Wednesday, 04 November 2026


Biochar dan Limbah Ternak Bisa Ubah Cara Bertani di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

04 Nov 2026, 13:53 WIBEditor : Gesha

Biochar dan limbah ternak berpotensi menyuburkan tanah, mengurangi emisi, dan membantu petani menghadapi perubahan iklim lewat pertanian berkelanjutan

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang Selatan – Biochar dan limbah ternak berpotensi menyuburkan tanah, mengurangi emisi, dan membantu petani menghadapi perubahan iklim lewat pertanian berkelanjutan.

Ancaman perubahan iklim menuntut sektor pertanian Indonesia melakukan perubahan dalam sistem produksi.

Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, penurunan kesuburan tanah, hingga meningkatnya limbah pertanian dan peternakan menjadi persoalan yang perlu ditangani melalui pendekatan lebih berkelanjutan.

Salah satu peluang yang mulai mendapat perhatian adalah pemanfaatan biochar dan pengolahan limbah peternakan menjadi sumber daya produktif.

Selain membantu memperbaiki kondisi tanah, pendekatan ini dinilai mampu mengurangi emisi karbon sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi petani dan peternak.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Nusantara AgriFuture Summit yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Rabu (4/11/2026).

Forum ini merupakan bagian dari rangkaian Nusantara Livestock and Poultry Expo serta Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH) 2026.

Executive Director Asosiasi Biochar Indonesia International (ABII), Phil Rickard, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan industri biochar karena didukung ketersediaan limbah biomassa pertanian yang melimpah. Bahan baku tersebut dapat berasal dari berbagai komoditas, seperti kelapa sawit, padi, kelapa, hingga limbah perkebunan lainnya.

Menurut Phil, biochar memiliki dua manfaat utama yang dapat dikembangkan secara bersamaan, yakni mendukung produktivitas pertanian dan membangun ekosistem perdagangan karbon.

Biochar merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pemanasan biomassa dalam kondisi oksigen terbatas atau pirolisis.

Proses pengolahannya dapat dilakukan pada suhu sekitar 400–600 derajat Celsius menggunakan teknologi sederhana maupun instalasi berskala industri.

Hasilnya berupa material berpori yang dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah.

Ketika diaplikasikan ke lahan pertanian, biochar berpotensi memperbaiki karakteristik tanah sekaligus membantu menyimpan karbon dalam jangka panjang.

"Biochar itu sebenarnya bahan organik dari limbah pertanian yang kita proses menjadi karbon. Karbon tersebut memiliki pori-pori dan bisa dimasukkan ke dalam tanah untuk membantu pertanian," kata Phil.

Ia menjelaskan, pengembangan biochar di Indonesia mulai dibangun lebih serius sejak sekitar tiga tahun lalu melalui pembentukan ABII. Asosiasi tersebut bertujuan memperkenalkan biochar kepada masyarakat sekaligus menciptakan ekosistem bisnis yang melibatkan petani, pelaku industri, akademisi, dan pemerintah.

Phil menilai pengembangan industri ini tidak boleh hanya dinikmati perusahaan besar. Petani kecil dan pelaku usaha berskala mikro juga harus mendapatkan kesempatan untuk terlibat, mulai dari penyediaan bahan baku biomassa hingga produksi biochar.

Peluang tersebut semakin terbuka seiring berkembangnya pasar karbon sukarela atau voluntary carbon market. Menurut Phil, biochar dapat menghasilkan kredit penghilangan karbon dioksida atau carbon dioxide removal (CDR) yang berpotensi diperdagangkan di pasar internasional.

Dengan mekanisme tersebut, pengolahan limbah pertanian tidak hanya menghasilkan produk untuk memperbaiki tanah, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi melalui perdagangan kredit karbon.

Ia mengungkapkan, perkembangan metodologi kredit karbon untuk skala mikro menjadi kabar baik bagi petani dan industri kecil yang ingin masuk ke bisnis tersebut. ABII juga mendorong kesiapan ekosistem agar pemanfaatan biomassa dapat berkembang menjadi industri yang terbuka bagi berbagai skala usaha.

Di sisi lain, pemanfaatan limbah untuk memperbaiki lingkungan pertanian juga dapat dilakukan melalui sektor peternakan.

Direktur Hilirisasi Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, drh. Makmun, mengatakan keberlanjutan peternakan harus dibangun melalui tiga aspek, yaitu penerapan pengetahuan dan teknologi, perbaikan lingkungan, serta peningkatan nilai ekonomi bagi seluruh pelaku usaha.

Menurutnya, kotoran ternak yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah sebenarnya merupakan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan benar.

Makmun mencontohkan, seekor sapi dapat menghasilkan sekitar 30 kilogram kotoran setiap hari. Jika dikumpulkan dan diolah dengan baik, limbah tersebut dapat menjadi bahan baku pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman.

"Di peternakan sebenarnya ada emas hitam, yaitu kotoran ternak itu sendiri. Kalau diolah dengan baik, bisa menjadi pupuk yang sangat bermanfaat bagi berbagai tanaman," ujarnya.

Pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk organik juga dapat membentuk hubungan yang saling menguntungkan antara sektor pertanian dan peternakan. Tanaman menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pakan, sementara peternakan menghasilkan pupuk organik untuk mengembalikan unsur hara ke lahan.

Dengan demikian, limbah dari satu kegiatan usaha dapat menjadi sumber daya bagi kegiatan usaha lainnya. Pola ini menjadi bagian penting dari penerapan ekonomi sirkular di sektor pertanian.

Makmun menambahkan, pemerintah tengah menyelesaikan rancangan Peraturan Menteri Pertanian mengenai pengurangan emisi karbon. Melalui kebijakan tersebut, pengolahan limbah peternakan diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi peternak.

Menurutnya, pengurangan emisi dari pengelolaan kotoran ternak berpotensi dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru apabila mekanisme penghitungan dan pengakuan nilai pengurangan emisinya telah tersedia.

Ia juga menyoroti peluang integrasi sapi dengan perkebunan kelapa sawit. Indonesia memiliki lebih dari 16 juta hektare perkebunan sawit yang dapat menjadi salah satu basis pengembangan peternakan sapi potong.

Dengan asumsi pemanfaatan sekitar 20–25 persen kawasan perkebunan dan rasio dua hektare untuk satu ekor sapi, integrasi tersebut dinilai dapat membantu memperkuat produksi daging nasional.

Sistem ini tidak hanya menyediakan ruang pemeliharaan ternak, tetapi juga memungkinkan pemanfaatan biomassa sawit sebagai sumber pakan. Sementara itu, kotoran sapi dapat dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dari luar.

Makmun menyebut pemanfaatan hasil samping sawit untuk substitusi bahan pakan impor saat ini telah mencapai sekitar 5–7 persen. Angka tersebut masih berpeluang ditingkatkan melalui pengembangan teknologi pengolahan dan penelitian lebih lanjut.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bidang Litbang dan Kajian Strategis, Prof. Bayu Dwi, menjelaskan bahwa pemanfaatan biochar merupakan bagian dari penerapan climate smart agriculture atau pertanian cerdas iklim.

Menurutnya, pertanian cerdas iklim merupakan pendekatan terpadu yang bertujuan meningkatkan produktivitas, memperkuat kemampuan petani menghadapi perubahan iklim, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Bayu menegaskan biochar bukan pupuk, melainkan pembenah tanah yang dapat membantu memperbaiki kondisi fisik dan biologis lahan.

Ia memaparkan, sejumlah kajian menunjukkan penggunaan biochar berpotensi meningkatkan porositas tanah hingga 20 persen dan menurunkan kepadatan tanah hingga 15 persen. Material tersebut juga membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan unsur hara sehingga tidak mudah hilang akibat pencucian.

Selain itu, struktur berpori pada biochar dapat menjadi habitat bagi mikroorganisme tanah. Keberadaan mikroorganisme tersebut penting untuk mendukung aktivitas biologis dan siklus unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Bahan baku biochar juga cukup beragam. Selain sekam dan jerami padi, material tersebut dapat diproduksi dari tandan kosong kelapa sawit, tongkol jagung, limbah kakao, serbuk gergaji, batang jagung, dan limbah kelapa.

Bayu menyebut sejumlah studi kasus pemanfaatan biochar dari tandan kosong kelapa sawit di Riau dan Kalimantan menunjukkan potensi peningkatan produktivitas sekitar 10–15 persen serta penurunan penggunaan pupuk kimia sekitar 20 persen.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hasil pemanfaatan biochar tidak selalu sama di setiap wilayah. Karakteristik tanah, kondisi lingkungan, jenis tanaman, dan kualitas biochar menjadi faktor yang memengaruhi hasil penerapannya.

Karena itu, pengembangan biochar masih membutuhkan penelitian jangka panjang di berbagai jenis lahan pertanian Indonesia. Sosialisasi kepada petani, penyediaan teknologi pirolisis, standardisasi kualitas biochar, serta dukungan kebijakan juga perlu diperkuat.

Bayu turut mendorong penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau dampak penggunaan biochar terhadap kondisi tanah. Melalui teknologi tersebut, petani dapat membandingkan kondisi lahan sebelum dan sesudah aplikasi, mulai dari perubahan pH, kelembapan, hingga perkembangan produktivitas tanaman.

Menurutnya, penggabungan biochar dengan teknologi pertanian modern akan membantu petani mengambil keputusan berdasarkan kondisi lahan dan data yang terukur.

Pembahasan dalam Nusantara AgriFuture Summit memperlihatkan bahwa menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi pertanian. Perubahan juga perlu dilakukan dalam cara mengelola tanah, memanfaatkan biomassa, mengolah limbah peternakan, dan membangun hubungan ekonomi antara petani dengan peternak.

Melalui pemanfaatan biochar dan penerapan ekonomi sirkular, limbah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan berpeluang berubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. 

Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, serta mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih produktif dan berkelanjutan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018