Wednesday, 15 July 2026


Memperluas Inovasi Instore Drying untuk Bawang Merah di Solok

12 Nov 2018, 15:25 WIBEditor : Gesha

Peserta workshop Instore Drying di Solok

Bawang Merah semakin kering dengan Instore Drying

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok ---- Permasalahan  utama penanganan pascapanen bawang merah di Indonesia adalah produknya yang mudah rusak serta penanganan pascapanen yang masih perlu diperbaiki. Petani bawang merah di Solok, Sumatera Barat mulai mendapatkan informasi lengkap tentang inovasi Instore Drying (ID) dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen).

Komoditas bawang merah hingga sekarang masih menjadi penyumbang terjadinya inflasi di Indonesia karena menjadi salah satu produk yang selalu dibutuhkan oleh hampir seluruh rumah tangga Indonesia. Tercatat, konsumsi perkapita mencapai 2. 77 kg/kapita/tahun hanya untuk bawang merah saja.

Namun di sisi hulu, petani masih merasakan kesulitan dalam mengeringkan bawang merah terutama saat memasuki musim penghujan. Titik kritis dari penanganan pascapanen bawang adalah pada tahap pelayuan (curing). Banyak cara yang biasa dilakukan petani, sesaat setelah bawang merah dipanen.

Untuk petani di Brebes dan Enrekang, biasanya mereka mulai melakukan proses pelayuan yang dilakukan di lahan-lahan dekat pertanaman. Lain lagi dengan petani di Nganjuk dan Alahan Panjang, membawa bawang hasil panen langsung ke tempat pelayuan yang posisinya di selasar-selasar rumah.

Proses pelayuan ini dibantu oleh sinar matahari, sehingga lama waktu pelayuan hingga bawang merah dianggap aman untuk disimpan (kadar air sekitar 80 persen) memerlukan waktu yang berbeda-beda tergantung cuaca.

Masalah pelayuan menjadi sangat penting ketika panen bawang dilakukan pada musim penghujan atau di daerah dengan musim penghujan yang panjang seperti Alahan Panjang. Dengan hari hujan lebih dari 300 hari maka proses pelayuan bawang merah memerlukan waktu lebih dari 10 hari.

Namun, BB Pascapanen mempunyai inovasi teknologi Instore Drying (ID) yang terbukti mampu mengurangi terjadinya resiko kerusakan bawang merah akibat proses pelayuan yang terlalu lama dan menyebabkan umbi  bawang membusuk, tumbuhnya tunas dan tumbuhnya akar pada umbi bawang.

Kabupaten Solok khususnya Alahan Panjang yang merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia, dan penghasil uatama bawang merah di Sumatera saat ini sudah memiliki 1 bangunan ID percontohan serta 5 replikasinya. Pelayuan bawang merah dengan ID mampu mengurangi waktu pelayuan menjadi 4-5 hari saja.

Perluasan Sosialisasi

Untuk memperluas penggunaan inovasi ID tersebut, BB Pascapanen bersama Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) menggelar kegiatan Workshop yang diadakan di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Senin (12/11).

Workshop tersebut dihadiri oleh lebih kurang 40 petani, dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Admaizon.  Dari pihak AFACI hadir Dr. Kim Ji Gang yang merupakan Direktur Asia Postharvest Center beserta salah seorang penelitinya yaitu Dr. Lee Jung So.  Hadir pula para peneliti BB Pascapanen, para penyuluh,  petani, kelompok tani bawang yang ada di Kabupaten Solok.

Untuk diketahui, Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) mupakan program yang digagas oleh Pemerintah Korea Selatan dalam upaya membantu negara negara sedang berkembang untuk mengimplementasikan teknologi pengolahan pangan dan pertanian dalam upaya peningkatan produksi pertanian yang berwawasan lingkungan. 

Proyek yang sudah digagas sejak 2013 ini sudah banyak membantu petani di 14 Negara di Asia khususnya Asia Selatan dan Asia Tengah, termasuk Indonesia.

Dalam implementasi program kegiatan AFACI di Indonesia, pihak Rural Development Administration (RDA) Korea menggandeng Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Khusus untuk kegiatan pascapanen, AFACI yang diwakili oleh Asian Postharvest Center bekerjasama dengan BB Pascapanen.

Sejak tahun 2013, sudah banyak inovasi yang didiseminasikan kepada para petani dalam upaya penanganan pascapanen yang baik untuk menekan kehilangan hasil sekaligus meningkatkan daya saing produk.  Berbagai macam kajian terhadap komoditas strategis telah dilakukan mulai dari tomat, mangga dan cabai, sedangkan  3 tahun terakhir, kajian yang dilakukan adalah tentang pascapanen bawang merah.

Pada Workshop tersebut, Dr. Kim berkenan untuk menyampaikan materi beberapa aspek teknologi penanganan pascapanen pada produk hortikultura.  Pihak AFACI juga berharap model Instore Dryer ini nantinya dapat diimplementasikan di negara Asia atau Afrika untuk komoditas pertanian lainnya seperti bawang putih, bawang merah atau bawang bombai.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok dalam sambutannya mengharapkan agar keberadaan Instore  Dryer ini  dapat dimanfaatkan oleh para petani bawang merah  semaksimal mungkin. Karena dengan keberadaan beberapa  ID di Alahan Panjang ini, petani bawang merah dapat melakukan proses pelayuan  bawangnya setiap waktu, tidak lagi terkendala oleh hujan yang terjadi hampir setiap hari. 

"Dengan waktu pelayuan yang lebih singkat, kualitas bawang akan menjadi lebih baik, losses berkurang  dan harga bawang menjadi lebih tinggi. Petani bawang lebih makmur," harapnya. (SWD/BB Pascapanen)

 

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018