Saturday, 08 August 2026


PM-AAS Andalkan Proteksi Tanaman Terpadu untuk Kejar Panen di Atas 10 Ton

09 Jul 2026, 10:55 WIBEditor : Gesha

PM-AAS mengandalkan proteksi tanaman terpadu sejak benih hingga panen untuk menekan OPT, meningkatkan produktivitas, dan mengejar hasil di atas 10 ton.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- PM-AAS mengandalkan proteksi tanaman terpadu sejak benih hingga panen untuk menekan OPT, meningkatkan produktivitas, dan mengejar hasil di atas 10 ton.

Keberhasilan sistem Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS) tidak hanya ditentukan oleh penggunaan metode tanam benih langsung (Tabela) modern. Setelah benih ditanam, keberhasilan panen justru sangat bergantung pada kemampuan petani menjaga populasi tanaman tetap utuh melalui penerapan proteksi tanaman terpadu sejak awal pertumbuhan.

Konsep tersebut menjadi salah satu pilar utama PM-AAS yang dikembangkan untuk mendorong produktivitas padi hingga melampaui 10 ton gabah per hektare. Sistem ini mengombinasikan penggunaan benih unggul, populasi tanaman optimal, mekanisasi, pengelolaan air, pemupukan berimbang, hingga perlindungan tanaman berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Peneliti Pemulia Tanaman dan Bioteknologi Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Padi, Wage Ratna Rohaeni, mengatakan tingginya populasi tanaman dalam PM-AAS harus diimbangi dengan strategi perlindungan tanaman yang dilakukan secara menyeluruh sejak benih belum ditanam.

"Pada PM-AAS populasi tanaman jauh lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional. Karena itu perlindungan tanaman harus dimulai sejak benih sebelum ditanam, bukan menunggu tanaman terserang," ujar Wage.

Menurutnya, semakin tinggi populasi tanaman, semakin besar pula potensi hasil yang dapat diperoleh. Namun, tanpa sistem proteksi yang baik, target populasi tersebut sulit dipertahankan hingga masa panen.

Karena itu, PM-AAS mengedepankan pendekatan preventif dibandingkan pengendalian setelah serangan terjadi. Seluruh tahapan budidaya dirancang agar tanaman tumbuh seragam, sehat, dan mampu memanfaatkan seluruh potensi lahannya secara optimal.

Dalam sistem PM-AAS, perlindungan tanaman bahkan telah dimulai sebelum benih ditebar di lahan. Tahapan ini dikenal sebagai seed treatment atau perlakuan benih yang bertujuan meningkatkan vigor tanaman sekaligus melindungi benih dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) sejak fase awal pertumbuhan.

Berdasarkan buku saku PM-AAS, benih yang digunakan harus memiliki tingkat kemurnian tinggi dengan daya kecambah di atas 80 persen. Benih kemudian direndam selama sekitar 12 jam, dilanjutkan pemeraman selama 12 jam hingga muncul kecambah sekitar satu milimeter sebelum diberikan perlakuan perlindungan tanaman.

Perlakuan tersebut dapat menggunakan kombinasi fungisida, insektisida, maupun bakterisida yang telah terdaftar sesuai rekomendasi. Tujuannya adalah mencegah penyakit yang terbawa benih sekaligus melindungi tanaman muda dari serangan hama pada fase kritis awal pertumbuhan.

BRMP Padi juga merekomendasikan penggunaan karbosulfan sebagai pelapis benih. Selain berfungsi sebagai insektisida, bahan aktif tersebut diketahui tidak disukai burung pipit sehingga mampu mengurangi kehilangan benih akibat serangan burung setelah penanaman.

"Benih adalah fondasi populasi tanaman. Kalau sejak awal banyak benih hilang atau terserang penyakit, target populasi tidak akan tercapai. Karena itu seed treatment menjadi tahapan yang tidak boleh dilewatkan," kata Wage.

Lantas bagaimana cara pengendalian gulma dan airnya? cek selanjutnya...

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018