Friday, 15 May 2026


Kemarau 2026 Disebut Bisa Picu Karhutla, BMKG-BPBD-BRMP Bengkulu Langsung Bergerak

15 Apr 2026, 10:34 WIBEditor : Gesha

Kemarau 2026 diprediksi picu karhutla di Bengkulu. BMKG bersama BPBD dan BRMP langsung bergerak cepat perkuat kesiapsiagaan lintas sektor.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bengkulu -- Kemarau 2026 diprediksi picu karhutla di Bengkulu. BMKG bersama BPBD dan BRMP langsung bergerak cepat perkuat kesiapsiagaan lintas sektor.

Ancaman musim kemarau 2026 mulai diantisipasi serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Bengkulu bergerak cepat menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bengkulu untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi meningkat saat musim kemarau.

Langkah ini dilakukan melalui kunjungan koordinasi dan diseminasi informasi iklim pada Senin (6/4/2026). Kunjungan pertama berlangsung di Kantor BPBD Provinsi Bengkulu dan disambut langsung oleh Plt Kalaksa BPBD, Khristian Hermansyah.

Dalam pertemuan tersebut, BMKG memaparkan secara komprehensif kondisi iklim global hingga prediksi musim kemarau 2026. Paparan itu mencakup berbagai potensi dampak yang perlu diwaspadai, mulai dari kekeringan, meningkatnya risiko karhutla, hingga penurunan kualitas udara yang dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Informasi prakiraan iklim ini menjadi landasan penting bagi BPBD dalam menyusun strategi kesiapsiagaan. Mulai dari penyiapan sumber daya, pemetaan wilayah rawan, hingga langkah mitigasi dini agar dampak bencana bisa ditekan seminimal mungkin.

Koordinasi kemudian dilanjutkan ke Kantor Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bengkulu. Rombongan BMKG diterima oleh Kepala instansi tersebut, Shannora Yuliasari.

Di lokasi ini, penyebaran informasi tidak hanya dilakukan secara tatap muka. BRMP turut memfasilitasi sosialisasi melalui Zoom Meeting yang melibatkan jajaran Dinas Pertanian serta para penyuluh pertanian lapangan.

Langkah ini dinilai strategis karena memastikan informasi prakiraan iklim tidak berhenti di tingkat pengambil kebijakan saja, tetapi juga sampai langsung ke petani sebagai pengguna akhir. Dengan begitu, para petani dapat menyesuaikan pola tanam dan jadwal produksi sesuai kondisi cuaca yang diprediksi.

BMKG Bengkulu memprediksi awal musim kemarau 2026 akan terjadi pada akhir Mei, atau lebih cepat dibandingkan kondisi normal. Selain itu, sifat hujan diperkirakan didominasi kategori bawah normal, yang berarti kondisi akan cenderung lebih kering dari biasanya.

Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada periode Juli hingga Agustus 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan tutupan lahan kering dan minim sumber air.

Dari sisi dinamika iklim global, BMKG menjelaskan bahwa indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) diperkirakan berada dalam fase netral hingga pertengahan tahun. Namun, terdapat potensi perubahan menuju El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026.

Di sisi lain, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada kondisi netral hingga Juni 2026. Kombinasi faktor-faktor ini dinilai turut memengaruhi pola curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Bengkulu.

Tak hanya sektor kebencanaan, dampak musim kemarau juga akan dirasakan oleh sektor pertanian dan kelautan. Petani diimbau untuk menyesuaikan pola tanam guna menghindari risiko gagal panen akibat kekeringan.

Sementara itu, nelayan diminta lebih memperhatikan informasi cuaca dan iklim sebelum melaut, guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

BMKG menegaskan, penguatan koordinasi lintas sektor dan penyebaran informasi iklim secara masif menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. Dengan kesiapsiagaan yang matang, diharapkan dampak yang ditimbulkan, khususnya karhutla, dapat diminimalkan.

Upaya ini sekaligus menjadipengingat bahwa menghadapi ancaman iklim ekstrem tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga teknis, hingga masyarakat agar risiko yang ada dapat diantisipasi sejak dini.

Reporter : NATTASYA
Sumber : BMKG Bengkulu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018