
El Nino 2026 diprediksi tampil berbeda dari 2015 dan 2019, BMKG mengungkap pola tak merata.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- El Nino 2026 diprediksi tampil berbeda dari 2015 dan 2019, BMKG mengungkap pola tak merata.
Fenomena El Nino kembali diprediksi memengaruhi pola cuaca Indonesia pada 2026.
Namun, jika menoleh ke belakang, ke tahun 2015 yang kering menggigit dan 2019 yang lebih “tenang” tahun ini terasa lebih beda.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, menyampaikan bahwa dalam satu dekade terakhir, Indonesia telah mengalami tiga kali El Nino, yakni 2015 (kuat), 2019 (moderat), dan 2023 (moderat).
Sementara itu, periode 2020 hingga 2022 justru diwarnai oleh La Nina yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut yaitu sebuah fase “basah panjang” sebelum kembali berbalik arah.
Kini, 2026 datang membawa pola yang tidak sepenuhnya mengikuti jejak masa lalu.
Tidak sepenuhnya kering seperti 2015, tapi juga tidak bisa disebut ringan seperti 2019.
Jika 2015 dikenal sebagai tahun ketika sebagian besar wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan secara signifikan, maka 2026 justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Menurut analisis BMKG, distribusi hujan tahun ini tidak merata.
Ada wilayah yang diprediksi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun di saat yang sama ada juga wilayah yang justru lebih basah.
Dibandingkan dengan 2015, sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 diperkirakan mengalami kondisi yang lebih kering.
Namun, pengecualian muncul di beberapa daerah seperti Kalimantan bagian utara, Papua, dan sebagian wilayah Jawa yang masih berpotensi menerima curah hujan relatif lebih tinggi.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan 2019, yang tergolong El Nino moderat, tahun 2026 juga menunjukkan kecenderungan lebih kering secara umum.
Meski demikian, wilayah Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan memiliki kondisi yang sedikit berbeda dengan peluang hujan yang relatif lebih tinggi.
Perbandingan ini menunjukkan satu hal: El Nino 2026 tidak bisa disederhanakan sebagai “lebih buruk” atau “lebih ringan”.
Ketika dibandingkan dengan El Nino kuat seperti 1982 dan 1997 atau dua periode yang sering dijadikan acuan ekstrem, tahun 2026 justru memperlihatkan pola yang tidak sepenuhnya kering.
Wilayah Indonesia timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua diprediksi mengalami kondisi yang lebih basah dibandingkan dua periode tersebut. Ini menjadi salah satu perbedaan paling mencolok.
Namun, di sisi lain, wilayah Sumatera bagian selatan justru diperkirakan akan mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan periode 1982 maupun 1997.
Perbedaan ini mempertegas bahwa dampak El Nino 2026 bersifat spasial atau berbeda antarwilayah, bahkan dalam satu pulau yang sama.
Perubahan Musiman
Selain perbedaan antarwilayah, perubahan juga terlihat pada pola waktu atau musiman.
Pada April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi curah hujan menengah hingga tinggi.
Namun, sinyal peralihan musim mulai terlihat, terutama di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, dan Nusa Tenggara.
Memasuki Mei, wilayah dengan curah hujan rendah mulai meluas.
Hampir seluruh Pulau Jawa menunjukkan penurunan curah hujan yang cukup signifikan.
Kondisi serupa juga mulai terjadi di sebagian wilayah Sumatera bagian selatan.
Pada Juni, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan sudah memasuki fase kering, dengan curah hujan rendah.
Hanya sebagian kecil wilayah Papua yang masih mempertahankan curah hujan relatif lebih tinggi.
Puncak kondisi kering diperkirakan terjadi pada Juli hingga September.
Pada periode ini, hampir seluruh wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan rendah hingga sangat rendah.
Jika dibandingkan dengan 2015 dan 2019, percepatan musim kering pada 2026 menjadi salah satu indikator penting yang perlu diwaspadai.
Tidak hanya jumlah curah hujan yang menjadi perhatian, tetapi juga sifat hujan.
BMKG memprediksi bahwa mulai Juni hingga September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan didominasi oleh sifat hujan kategori bawah normal.
Artinya, curah hujan yang terjadi tidak hanya lebih sedikit secara absolut, tetapi juga berada di bawah rata-rata klimatologis yang biasanya terjadi pada periode tersebut.
Dalam konteks praktis, kondisi ini dapat berdampak pada ketersediaan air, terutama untuk sektor pertanian dan kebutuhan domestik.
Membaca Pola
Jika melihat periode 2015 hingga 2025, pola iklim di Indonesia menunjukkan dinamika yang cukup tinggi.
Setelah El Nino kuat pada 2015, kondisi sempat beralih ke fase netral dan kemudian kembali ke El Nino moderat pada 2019.
Setelah itu, La Nina berlangsung cukup panjang dari 2020 hingga 2022, sebelum kembali ke El Nino pada 2023.
Pola ini menunjukkan bahwa variabilitas iklim semakin kompleks, dengan pergantian fase yang relatif cepat.
Dalam konteks ini, El Nino 2026 menjadi bagian dari rangkaian dinamika tersebut, namun dengan karakter yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi hanya berdasarkan pola sebelumnya.
Dibandingkan 2015 yang cenderung kering merata, dan 2019 yang relatif lebih moderat, tahun 2026 menunjukkan kombinasi kondisi kering dan basah dalam waktu yang bersamaan di wilayah yang berbeda.
Perbedaan ini menjadi tantangan tersendiri, baik bagi pemerintah, sektor usaha, maupun masyarakat.
BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan dan perencanaan berbasis informasi iklim terbaru.
Dengan memahami karakter El Nino 2026 secara lebih rinci, diharapkan dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.