
Kepala Badan Litbang Pertanian melakukan ujicoba atabela dengan traktor tangan
TABLOIDSINARTANI.COM, Serpong---Alsintan Atabela kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam paket teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) untuk optimalisasi lahan kering melalui Largo Super.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) pada musim tanam II tahun 2017 lalu mulai memperkenalkan teknologi baru untuk bertanam padi di lahan kering yaitu dengan Largo Super.
Dalam paket teknologi baru ini, beragam teknologi direkomendasikan Balitbang Pertanian sangat cocok untuk digunakan dalam pertanaman lahan kering. Mulai dari penggunaan varietas unggul benih (VUB) seperti Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, dan Inpago 11, penggunaan dekomposer seperti Biodekomposer Agrodeko juga direkomendasikan saat olah tanah, hingga pertanaman dengan alsintan terbaru keluaran Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) yaitu Alat Tanam Benih Langsung (Atabela).
Dengan Atabela, benih padi tumbuh cepat, merata, dan seragam. Pertumbuhannya berbeda dari cara tanam dengan sistem diawur atau ditugal. Penggunaan Atabela akan mempermudah saat pemeliharaan tanaman karena alat sudah didesain untuk larikan gogo. Pada teknologi Largo Super menggunakan penanaman pola legowo 2:1. Jadi antar larikan di sela dengan legowo. Fungsinya untuk memberikan efek pinggiran sehingga mendapat pencahayaan bagus dan lebih intensif sehingga perkembangannya bagus.
Pola tanam larikan gogo (Largo) mempermudah pemeliharaan saat menyiangi rumput karena ada legowonya. Pemupukan juga lebih mudah dan efektif juga karena pupuknya ditaruh di tengah larikan. Selain itu, tingkat kelembaban menjadi lebih rendah sehingga menurunkan perkembangan organisme.
Diakui Alam, permintaan adopsi teknologi ini sudah datang dari berbagai daerah lainnya seperti Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, dan Aceh. “Kami siap jika memang mau melihat datang langsung ke Taman Sains Enjiniring Pertanian (TSEP) di Serpong, atau jika kita dibutuhkan di daerah juga kita siap,” tutur Kepala BBP Mektan, Andi Nur Alamsyah.
Produktivitas Largo
Penerapan teknologi Largo Super ini mampu merekayasa jumlah populasi per hektar dari padi gogo, minimal 200 ribu rumpun. Misalnya saja dengan sistem tanam legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per hektar sebanyak 213.300 rumpun. Jumlah ini lebih meningkat sebanyak 33,31% dibandingkan pola tanam tegel 25 x 25 cm yang hanya 160 ribu rumpun per hektarnya.
Largo Super ini juga sangat tepat untuk pengelolaan di lahan kering terbuka maupun ternaungi tanaman hutan dan perkebunan di Indonesia. Petani padi gogo di Kebumen menggunakan cara tanam pindah atau tugal tidak teratur, hanya memproduksi 4 ton/ha. Sedangkan setelah menggunakan Largo Super, petani kini sudah mampu memproduksi 10 ton/ha.
Saat ini, lahan kering seluas 35 ha telah ditanami beberapa varietas unggul baru padi gogo dengan sistem tanam larikan gogo legowo 2:1 dan akan diperluas menjadi 100 ha baik untuk lahan terbuka maupun tegakan tumpangsari dengan kelapa. (gsh/Lis/bbpmektan)