Saturday, 08 August 2026


InJourney Airports Tanam 20 Ribu Mangrove, Jaga Pesisir Pulau Cangkir dari Abrasi

13 Jul 2026, 22:56 WIBEditor : Herman

Penanaman Mangrove di Pesisir Pulau Cangkir

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang --- Upaya menjaga kelestarian ekosistem pesisir terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. InJourney Airports kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan dengan mengadopsi 20.000 bibit mangrove di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Kamis (9/7).

Program bertajuk "Jaga Biru Pulau Cangkir, Soekarno-Hatta Adopsi 20.000 Pohon Mangrove" tersebut merupakan bagian dari Program InJourney Airports Alam Lestari–Konservasi Mangrove sekaligus mendukung Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan bersama MAPUCA (Mangrove Pulau Cangkir) sebagai mitra konservasi mangrove yang selama ini aktif melakukan rehabilitasi kawasan pesisir. Kegiatan juga melibatkan sekitar 50 peserta dari unsur pemerintah daerah, organisasi lingkungan, mahasiswa, pelajar, komunitas, hingga masyarakat setempat.

Assistant Deputy Corporate Social Responsibility & General Services InJourney Airports, I Wayan Widana, mengatakan pelestarian lingkungan menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, Pulau Cangkir dipilih karena merupakan kawasan mangrove yang letaknya paling dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sehingga memiliki fungsi ekologis yang penting untuk terus dijaga.

"Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir," ujarnya.

Ia berharap program adopsi mangrove tersebut mampu menjaga kawasan pesisir tetap hijau, memperkuat fungsi ekologis, sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya konservasi lingkungan.

Kurangi Abrasi, Serap Karbon

Sebanyak 20.000 bibit mangrove akan ditanam secara bertahap. Pada pelaksanaan perdana dilakukan penanaman simbolis sebanyak 1.000 bibit, sedangkan sisanya akan dilanjutkan oleh tim relawan bersama MAPUCA hingga seluruh target tercapai.

Keberadaan mangrove dinilai memiliki manfaat besar bagi wilayah pesisir. Selain menjadi benteng alami dalam mengurangi abrasi pantai, mangrove juga berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem, menjadi habitat berbagai biota, serta berperan sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang efektif dalam mendukung mitigasi perubahan iklim.

Perwakilan MAPUCA, H. Makdis Ashari, menjelaskan penanaman dilakukan menggunakan metode green belt dan pola paritan yang disesuaikan dengan kondisi pesisir Pulau Cangkir. Bibit yang ditanam berasal dari tiga jenis mangrove dari genus Rhizophora yang dinilai memiliki tingkat adaptasi tinggi terhadap kondisi setempat.

Menurutnya, Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman, tetapi juga melalui pemeliharaan secara berkelanjutan.

 

"Pemeliharaan dilakukan minimal selama satu tahun melalui penyulaman bibit yang mati, penyiangan gulma, pembumbunan, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman agar tingkat keberhasilannya tetap tinggi," jelasnya.

Sinergi Lestarikan Pesisir

Usai penyampaian arahan teknis, seluruh peserta bersama-sama menanam mangrove di area yang telah ditentukan. Kegiatan berlangsung penuh semangat sebagai wujud sinergi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi lingkungan, akademisi, pelajar, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Melalui program ini, rehabilitasi mangrove di Pulau Cangkir diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan kawasan pantai dari ancaman abrasi, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati, meningkatkan kualitas lingkungan pesisir, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa mangrove merupakan benteng alami yang memiliki peran penting bagi kehidupan dan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.

Kolaborasi seperti ini menjadi contoh bahwa upaya pelestarian lingkungan akan memberikan hasil yang lebih optimal ketika dilakukan secara gotong royong oleh pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat.

 

 

 

Reporter : Salwa Salsabila
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018