, terutama padi, palawija, dan hortikultura.

Sementara itu, wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, diprediksi masih akan mengalami curah hujan relatif tinggi meski memasuki periode musim kemarau. Hal ini menunjukkan bahwa dampak “Godzilla” tidak homogen dan bervariasi antarwilayah.

BRIN juga menyoroti pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah dan masyarakat. Untuk wilayah terdampak, pemantauan kebutuhan air untuk pertanian, irigasi, dan cadangan pangan menjadi krusial.

Selain itu, diversifikasi tanaman hingga pengaturan jadwal tanam bisa membantu meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan.

Sejumlah pakar menyarankan masyarakat tidak hanya bergantung pada prediksi jangka panjang. Pemanfaatan data cuaca harian, pemetaan risiko lokal, dan koordinasi dengan instansi terkait seperti BMKG, Kementerian Pertanian, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dianggap langkah bijak.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta memahami bahwa istilah “Godzilla” hanyalah istilah simbolis untuk menggambarkan kekuatan El Nino ekstrem, bukan prediksi kepastian bencana.

“Penting diingat, prediksi super El Nino ini bukan kepastian. Masyarakat harus aware tapi tidak panik,” ujar Khudori.

Dengan musim kemarau yang diprediksi lebih panjang, BRIN menegaskan perlunya kesiapsiagaan berbasis data ilmiah. Sektor pertanian menjadi sorotan utama, tetapi dampak kekeringan juga bisa meluas ke sektor energi, air bersih, hingga ekonomi lokal.

Kombinasi pengamatan sains, mitigasi dini, dan adaptasi masyarakat akan menjadi kunci untuk menghadapi kemungkinan El Nino “Godzilla” tahun ini.

Seiring perkembangan musim kemarau, publik diharapkan tetap mengikuti informasi resmi dari BRIN dan BMKG. Dengan pemahaman yang tepat, ancaman kekeringan ekstrem bisa diantisipasi tanpa menimbulkan kepanikan yang justru merugikan.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018