Selasa, 26 Maret 2019


Perubahan Iklim, Pertanian Organik dan Hemat Air Kian Penting

21 Nov 2018, 15:12 WIBEditor : Yulianto

Mantan Menteri Pertanian, Sjarifuddin Baharsjah bersama Deputi Klimatologi BMKG, Herizal | Sumber Foto:Yulianto

Mitigasi dan adaptasi menjadi sangat penting untuk menyiapkan pertanian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Perubahan iklim kini sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Apalagi dampaknya akan berpengaruh terhadap pertanian di Indonesia.

Menteri Pertanian, Sjarifuddin Baharsjah mengatakan, dengan adanya perubahan iklim, maka makin pentingnya pertanian organik dan pertanian hemat air. Selain itu, mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia melalui pemberantasan hama terpadu dan pemupukan organik.

“Mengganti praktek penanaman padi sawah dengan penggenangan lahan dengan sistem “mecek mecek”,” katanya dalam Diskusi Kesiapan Pertanian Menghadapi Perubahan Iklim Global yang berlangsung di Kantor Tabloid Sinar Tani, Jakarta, Rabu (21/11).

Menurut Sjarifuddin, dengan perubahan iklim mitigasi dan adaptasi menjadi sangat penting untuk menyiapkan pertanian. Pasalnya, perubahan temperatur dan presipitasi akan mempengaruhi lahan layak pakai untuk pertanaman.

Selain itu juga reduksi runoff dan recharge air tanah yang mempengaruhi debit air sungai dan aquifers. Dampak lainnya adalah naiknya permukaan laut yang “memakan” kawasan pesisir dan dan makin meluasnya intrusi air laut.

Jadi tegasnya, tidak cukup dengan tindakan mitigasi hanya pada permukaan, upayanya harus mendasar. Yakni, perubahan pola pertanian yang meliputi lahan beririgasi, lahan tadah hujan, lahan kering, lahan pesisir, lahan rawa, lahan gambut. Perubahan pilihan crop mono kultur, tumpang sari termasuk dengan tanaman keras, ternak dan ikan untuk ketahanan terhadap perubahan iklim

Menurutnya, saat ini ada peluang sangat baik untuk peningkatan konsumsi produk lokal mengingat pergeseran pola konsumsi ke pangan olahan, termasuk yang diolah dari produk lokal bukan beras. Pergeseran arah pola konsumsi ini dapat mengurangi tekanan pada padi/beras dan membantu ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim global. “Karena itu apabila diprogramkan dengan baik, juga menaikan kesejahteraan petani,” katanya.  

Deputi Klimatologi BMKG, Herizal mengatakan, dampak perubahan iklim dalam 15 tahun terakhir tercatat tren peningkatan kejadian bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung sangat nyata. “Perubahan telah iklim meningkatkan risiko kejadian iklim ektrim pada masa masa sekarang,” katanya.

Untuk membantu petani mengantisipasi perubahan iklim, pihaknya membuat kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI). SLI adalah salah satu kontribusi BMKG untuk mendukung program Global Framework for Climate Services.

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Yuli
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018