Tuesday, 09 June 2026


Teknologi Smart Irrigation Hemat Air Jadi Senjata Baru Petani Hadapi El Nino 2026

20 Apr 2026, 11:38 WIBEditor : Gesha

Perubahan iklim dan ancaman El Nino 2026 mendorong petani beralih ke teknologi smart irrigation hemat air yang mampu mengatur kebutuhan air secara efisien, otomatis, dan berbasis sensor digital.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Perubahan iklim dan ancaman El Nino 2026 mendorong petani beralih ke teknologi smart irrigation hemat air yang mampu mengatur kebutuhan air secara efisien, otomatis, dan berbasis sensor digital.

Perubahan iklim kembali jadi perhatian besar di sektor pertanian Indonesia. Dalam Workshop Teknologi Sumber Daya Lahan yang digelar BRMP Sumber Daya Lahan Pertanian, narasumber Adang Hamdani dari BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian menegaskan bahwa tantangan terbesar pertanian ke depan bukan hanya soal produksi, tapi soal air yang makin terbatas dan musim tanam yang makin sempit.

Di hadapan peserta workshop, Adang memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan analisis historis, awal musim kemarau di Indonesia cenderung semakin maju, sementara awal musim hujan justru makin mundur. Pola ini membuat durasi musim hujan terus menyusut dari tahun ke tahun.

Dalam proyeksi jangka panjang periode 2020–2049, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami pengurangan panjang musim hujan sekitar 10 hingga 20 hari.

Di beberapa daerah, pengurangan bahkan bisa lebih dari 20 hari. Secara sederhana, ini berarti “jatah” hujan yang selama ini menjadi penopang pertanian berkurang hampir satu bulan.

Kondisi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di lapangan, dampaknya sangat nyata. Waktu tanam menjadi lebih sempit, risiko keterlambatan tanam meningkat, dan potensi penurunan produksi pun makin besar. Dalam situasi seperti ini, ketergantungan petani terhadap hujan menjadi semakin berisiko.

Adang menegaskan bahwa perubahan kecil dalam pola musim bisa berdampak besar pada ketahanan pangan nasional. Apalagi Indonesia masih sangat bergantung pada sistem pertanian berbasis hujan di banyak wilayah.

Dari sisi pemetaan nasional, BRMP mencatat bahwa Indonesia memiliki lebih dari 7 juta hektare lahan baku sawah. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,3 juta hektare atau 87 persen masih berada dalam kategori kondisi normal. Namun, sekitar 9 persen masuk kategori agak kering, 2 persen kering, dan sekitar 1 persen sudah berada dalam kondisi sangat kering.

Sekilas angka 1 persen mungkin terlihat kecil, tetapi secara spasial, wilayah ini sering berada di sentra produksi pangan strategis. Artinya, sedikit gangguan saja bisa berdampak pada suplai beras nasional.

Sejumlah wilayah seperti Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur disebut memiliki titik-titik rawan kekeringan yang perlu diwaspadai. Bahkan di beberapa daerah, musim kemarau diprediksi mulai datang lebih awal, yakni sejak April hingga Mei 2026.

Di tengah kondisi ini, isu El Nino 2026 juga menjadi perhatian. Berdasarkan pembaruan data iklim global, kondisi ENSO diperkirakan berada dalam fase netral pada awal tahun 2026, namun mulai menunjukkan kecenderungan menuju El Nino lemah pada semester kedua.

Sejumlah model iklim dunia memperkuat sinyal tersebut. Model NMME dari Amerika Utara, lembaga klimatologi Jepang, Australia, hingga NOAA menunjukkan pola serupa, yaitu pergeseran dari kondisi netral menuju El Nino lemah di paruh kedua tahun 2026. Meski intensitasnya diprediksi tidak kuat, dampaknya tetap berpotensi menurunkan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

El Nino lemah sekalipun tetap bisa memperpanjang musim kering, mempercepat kekurangan air tanah, dan mengganggu jadwal tanam petani. Dalam konteks ini, kekeringan menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap remeh.

Berbeda dengan banjir atau longsor yang dampaknya terlihat langsung, kekeringan bersifat perlahan dan akumulatif. Kondisi ini membuat banyak petani sering terlambat menyadari dampaknya hingga akhirnya produksi sudah terlanjur turun.

BRMP menjelaskan bahwa kekeringan bisa terjadi dalam beberapa tahap, mulai dari kekeringan meteorologis yang ditandai berkurangnya curah hujan, hingga kekeringan pertanian yang langsung mempengaruhi kelembaban tanah dan pertumbuhan tanaman. Jika berlanjut, kondisi ini bisa masuk ke tahap hidrologis, di mana sumber air seperti sungai, waduk, dan danau mulai menyusut drastis.

Di tahap paling ekstrem, kekeringan bahkan bisa berdampak pada aspek sosial ekonomi, termasuk penurunan pendapatan petani, kenaikan harga pangan, hingga gangguan distribusi air bersih.

Smart Irrigation

Menghadapi tantangan ini, BRMP mendorong transformasi besar dalam sistem pengelolaan air pertanian. Salah satu inovasi yang kini menjadi sorotan utama adalah smart irrigation atau irigasi pintar berbasis teknologi digital.

Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan sensor kelembaban tanah yang dipasang di lahan pertanian. Sensor tersebut akan membaca kondisi tanah secara real-time. Ketika kadar air di dalam tanah menurun di bawah batas tertentu, sistem akan mengirim sinyal otomatis untuk mengaktifkan pompa air.

Yang menarik, seluruh proses ini bisa dikendalikan melalui perangkat berbasis Android. Petani tidak perlu lagi mengandalkan perkiraan manual atau menunggu tanaman terlihat layu. Semua berbasis data dan otomatisasi.

Teknologi ini dinilai sangat relevan di tengah kondisi iklim yang semakin tidak menentu. Dengan sistem irigasi pintar, penggunaan air bisa lebih efisien karena hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman, bukan berdasarkan jadwal tetap yang sering tidak sesuai kondisi lapangan.

Selain smart irrigation, BRMP juga mengembangkan konsep panen air sebagai strategi utama menghadapi kekeringan. Konsep ini sederhana namun efektif, yaitu menampung air hujan saat musim basah, lalu menyimpannya untuk digunakan saat musim kemarau.

Infrastruktur yang digunakan meliputi embung, dam parit, sumur dangkal, sumur dalam, hingga sistem pompanisasi. Setiap jenis infrastruktur dipilih berdasarkan kondisi geografis dan hidrogeologi wilayah.

Untuk menentukan jenis infrastruktur yang tepat, BRMP juga mengacu pada standar teknis seperti SNI 930:2023. Misalnya, wilayah dengan air tanah dangkal dan kapasitas lahan kecil lebih cocok menggunakan sumur dangkal, sementara wilayah dengan akuifer dalam dapat dikembangkan menjadi sumur bor dalam. Sementara daerah yang dekat sungai besar lebih cocok menggunakan sistem pompanisasi.

Pendekatan berbasis data ini memungkinkan pembangunan irigasi menjadi lebih tepat sasaran, tidak lagi seragam, tetapi sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

Selain itu, BRMP juga mengembangkan sistem peta digital yang dapat menunjukkan lokasi paling cocok untuk infrastruktur panen air. Warna peta digunakan sebagai indikator, mulai dari hijau untuk sumur dangkal, kuning untuk embung, hingga merah untuk dam parit. Sistem ini bahkan dapat diakses secara daring dan digunakan sebagai dasar pengajuan bantuan ke pemerintah.

Tidak hanya fokus pada teknologi, strategi adaptasi juga mencakup perubahan pola tanam, percepatan waktu tanam, penggunaan varietas tahan kering, serta konservasi tanah dan air. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menyeluruh untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah tekanan iklim.

Di akhir pemaparannya, Adang Hamdani menegaskan bahwa adaptasi adalah kunci utama. Menurutnya, petani tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola lama, tetapi harus mulai beralih ke sistem pertanian berbasis data dan teknologi.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita beradaptasi. Smart irrigation, panen air, dan pemetaan iklim bukan lagi pilihan tambahan, tapi sudah menjadi kebutuhan utama,” ujarnya.

Dengan semakin tidak menentunya pola iklim, transformasi menuju pertanian berbasis teknologi menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia di masa depan.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018