Friday, 15 May 2026


Kesalahan Pemupukan Bikin Produksi Padi Anjlok, Ini Penjelasan BRMP

20 Apr 2026, 07:37 WIBEditor : Gesha

roduksi padi bisa turun drastis akibat kesalahan dalam pemupukan yang tidak berimbang. BRMP Tanah dan Pupuk menjelaskan pentingnya pengelolaan hara yang tepat agar hasil panen tetap optimal dan berkelanjutan di tengah tantangan pertanian saat ini.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Produksi padi bisa turun drastis akibat kesalahan dalam pemupukan yang tidak berimbang. BRMP Tanah dan Pupuk menjelaskan pentingnya pengelolaan hara yang tepat agar hasil panen tetap optimal dan berkelanjutan di tengah tantangan pertanian saat ini.

Kesalahan dalam pengelolaan pupuk masih menjadi salah satu faktor yang sering memicu turunnya produktivitas padi di berbagai daerah. Hal ini kembali ditegaskan dalam Workshop Teknologi Sumber Daya Lahan yang digelar oleh BRMP Sumberdaya Lahan Pertanian, dengan narasumber dari BRMP Tanah dan Pupuk, Ema Lindawati.

Dalam paparannya, Ema menegaskan bahwa pupuk berperan besar dalam peningkatan hasil pertanian, dengan kontribusi sekitar 20 hingga 40 persen terhadap produktivitas tanaman. Namun, kesalahan dalam penerapan justru bisa membuat hasil panen turun drastis.

“Keberhasilan peningkatan produktivitas pertanian tidak terlepas dari pupuk yang berkontribusi sebesar 20 sampai 40 persen. Tapi kalau tidak tepat, hasilnya bisa tidak optimal,” ujar Ema.

Ema menjelaskan bahwa konsep pemupukan berimbang menjadi kunci utama dalam budidaya padi sawah. Pemupukan harus disesuaikan dengan status hara tanah dan kebutuhan tanaman agar hasilnya optimal dan efisien.

Ia menegaskan bahwa tidak semua unsur hara harus diberikan secara berlebihan. Prinsipnya adalah hanya menambahkan unsur yang memang kurang di dalam tanah.

“Tidak semua hara ditambahkan, cukup yang dibutuhkan saja sesuai kondisi tanah dan tanaman,” jelasnya.

Selain pupuk anorganik, BRMP juga menekankan pentingnya pupuk organik. Kombinasi keduanya penting untuk menjaga kesuburan tanah, terutama kandungan C-organik, serta mencegah degradasi lahan.

Dampak Serius

Menurut Ema, pemupukan yang tidak berimbang dapat menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap produktivitas pertanian. Ia menjelaskan bahwa salah satu dampak paling nyata adalah produksi yang tidak optimal karena unsur hara di dalam tanah menjadi tidak seimbang, sehingga tanaman tidak bisa tumbuh secara maksimal. Kondisi ini biasanya terjadi ketika petani hanya mengandalkan satu jenis pupuk tanpa memperhatikan kebutuhan tanaman secara menyeluruh.

Selain itu, kesuburan tanah juga dapat mengalami penurunan akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik. Dalam jangka panjang, ketergantungan ini membuat struktur tanah menjadi kurang sehat, bahkan cenderung keras dan kurang mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Ema menegaskan bahwa kondisi ini sering tidak disadari petani karena perubahan terjadi secara perlahan.

Dampak lainnya terlihat pada kualitas hasil panen yang ikut menurun. Tanaman yang tidak mendapatkan nutrisi seimbang berpotensi menghasilkan gabah yang hampa atau memiliki kandungan gizi yang lebih rendah dari standar ideal. Hal ini tentu berdampak langsung pada nilai jual dan kualitas pangan yang dihasilkan.

Tidak hanya itu, pemupukan yang tidak tepat juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Akumulasi residu pupuk anorganik dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tanah dan air di sekitar lahan pertanian, sehingga berdampak lebih luas terhadap ekosistem.

Ema juga menegaskan bahwa penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tanpa kombinasi pupuk organik dapat memperburuk kondisi tanah. “Kalau hanya pakai pupuk anorganik terus-menerus tanpa organik, tanah bisa keras dan mikroorganisme tanah menurun,” katanya, menekankan pentingnya keseimbangan dalam pemupukan agar tanah tetap sehat dan produktif.

Kebutuhan Per Komoditas

Ema juga menjelaskan konsep Hukum Minimum Liebig, yaitu pertumbuhan tanaman ditentukan oleh unsur hara yang paling rendah atau menjadi faktor pembatas.

Contohnya, jika unsur Cu atau K rendah, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat meskipun unsur lain tercukupi.

“Tambahkan unsur yang kurang sampai kebutuhan tanaman terpenuhi. Itu kunci hukum minimum,” ujarnya.

Dalam materi yang dipaparkan, kebutuhan unsur hara untuk produksi padi dijelaskan secara cukup rinci, di mana untuk setiap 1 ton gabah kering giling (GKG) dibutuhkan nitrogen sekitar 17,5 kilogram, fosfor 3 kilogram, dan kalium 17 kilogram. 

Dengan demikian, ketika target produksi ditingkatkan menjadi 6 ton GKG, maka kebutuhan unsur haranya juga ikut meningkat signifikan, yakni nitrogen menjadi sekitar 105 kilogram, fosfor 18 kilogram, dan kalium 102 kilogram.

Namun demikian, dalam praktiknya penggunaan pupuk NPK saja sering kali belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan unsur hara tersebut. Sebagai contoh, penggunaan pupuk NPK 15-10-12 sebanyak 300 kilogram hanya memberikan kontribusi sekitar 45 kilogram nitrogen, 12,9 kilogram fosfor, dan 30 kilogram kalium. Angka ini menunjukkan bahwa masih terdapat kekurangan terutama pada unsur nitrogen dan kalium.

Kekurangan tersebut harus dipenuhi melalui sumber lain seperti pupuk urea untuk tambahan nitrogen serta bahan organik yang dapat membantu menyuplai unsur hara sekaligus memperbaiki kondisi tanah. 

Dengan demikian, keseimbangan antara pupuk anorganik dan organik menjadi sangat penting agar kebutuhan tanaman dapat terpenuhi secara optimal dan produksi padi tetap maksimal.

BRMP juga menekankan bahwa jerami padi tidak boleh dibuang. Jerami dapat menjadi sumber tambahan kalium (K) dan bahan organik tanah.

“Jerami sebaiknya dikembalikan ke tanah karena bisa menjadi cadangan unsur hara,” jelas Ema.

Selain itu, pupuk organik dari kotoran ternak dan sisa tanaman berfungsi sebagai penyimpan unsur hara jangka panjang seperti N, P, K, Mg, dan S.

Waktu Pemupukan

Pemupukan padi umumnya dibagi ke dalam beberapa fase pertumbuhan yang masing-masing memiliki kebutuhan unsur hara berbeda. Pada fase awal atau sekitar 0 hingga 14 hari setelah tanam, pemberian nitrogen disarankan tidak lebih dari 30 persen dari total kebutuhan.

Selanjutnya pada fase pembentukan anakan, kebutuhan nitrogen meningkat menjadi sekitar 35 persen untuk mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman. Sementara itu, pada fase pembentukan malai hingga menjelang panen, kebutuhan nitrogen dapat mencapai 55 hingga 60 persen untuk mendukung pengisian bulir secara optimal.

Dalam praktiknya, BRMP Sumberdaya Lahan Pertanian juga mendorong penggunaan alat bantu seperti BWD atau Bagan Warna Daun untuk mengukur kebutuhan nitrogen secara langsung di lapangan. Alat ini membantu petani menilai kondisi tanaman secara visual sehingga dosis pupuk dapat disesuaikan lebih presisi dan tidak berlebihan.

Ema menegaskan bahwa keberhasilan produksi padi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan, tetapi lebih pada ketepatan dalam pemupukan itu sendiri.

Menurutnya, pemupukan yang berimbang, kombinasi antara pupuk organik dan anorganik, serta penyesuaian dengan kondisi tanah merupakan kunci utama untuk menjaga produktivitas tetap optimal.

“Pemupukan berimbang, kombinasi organik-anorganik, serta penyesuaian dengan kondisi tanah adalah kunci utama untuk menjaga produksi tetap optimal,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan berbasis kondisi lapangan tersebut, BRMP menilai bahwa kesalahan dalam pemupukan masih menjadi salah satu penyebab utama turunnya produksi padi.

Namun, masalah tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila petani mendapatkan edukasi yang tepat serta dukungan teknologi yang sesuai di lapangan.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018