
Polbangtan Bogor membawa teknologi drone seeder dalam GERTAM PM-AAS di Jambi untuk mendukung percepatan tanam dan meningkatkan efisiensi budidaya padi.
TABLOIDSINARTANI.COM, Muaro Jambi – Polbangtan Bogor membawa teknologi drone seeder dalam GERTAM PM-AAS di Jambi untuk mendukung percepatan tanam dan meningkatkan efisiensi budidaya padi.
Cara menanam padi di Jambi mulai memasuki babak baru.
Dalam Gerakan Tanam Serentak (GERTAM) Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Muaro Jambi, 8 September, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor membawa teknologi drone seeder untuk menebarkan benih padi langsung dari udara.
Inovasi ini menjadi salah satu langkah menuju budidaya padi yang lebih cepat, efisien, dan berbasis mekanisasi.
Kehadiran drone seeder menarik perhatian karena proses penebaran benih tidak lagi sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia.
Dengan memanfaatkan teknologi udara, benih dapat disebarkan di area persawahan secara lebih praktis.
Penerapan teknologi ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan metode pertanian modern kepada petani sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pangan.
GERTAM PM-AAS sendiri merupakan bagian dari penerapan sistem pertanian yang mengintegrasikan teknik budidaya, mekanisasi, dan teknologi dalam satu rangkaian produksi.
Pendekatan ini tidak hanya menyasar percepatan tanam, tetapi juga efisiensi pengelolaan lahan sejak persiapan hingga panen.
Dalam sistem tersebut, berbagai peralatan modern memiliki peran berbeda.
Traktor dan rotary digunakan untuk membantu pengolahan tanah, sedangkan drone dapat dimanfaatkan untuk penebaran benih maupun aplikasi sarana produksi sesuai kebutuhan budidaya.
Pada tahap panen, combine harvester membantu mempercepat pekerjaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada proses manual.
Penerapan mekanisasi terintegrasi ini diharapkan mampu mendorong perubahan cara kerja di persawahan.
Produktivitas yang selama ini berada pada kisaran 5–6 ton per hektare ditargetkan meningkat menjadi sekitar 10–13 ton per hektare melalui penerapan PM-AAS.
Angka tersebut merupakan target sistem budidaya yang dikembangkan, bukan hasil panen yang otomatis diperoleh dari penggunaan drone seeder semata.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya modernisasi pertanian untuk mendongkrak hasil produksi dan efisiensi usaha tani.
Menurutnya, penerapan PM-AAS menggabungkan pendekatan dari sejumlah negara dengan penyesuaian terhadap kondisi pertanian Indonesia.
“Itu produksinya bisa naik dua kali lipat. PM-AAS itu kombinasi antara metode Amerika, metode Indonesia, dan metode China. Itu kami teliti langsung. Produksinya bisa 12 ton atau katakanlah 10 ton per hektare,” ujarnya.
Selain dukungan teknologi, penguatan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar modernisasi pertanian berjalan optimal.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa transformasi pertanian harus dibarengi peningkatan kapasitas penyuluh dan pelaku usaha tani.
“Yang kita bangun bukan hanya percepatan tanam, tetapi juga budaya inovasi. Penyuluh menjadi ujung tombak transformasi pertanian dengan menghadirkan solusi yang adaptif sesuai kondisi wilayah,” ujarnya.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, menegaskan keterlibatan kampus vokasi pertanian dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi pertanian.
Menurutnya, perguruan tinggi vokasi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori.
Lembaga pendidikan juga perlu terlibat dalam penerapan inovasi di lapangan agar calon tenaga profesional pertanian memahami kebutuhan dan tantangan nyata sektor pertanian.
“Inilah yang akan mempercepat terwujudnya swasembada pangan sekaligus mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Yoyon.
Penggunaan drone seeder di Muaro Jambi memperlihatkan bagaimana teknologi mulai mengambil peran dalam tahapan penting budidaya padi.
Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, ketepatan pengaturan penebaran benih, keterampilan operator, serta pengelolaan tanaman setelah tanam.
Dengan dukungan mekanisasi dan peningkatan kompetensi petani, GERTAM PM-AAS diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat produksi pangan.
Bagi Polbangtan Bogor, keterlibatan ini sekaligus menunjukkan peran pendidikan vokasi dalam membawa inovasi dari lingkungan pembelajaran menuju penerapan langsung di lapangan.


