Kamis, 15 November 2018


Penelitian BBLitvet Dukung Pencegahan Zoonosis

06 Nov 2018, 12:39 WIBEditor : Gesha

Kepala BB Litvet Menyerahkan Plakat ke Sekretaris Badan Litbang Pertanian di Acara Workshop and Training on Emerging and Re-emerging Zoonotic Diseases in Indonesia di Bogor,

Mencegah Lebih Baik daripada mengobati

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Penyakit yang ditularkan oleh hewan atau yang biasa disebut penyakit zoonosis mengancam kehidupan manusia apabila tidak ditangani dengan baik. Agar penyakit zoonosis dapat dikendalikan, Kementerian Pertanian (Kemetan) menugaskan Balai Besar Veteriner Pertanian (BB Litvet) untuk mengawasi serta mencegah agar tidak mewabah ke manusia.

Sepanjang sejarahnya selama 110 tahun, BB Litvet yang merupakan UPT eselon IIb di bawah Badan Litbang Pertanian telah berperan aktif dalam pembangunan nasional khususnya pembangunan peternakan bidang veteriner.

Peran aktif BB Litvet tersebut umumnya dalam bentuk pemberantasan, pengendalian dan pengawasan penyakit hewan; penyediaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) veteriner; konservasi dan optimalisasi sumber daya alam lokal; serta penyediaan data epidemiologi penyakit hewan termasuk emerging dan re-emerging diseases.

Sekretaris Badan Litbang Pertanian, M. Prama Yufdi mengatakan penelitian BB Litvet mengenai penyakit zoonosis memang sangat penting dilakukan. Selain dapat mencegah dan men-Stop penyebaran ke manusia dan hewan lainnya, produk hewan yang dihasilkan sehat dan aman dikonsumsi.

"Yang menjadi peran utamanya adalah agar penyakit zoonosis tersebut tidak menular ke manusia. Sehingga kita harus bisa menghasilkan produk hewani yang aman untuk dikonsumsi," katanya saat  saat Workshop and Training on Emerging and Re-emerging Zoonotic Diseases in Indonesia di Bogor, Senin (5/11).

Menurut Kepala BB Litvet, NLP Indi Dharmayanti, BB Litvet merupakan institusi riset yang menghasilkan beberapa metode untuk mengetahui jenis-jenis penyakit pada hewan dan bagaimana

 

pencegahannya agar tidak mewabah ke manusia.

"Jadi begitu ditemukan penyakig baru pada hewan, kami langsung riset. Dari riset ini akan menghasilkan menghasilkan metode dan upaya-upaya pencegaham agar tidak menular secara luas, terutama kepada kehidupan manusia," jelasnya.

Dalam workshop ini memang yang ditekankan adalah masalah penyakit emerging dan re-emerging (emerging dan re-emerging disease).

Emerging Disease merupakan infeksi yang baru muncul dalam sebuah populasi dan meningkat secara cepat dalam sebuah wilayah geografis.

Re-emerging disease adalah infeksi yang muncul kembali setelah terjadi penurunan yang signifikan atau infeksi yang pernah ada sebelumnya dan sekarang muncul kembali dengan peningkatan yang cepat.

"Seperti Avian Influenza (AI/flu burung) awalanya datang ke Indonesia tahun 2004, lalu kita temukan vaksinnya. Hilang kasusnya. Itu kita namakan emerging disease. Kemudian muncul lagi, tetapi dengan jenis yang berbeda dan tidak bisa ditanggulagi dengam vaksin yang baru. Virusnya bermutasi. Makanya diciptakanlah vaksin baru. Nah, ini yang dinamakan re-emerging disease," jelas Indi.

Informasi penyakit-penyakit penting terutama yang bersifat zoonosis baik yang belum pernah dilaporkan informasi penyakit tersebut atau yang sudah diketahui, sangat penting untuk diketahui oleh pihak-pihak tertentu yang terkait dalam rangka untuk ikut serta dalam pencegahan dan penanggulangannya.

"BB Litvet yang sebagai instansi yang meneliti mengenai penyakit zoonosis akan menciptakan beberapa penanggulangannya. Baik berupa vaksin, obat, metode, dan masih banyak lainnya. Dengan demikian penyakit zoonosis dapat dikendalikan agar tidak mewabah ke manusia atau hewan yang belum/tidak terinfeksi," ujar Indi.

Dalam mendukung penelitian mengenai penyakit zoonosis, bukan hanya SDM saja yang dipersiapkan, melainkan dukungan peralatan yang lengkap dan fasilitas laboratorium seperti laboratorium bioteknologi, laboratorium BSL3 zoonosis, dan laboratorium BSL3 moduler yang tidak semua institusi memilikinya dan fasilitas pendukung lainnya sangat menunjang dalam pelaksanaan penelitian emerging dan re-emerging zoonotic diseases di Indonesia.

Dengan hasil-hasil penelitian tersebut, tentu dapat dikomersilkan. Misalnya teknologi vaksin untuk penyakit-penyakit hewan strategis telah dihasilkan dan dikerjasamakan dengan pihak swasta (perusahaan) untuk diproduksi dalam skala besar dalam bentuk lisensi dan rahasia dagang agar bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

Contohnya adalah vaksin Avian Influenza (Flu Burung) untuk unggas, vaksin penyakit Tetelo (Newcastle Disease) untuk unggas,  Vaksin Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) untuk mencegah penyakit keguguran pada sapi, vaksinVTEC untuk menekan angka kematian anak sapi, dan vaksin ETEC untuk menekan angka kematian anak babi.

Dan beberapa teknologi lainnya yang sudah siap untuk dikerjasamakan dengan pihak swasta. Teknologi veteriner yang dihasilkan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya sasaran strategis pembangunan pertanian khususnya bidang peternakan.

 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018